H. AHMAD DHOFIRI DAN PPTQ DARUL FALAH KEPOLO INDRAMAYU, SEBUAH LEGACY KETELADANAN


*H. AHMAD DHOFIRI DAN PPTQ DARUL FALAH KEPOLO INDRAMAYU, SEBUAH LEGACY KETELADANAN*

Oleh : Adlan Daie
Analis politik, Sekretaris Umum MUI Kab Indramayu

H. Ahmad Dhofiri, Komisaris Jenderal (purn) bintang tiga polisi salah satu dari sejumlah tokoh Nasional yang akan hadir dalam puncak rangkaian kolosal Haul KH. Bilal Ilyas ke 43 di PPTQ Darul Falah, Kepolo Singaraja Indramayu, hari Selasa, 18 Agustus 2026.

KH Bilal ilyas, Ayahanda dari KH Syairozi Bilal, beliau saat ini Pengasuh PPTQ Darul Falah Kepolo sekaligus Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) kab Indramayu masa khidmat 2025 – 2030. Karena itu dalam rangkaian Haul tahun 2026 diselipkan pula Harlah MUI ke 51

Tulisan singkat ini tidak dalam konteks mengekspose tentang rangkaian kolosal dua hari penuh acara Haul di atas tetapi tentang makna kehadiran H. Ahmad Dhofiri, dalam momentum Haul KH Bilal ilyas ke 43 di pesantren Kepolo di mana beliau adalah perwira tinggi polisi yang bertumbuh dalam akar sistem sosial keagamaan Indranayu.

Dalam teori antropologi politik Clifford Geetz, nama “Ahmad Dhofiri” adalah nama dari rumpun keluarga “santri” – yang dibedakan oleh Clifford Geetz dengan keluarga “Islam abangan”, biasanya keluarga dengan nama misalnya “Sudiro”, “Moerdiono”, dan lain lain

Meskipun sejak tahun 1990 mulai “cair” pemberian nama oleh keluarga santri maupun keluarga “Islam abangan” tetapi dibaca dari atribusi namanya jelas beliau dibentuk dan bertumbuh dalam ekosistem pernah “ngaji dan tidur” di langgar, surau dan musholla.

Konteks itu untuk menjelaskan bahwa kehadiran H. Ahmad Dhofiri ke pesantren Kepolo lebih dari sekedar kunjungan seorang pejabat, Penasehat khusus Presiden RI bidang keamanan. Ini semacam jalan pulang ke akar kulturalnya, jalan pulang ke ekosistem keagamaanya di Indramayu.

H. Ahmad Dofiri, putera asli Tegalurung, Indramayu tidak lahir dalam asuhan “tontonan” media sosial kekinian, beliau bertumbuh dalam “tuntunan” kearifan lokal dan keteladanan ekosistem sosial yang begitu ketat dipagari norma kultural dan agama.

Beliau adalah profile seorang perwira polisi profesional merangkak dan mendaki dari bawah, karier profesionalnya tidak kontroversial, teguh dalam adab dan etika, jauh dari blok faksi faksi tarikan afiliasi politik, – sesuatu yang bukan perkara gampang saat politik menerobos institusi kepolisian hingga publik menudingnya “partai coklat”.

Sebagai peraih bintang Adi Makayasa, yakni alumni terbaik Akpol angkatan tahun1989. H. Ahmad Dhofiri berperan penting menjaga marwah kepolisian saat beliau berhasil membongkar anasir “obraction of justice”, penghalang penyidikan justru di lingkup institusi polri sendiri, dalam kasus Irjend Ferdy Sambo yang sangat menggebohkan beberapa tahun lalu.

Pesan filosofis yang hendak dikirim dari perjalanannya adalah kemampuan seorang pejabat menggerakkan kewenangan dan pengaruh yang dimilikinya dalam konteks landasan etis adalah kekuatan kearifan dan keteguhan personalitynya

Beliau meletakkan jabatan dalam fungsi pencerahan peradaban dan keadilan publik, beliau “lulus uji” integritas dari godaan dan tarikan tarikan politisasi polri yang tidak sederhana di era Rejim kuasa di mana politik adalah “panglima”.

Karena itu, kita bangga atas peran H. Ahmad Dhofiri diatas, seorang putera Indramayu yang berhasil menyelamatkan citra “buruk” kepolisian yang digerogoti anasir anasir internal kepolisian sendiri. Beliau hadir menjadi penjaga peradaban etik polri mengembalikan marwah polri dari caci maki publik.

Kebanggaan itu tentu makin melapangkan dada publik setidaknya publik Indramayu di mana H. Ahmad Dhofiri membentuk diri dari kearifan lokal sejak dini bertumbuh di dalam nya dalam ekosistem keagamaan yang kuat dan profesionalisme yang tangguh.

Para pejabat di Indramayu baik di lingkup kepolisian maupun ruang birokrasi lainnya penting mengambil jejak keteladanan H. Ahmad Dhofiri di atas, jauh dari sikap arogan, congkak dan menjengkelkan perasaan kolektif publik.

Sejarah kekuasaan politik di Indonesia, bahkan di berbagai belahan dunia, seorang pemimpin yang angkuh dengan otoritas politik yang dimilikinya acapkali cepat jatuh dengan cara “nista” dan publik membantingnya dalam tong sampah peradaban

Di titik inilah penulis memaknai kehadiran H. Ahmad Dhofiri dalam acara Haul KH Bilal ilyas ke 43 tahun 2026, di Kepolo Indramayu, sebuah jalan pulang keteladanan ke Indramayu, kampung halamannya begitu penting untuk menyemai keteladanan dalam ekosistem lingkar pejabat di Indramayu

Di sisi lain, ternyata acara Haul bukan hanya meminta waktu kita sejenak menoleh ke belakang mengenang “legacy” dan warisan jejak para pendahulunya tapi sekaligus peta jalan menuju bentangan jalan masa depan.

Selamat atas kehadiran H. Ahmad Dhofiri. Selamat kepada keluarga besar PPTQ Darul Falah Kepolo Indramayu. Semoga lancar dan berkah.**

Wassalam

Indramayu, 16 Agustus 2026
——-

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!