DARI PALAGAN AGUNG, GENERASI MERDEKA MENJAWAB PANGGILAN ZAMAN

Dari Palagan Agung, Generasi Merdeka Menjawab Panggilan Zaman

Upacara HUT Ke-81 Republik Indonesia di Ma’had Al-Zaytun Meneguhkan Kemerdekaan melalui Pendidikan

Oleh: Ali Aminulloh

Tepat pukul 07.00, suara komando seorang pelajar memecah keheningan pagi di Arena Olahraga Palagan Agung Ma’had Al-Zaytun. Tegas, terukur, dan penuh keyakinan. Di hadapannya, ribuan peserta berdiri dalam barisan yang rapi, sementara Sang Merah Putih bersiap dikibarkan menuju puncak tiang.

Senin, 17 Agustus 2026, pagi itu bukan sekadar peringatan ulang tahun kemerdekaan. Palagan Agung menjelma menjadi ruang pendidikan kebangsaan: tempat sejarah dikenang, pengorbanan dihormati, dan masa depan Indonesia dipersiapkan.

Komandan upacara dipercayakan kepada Khalifa’ Al-Qodri Ramadhon bin Elpiadi, pelajar kelas XI-M-1 asal Serang, Banten. Remaja yang lahir pada 11 September 2009 dan tercatat dalam Koordinator Jakarta Timur itu merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara.

Kepercayaan kepada seorang pelajar untuk memimpin upacara sebesar itu membawa pesan yang kuat: masa depan bangsa tidak hanya sedang dibicarakan di Al-Zaytun, tetapi juga sedang dilatih, dibentuk, dan dipersiapkan.

Upacara peringatan Hari Ulang Tahun Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tersebut dihadiri oleh seluruh sivitas Ma’had Al-Zaytun. Tampak hadir Syaykh Al-Zaytun, Umi Drs. Farida Al-Widad, S.Sos, M.P., para eksponen Yayasan Pesantren Indonesia, dosen, guru, karyawan, pelajar, mahasiswa, ibu-ibu Koperasi Desa Kota Indonesia (KODEKO), wali santri, serta para tamu undangan.


Bertindak sebagai inspektur upacara ialah Dato’ Sir Imam Prawoto, KRSS, MBA, CRBC. Sementara itu, perangkat upacara lainnya diisi oleh unsur sivitas Al-Zaytun. Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dibacakan oleh Ikhwan Triatmo, BIT; Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dibacakan oleh Anis Khoirunnisa, S.Th.I., MAP; dan Nilai-Nilai Dasar Negara Indonesia atau Pancasila dibacakan oleh M. Nurdin A. Tsabit, S.Sos., M.A.P.

Setelah penghormatan kepada para pahlawan, suasana Palagan Agung berubah menjadi hening. Dalam amanatnya, inspektur upacara mengajak seluruh peserta menundukkan kepala, mengenang jasa para pahlawan nasional dan para pejuang pendidikan Al-Zaytun yang telah mendahului.

Keheningan itu seakan membawa seluruh peserta menembus lorong sejarah. Kemerdekaan yang dinikmati hari ini lahir dari keberanian, pengorbanan, air mata, bahkan nyawa para pendahulu bangsa. Namun, perjuangan tidak selesai ketika kemerdekaan diproklamasikan. Setiap generasi memiliki medan perjuangannya sendiri.

“Kemerdekaan tidak hanya kita kenang sebagai peristiwa sejarah. Kemerdekaan adalah amanah bagi setiap generasi untuk menjaga keberlanjutan bangsa melalui pembangunan manusia yang berilmu, terampil, berkarakter, dan mampu beradaptasi terhadap perubahan zaman,” tegas Dato’ Sir Imam Prawoto.

Pesan tersebut menjadi inti peringatan kemerdekaan di Al-Zaytun. Delapan puluh satu tahun setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, perjuangan bangsa tidak lagi hanya berhadapan dengan penjajahan fisik. Tantangan kini hadir dalam bentuk ketertinggalan ilmu pengetahuan, lemahnya karakter, rendahnya keterampilan, perubahan teknologi, persaingan global, dan berbagai persoalan kemanusiaan.

Karena itu, pendidikan ditempatkan sebagai jalan utama untuk mengisi kemerdekaan.

Menurut inspektur upacara, pendidikan tidak cukup menghasilkan manusia yang mengetahui banyak hal. Pendidikan harus melahirkan manusia yang mampu berpikir, bekerja, berkomunikasi, mengambil tanggung jawab, serta hidup secara dinamis di tengah masyarakat nasional maupun antarbangsa.

Ilmu mengajarkan manusia untuk berpikir. Keterampilan melatih manusia untuk bertindak. Adapun karakter memberikan arah agar ilmu dan keterampilan digunakan secara benar, bertanggung jawab, dan memberikan manfaat bagi kehidupan.

Di hadapan para pelajar dan mahasiswa, disampaikan pula pesan agar mereka terus mengembangkan diri secara utuh. Mereka diharapkan menjadi insan yang berakidah kokoh kepada Allah dan ajaran-Nya, menyatu dalam tauhid, berakhlak mulia, berilmu luas, berketerampilan tinggi, serta piawai dalam ilmu dan fisik.

Kemampuan menguasai bahasa-bahasa antarbangsa juga ditekankan. Sebab, generasi Indonesia harus mampu berdiri tegak di tengah masyarakat bangsanya sekaligus berinteraksi secara percaya diri dengan masyarakat dunia.

Arah pendidikan tersebut sejalan dengan risalah Al-Zaytun sebagai pusat pendidikan dan pengembangan budaya toleransi dan perdamaian menuju masyarakat sehat, cerdas, dan manusiawi. Pendidikan diarahkan untuk mewujudkan manusia yang merdeka ruh, merdeka pikir, dan merdeka ilmu.

Toleransi dan perdamaian, dalam amanat itu, tidak boleh berhenti sebagai teori atau slogan. Nilai-nilai tersebut harus hadir dalam sikap menghargai perbedaan, membangun kerja sama, menjaga persatuan, menyelesaikan persoalan secara bijaksana, dan memberikan manfaat kepada masyarakat.

Sekolah, asrama, arena olahraga, tempat ibadah, serta seluruh lingkungan Al-Zaytun merupakan satu kesatuan ekosistem pendidikan. Di dalamnya, peserta didik tidak hanya belajar melalui buku dan ruang kelas. Mereka ditempa melalui kedisiplinan, tanggung jawab, kemandirian, kerja sama, kepemimpinan, serta ketangguhan fisik dan mental.

Penampilan Khalifa’ Al-Qodri Ramadhon sebagai komandan upacara menjadi salah satu gambaran nyata proses pendidikan tersebut. Di usia yang masih muda, ia berdiri memimpin jalannya upacara di hadapan ribuan peserta. Setiap aba-aba yang disampaikannya bukan hanya bagian dari tata upacara, melainkan latihan keberanian, kedisiplinan, dan kepemimpinan.

Pada pukul 07.23, rangkaian pokok upacara berakhir dengan penghormatan kepada inspektur upacara. Sang Merah Putih telah berkibar di langit Palagan Agung. Namun, semangat peringatan belum berakhir.

Suasana khidmat kemudian berganti menjadi semarak. Sebanyak 210 penari yang tergabung dalam Tim Seni Tari Al-Zaytun STAR-Z tampil dalam sebuah tari kreasi Nusantara. Mereka terdiri atas pelajar PAUD, MI, MTs, MA, mahasiswa, dan guru. Melalui gerak, irama, dan warna-warni busana, mereka menggambarkan keindahan Indonesia yang lahir dari keberagaman suku, budaya, tradisi, dan seni.

Seperti para pelangi yang indah karena perpaduan berbagai warna, Nusantara menjadi kuat karena perbedaan yang menyatu dalam harmoni. Gerak para penari menyuarakan semangat Bhinneka Tunggal Ika, persatuan, gotong royong, serta kecintaan generasi muda terhadap tanah air.

Penampilan berikutnya datang dari ibu-ibu KODEKO melalui “Senam Kreasi”. Dengan penuh semangat, mereka turut menyemarakkan peringatan hari kemerdekaan. Penampilan itu memperlihatkan bahwa kemerdekaan dirayakan oleh seluruh generasi—dari anak usia dini, pelajar, mahasiswa, guru, hingga para ibu.

Pagi itu, Palagan Agung bukan sekadar tempat berkumpulnya ribuan orang dengan pakaian upacara. Ia menjadi palagan perjuangan dalam arti baru: medan untuk memerangi kebodohan, membangun karakter, mengembangkan keterampilan, merawat persatuan, dan menyiapkan manusia Indonesia yang tangguh.

Jika dahulu para pahlawan mengangkat senjata untuk merebut kemerdekaan, generasi hari ini harus mengangkat ilmu, keterampilan, disiplin, dan tanggung jawab untuk mempertahankan serta mengisinya.

Dari suara komando seorang pelajar, kibaran Sang Merah Putih, keheningan mengenang para pahlawan, hingga gerak tari anak-anak Nusantara, sebuah pesan menggema dari Palagan Agung: kemerdekaan bukan sekadar warisan untuk dinikmati. Kemerdekaan adalah amanah untuk diteruskan.

Amanat itu kini berada di pundak generasi muda: generasi yang tangguh, terampil, berilmu, berkarakter, serta siap menghadapi berbagai perubahan zaman.

Dirgahayu Ke-81 Republik Indonesia. Merdeka ruhnya, merdeka pikirnya, dan merdeka ilmunya!.**

Indramayu, 17 Agustus 2026
——–

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!