Milad Syaykh Al-Zaytun: Dari Rekor Dunia Menuju Kepedulian bagi Sesama
Oleh: Ali Aminulloh
(Disarikan dari ungkapan Patrick Winata dan Linda Dewianti, pengagum Syaykh Al-Zaytun)
Sebuah rekor dunia dapat menghadirkan kebanggaan, tetapi nilainya menjadi jauh lebih besar ketika pencapaian itu digunakan untuk membantu orang lain. Ketangguhan fisik tidak lagi berhenti sebagai pertunjukan kemampuan pribadi, melainkan berubah menjadi jalan untuk membangkitkan kepedulian terhadap manusia yang sedang menghadapi penderitaan.
Pesan itulah yang hadir bersama Patrick Winata dan Linda Dewianti dalam rangkaian Peringatan Milad Ke-80 Syaykh Al-Zaytun, Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang, pada Kamis, 30 Juli 2026. Acara tersebut mengusung tema “Menyukuri Pencapaian dan Terus Melangkah Menuju Kemajuan” serta dihadiri keluarga besar Ma’had Al-Zaytun, para pendidik, santri, wali santri, sahabat, dan tamu undangan dari berbagai latar belakang.
Dalam rangkaian penyampaian pesan-pesan Milad, panitia memberikan kesempatan kepada Patrick Winata, yang diperkenalkan sebagai pengagum Syaykh Al-Zaytun. Namun, Linda Dewianti terlebih dahulu mengambil peran untuk memperkenalkan diri dan menyampaikan pesan mewakili keduanya.
Linda menyebut dirinya sebagai perempuan kelahiran Fakfak, Papua Barat. Patrick Winata yang berdiri di sampingnya juga berasal dari Fakfak. Keduanya datang membawa ucapan selamat, penghormatan, dan doa bagi Syaykh Al-Zaytun yang memasuki usia delapan puluh tahun.
Pesan mereka memang tidak panjang. Namun, di dalamnya terdapat kisah penting mengenai ketangguhan, solidaritas, dan penggunaan prestasi untuk kepentingan kemanusiaan.
Salam Persaudaraan dari Fakfak
Linda Dewianti membuka penyampaiannya dengan salam yang mencerminkan keberagaman masyarakat Indonesia. Ia mengucapkan salam Islam, Shalom, Om Swastiastu, Namo Buddhaya, Salam Kebajikan, dan Rahayu.
Rangkaian salam tersebut memperlihatkan kesediaan untuk menghormati seluruh hadirin yang datang dari beragam latar belakang agama dan tradisi. Dalam suasana Milad Syaykh Al-Zaytun, salam itu menjadi ungkapan persaudaraan sekaligus pengakuan terhadap kemajemukan bangsa.
Perbedaan keyakinan tidak menghalangi manusia untuk saling memberikan penghormatan. Kebahagiaan seseorang dapat dirasakan bersama, sementara doa dan harapan baik dapat disampaikan melampaui batas kelompok.
Kehadiran Patrick dan Linda dari Fakfak juga memberikan warna tersendiri. Mereka membawa pesan dari kawasan timur Indonesia ke tengah keluarga besar Al-Zaytun di Indramayu.
Jarak geografis tidak menghalangi tumbuhnya rasa kagum dan persahabatan. Perjumpaan tersebut memperlihatkan bahwa sebuah lembaga pendidikan dapat menjalin hubungan dengan manusia dari berbagai daerah di Nusantara.
Patrick Winata dan Pencapaian Rekor Dunia
Dalam pengantarnya, Linda memperkenalkan Patrick Winata sebagai seorang pemegang Guinness World Record. Berdasarkan penjelasan yang disampaikannya, Patrick menjadi satu-satunya orang di dunia yang berhasil melakukan pad boxing selama 24 jam tanpa henti.
Pencapaian itu menggambarkan daya tahan fisik dan mental yang luar biasa. Melakukan aktivitas olahraga dalam waktu panjang membutuhkan persiapan, kedisiplinan, konsentrasi, dan kemampuan menjaga semangat.
Selama 24 jam, tubuh harus menghadapi kelelahan. Pikiran pun diuji agar tetap fokus. Keberhasilan menjalani proses tersebut menunjukkan bahwa suatu pencapaian besar tidak lahir secara tiba-tiba.
Di belakang sebuah rekor terdapat latihan yang berulang, kesediaan menjalani proses, dan keteguhan untuk tetap melangkah ketika tubuh mulai menghadapi batasnya.
Namun, hal yang membuat pencapaian Patrick semakin bermakna bukan semata-mata catatan lamanya waktu melakukan pad boxing. Nilai utamanya justru terletak pada tujuan kemanusiaan yang menyertai aksi tersebut.
Menggalang Dana bagi Anak-Anak Penderita Kanker
Aksi pad boxing selama 24 jam itu dilakukan sebagai bentuk kepedulian untuk menggalang dana bagi anak-anak penderita kanker di Indonesia.
Dengan demikian, kekuatan fisik Patrick tidak hanya digunakan untuk mengukir nama dalam catatan rekor dunia. Ketangguhan tersebut diarahkan untuk membantu anak-anak yang sedang menghadapi penyakit berat.
Seorang anak penderita kanker tidak hanya berhadapan dengan rasa sakit. Ia juga harus menjalani berbagai proses pemeriksaan dan pengobatan. Dalam perjuangan tersebut, keluarga membutuhkan dukungan moral, perhatian, dan bantuan dari masyarakat.
Penggalangan dana menjadi salah satu bentuk nyata solidaritas. Bantuan yang dihimpun dapat meringankan sebagian beban yang harus dihadapi anak-anak dan keluarganya.
Patrick menggunakan kemampuan yang dimilikinya sebagai sarana membangun kepedulian. Ia mengubah sebuah aktivitas olahraga menjadi pesan kemanusiaan.
Prestasi itu memperlihatkan bahwa setiap orang dapat berbuat baik melalui bidang yang dikuasainya. Kepedulian tidak selalu harus dilakukan dalam bentuk yang sama.
Seorang pendidik dapat membantu melalui ilmu. Seorang dokter melalui pelayanan kesehatan. Seorang penulis melalui gagasan. Seorang atlet dapat menggunakan kemampuan fisiknya untuk menarik perhatian masyarakat terhadap persoalan kemanusiaan.
Prestasi yang Tidak Berhenti pada Kebanggaan Pribadi
Rekor dunia sering kali dipahami sebagai pencapaian tertinggi seorang individu. Nama seseorang dicatat karena berhasil melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan orang lain.
Namun, pencapaian tersebut dapat memiliki arti yang lebih luas apabila tidak hanya digunakan untuk memperoleh pengakuan. Prestasi menjadi bernilai ketika membuka jalan bagi manfaat sosial.
Dalam pengalaman Patrick, rekor dunia dan kepedulian terhadap anak-anak penderita kanker tidak berdiri secara terpisah. Keduanya dipertemukan dalam satu tindakan.
Ketangguhan fisik menjadi media untuk mengajak orang lain peduli. Perhatian publik terhadap sebuah rekor diarahkan kepada perjuangan anak-anak yang membutuhkan dukungan.
Dengan cara tersebut, pencapaian pribadi berubah menjadi gerakan sosial. Patrick tidak hanya berusaha melampaui batas dirinya, tetapi juga mengajak masyarakat melihat persoalan di luar dirinya.
Inilah bentuk pencapaian yang memiliki dimensi kemanusiaan. Keberhasilan tidak hanya diukur dari apa yang diperoleh seseorang, tetapi juga dari manfaat yang dapat diberikan kepada manusia lain.
Menghadapi Kelelahan dengan Tujuan yang Lebih Besar
Melakukan pad boxing selama 24 jam tanpa henti tentu bukan perkara ringan. Dalam perjalanan tersebut, rasa lelah menjadi sesuatu yang tidak dapat dihindari.
Tubuh memiliki keterbatasan. Tenaga dapat berkurang, konsentrasi dapat melemah, dan semangat dapat mengalami penurunan.
Pada saat seperti itulah tujuan sebuah perjuangan memperoleh arti penting. Seseorang yang memahami alasan mengapa ia memulai akan memiliki kekuatan untuk terus bertahan.
Ketika perjuangan hanya diarahkan untuk kepentingan pribadi, rasa lelah dapat membuat seseorang lebih mudah menyerah. Namun, ketika tindakan itu ditujukan untuk membantu orang lain, muncul alasan yang lebih besar untuk melanjutkannya.
Kepedulian terhadap anak-anak penderita kanker menjadi energi moral di balik ketangguhan Patrick. Setiap pukulan bukan hanya bagian dari usaha mencetak rekor, tetapi juga sarana untuk membangun perhatian dan mengumpulkan bantuan.
Perjuangan itu mengajarkan bahwa manusia sering kali menemukan kekuatan baru ketika tindakannya memiliki tujuan yang melampaui kepentingan dirinya sendiri.
Dari Kekuatan Menuju Kasih Sayang
Kisah Patrick mempertemukan dua nilai yang sangat penting, yaitu kekuatan dan kasih sayang.
Kekuatan sering diasosiasikan dengan kemampuan bertahan, melakukan aktivitas berat, atau menghadapi tantangan. Sementara itu, kasih sayang berkaitan dengan kelembutan hati dan kepedulian terhadap penderitaan orang lain.
Dalam aksi Patrick, keduanya tidak dipertentangkan. Ketangguhan fisik justru menjadi jalan untuk menunjukkan kasih sayang.
Pukulan-pukulan yang diarahkan pada bantalan tidak digunakan untuk menyakiti. Aktivitas itu diubah menjadi sarana membantu anak-anak yang sedang berjuang melawan penyakit.
Hal tersebut memperlihatkan bahwa kekuatan sejati tidak hanya ditentukan oleh kemampuan seseorang mengalahkan lawan atau melampaui rekor. Kekuatan juga terlihat dalam kesediaan menggunakan kemampuan untuk membantu mereka yang membutuhkan.
Orang kuat bukan hanya manusia yang mampu berdiri bagi dirinya sendiri. Ia juga mampu menjadikan kekuatannya sebagai sumber harapan bagi orang lain.
Ucapan Selamat pada Milad Syaykh Al-Zaytun
Setelah memperkenalkan perjalanan Patrick, Linda menyampaikan tujuan utama kehadiran mereka, yaitu memberikan ucapan selamat kepada Syaykh Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang yang memasuki usia ke-80.
Keduanya menyampaikan bahwa Syaykh merupakan sosok yang mereka hormati dan banggakan.
Ungkapan itu menunjukkan adanya kekaguman terhadap perjalanan dan pengabdian Syaykh Al-Zaytun. Walaupun mereka tidak menguraikan secara panjang berbagai karya yang telah dibangun, penghormatan tersebut disampaikan secara tulus melalui kehadiran dan doa.
Milad ke-80 menjadi momentum untuk mengingat bahwa usia manusia memiliki arti ketika digunakan bagi kepentingan yang lebih besar.
Dalam konteks Syaykh Al-Zaytun, perjalanan delapan dekade telah diisi dengan gagasan, pendidikan, pembangunan lembaga, serta pengabdian kepada masyarakat.
Hal tersebut memiliki kesamaan nilai dengan kisah Patrick. Keduanya menunjukkan bahwa kemampuan dan kesempatan hidup memperoleh makna ketika digunakan untuk memberikan manfaat.
Patrick menggunakan kemampuan fisiknya untuk membantu anak-anak penderita kanker. Syaykh Al-Zaytun menggunakan perjalanan hidupnya untuk membangun pendidikan dan membentuk generasi.
Bentuk pengabdiannya berbeda, tetapi keduanya bertemu pada satu prinsip: hidup harus memberikan manfaat bagi manusia lain.
Doa untuk Kesehatan yang Paripurna
Patrick dan Linda mendoakan agar Syaykh Al-Zaytun senantiasa diberikan kesehatan yang paripurna.
Pada usia delapan puluh tahun, kesehatan merupakan karunia yang sangat penting. Dengan kesehatan, seseorang masih dapat menjalankan aktivitas, membaca, berpikir, memberikan arahan, dan mendampingi generasi penerus.
Kesehatan paripurna tidak hanya berkaitan dengan keadaan fisik. Ia juga mencakup kekuatan batin dan kejernihan pikiran.
Seorang pemimpin memerlukan kesehatan agar mampu terus memberikan kontribusi. Berbagai gagasan yang telah dibangun membutuhkan arahan, pengembangan, dan proses pewarisan kepada generasi berikutnya.
Doa bagi kesehatan dengan demikian bukan hanya harapan pribadi. Ia juga merupakan doa agar pengabdian dan manfaat yang telah dirintis dapat terus berlanjut.
Umur Panjang yang Dipenuhi Manfaat
Selain kesehatan, keduanya mendoakan agar Syaykh memperoleh umur panjang.
Panjang usia menjadi bermakna apabila digunakan untuk kebaikan. Setiap tambahan waktu memberikan kesempatan untuk belajar, memperbaiki diri, menyelesaikan pekerjaan, dan membagikan pengalaman.
Pada usia lanjut, seseorang menyimpan banyak pengetahuan yang diperoleh dari perjalanan panjang. Ia telah mengalami keberhasilan, tantangan, kekeliruan, dan berbagai perubahan zaman.
Pengalaman tersebut menjadi sangat berharga bagi generasi muda. Mereka dapat belajar bukan hanya dari teori, tetapi juga dari kenyataan yang telah dihadapi pendahulunya.
Karena itu, umur panjang seorang pendidik dan pemimpin juga menjadi kesempatan untuk memperkuat proses regenerasi.
Syaykh Al-Zaytun dapat terus memberikan arah, sementara generasi penerus mengambil tanggung jawab untuk melaksanakan dan mengembangkan gagasannya.
Keberkahan dalam Langkah Pengabdian
Patrick dan Linda juga mendoakan agar setiap langkah pengabdian Syaykh Al-Zaytun dipenuhi keberkahan.
Keberkahan tidak hanya diukur melalui besarnya sesuatu. Sebuah tindakan sederhana dapat menjadi berkah apabila memberikan manfaat yang panjang.
Ilmu menjadi berkah ketika dibagikan. Kekuatan menjadi berkah ketika digunakan untuk membantu. Kekayaan menjadi berkah ketika dapat meringankan beban sesama.
Demikian pula sebuah lembaga pendidikan. Bangunan dan fasilitas memperoleh arti ketika di dalamnya lahir manusia berilmu, berkarakter, dan memiliki kepedulian terhadap masyarakat.
Doa bagi keberkahan berarti harapan agar setiap karya Syaykh terus menghasilkan kebaikan, bukan hanya bagi orang-orang yang hidup pada masa kini, tetapi juga bagi generasi mendatang.
Berada dalam Perlindungan Tuhan
Doa terakhir yang disampaikan Patrick dan Linda adalah agar Syaykh senantiasa berada dalam perlindungan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Manusia dapat merencanakan, berlatih, dan bekerja keras. Namun, tidak seluruh perjalanan kehidupan berada dalam kendali manusia.
Terdapat keadaan yang tidak dapat diprediksi. Ada tantangan yang datang di luar perencanaan. Karena itu, usaha selalu membutuhkan doa.
Permohonan perlindungan Tuhan menjadi pengakuan bahwa manusia memiliki keterbatasan. Ia memerlukan kekuatan yang membimbing dan menjaga langkahnya.
Dalam perjalanan seorang pemimpin, perlindungan tersebut diharapkan hadir dalam bentuk kesehatan, keselamatan, kebijaksanaan, serta kemampuan menghadapi berbagai tantangan.
Milad sebagai Ruang Pertemuan Kepedulian
Peringatan Milad ke-80 Syaykh Al-Zaytun bukan hanya menjadi ruang untuk mengenang perjalanan seseorang. Acara tersebut juga mempertemukan beragam pengalaman pengabdian.
Para tokoh hadir membawa pemikiran mengenai pendidikan, kebangsaan, agama, ekonomi, ketahanan pangan, dan kemanusiaan.
Patrick dan Linda membawa pengalaman berbeda. Mereka menghadirkan kisah tentang rekor dunia yang digunakan untuk membantu anak-anak penderita kanker.
Kisah tersebut memperkaya makna peringatan Milad. Pengabdian kepada manusia dapat dilakukan melalui banyak jalan.
Ada yang membangun sekolah. Ada yang mengajar. Ada yang menulis. Ada yang mengembangkan pertanian. Ada pula yang menggunakan olahraga untuk menggalang bantuan.
Seluruhnya menunjukkan bahwa kemampuan manusia tidak seharusnya berhenti pada kepentingan pribadi.
Mensyukuri Pencapaian dengan Memperluas Manfaat
Tema Milad “Menyukuri Pencapaian dan Terus Melangkah Menuju Kemajuan” menemukan makna yang selaras dalam perjalanan Patrick Winata.
Rekor dunia merupakan sebuah pencapaian yang patut disyukuri. Namun, Patrick tidak membiarkan pencapaian itu berhenti sebagai kebanggaan.
Ia mengarahkannya kepada tujuan yang lebih luas, yakni membantu anak-anak penderita kanker.
Hal tersebut menunjukkan bahwa cara terbaik mensyukuri kemampuan adalah menggunakannya untuk memberikan manfaat.
Demikian pula sebuah lembaga pendidikan. Keberhasilan tidak cukup hanya dirayakan. Ia perlu dikembangkan agar manfaatnya semakin luas.
Pencapaian masa lalu harus menjadi dasar untuk melangkah menuju pekerjaan berikutnya. Rasa syukur bukan alasan untuk berhenti, tetapi energi untuk terus bergerak.
Dari Rekor Dunia Menuju Kepedulian
Pesan Patrick Winata dan Linda Dewianti memang disampaikan secara singkat. Namun, kisah yang dibawanya memberikan pelajaran panjang.
Rekor dunia dapat menjadi simbol ketangguhan. Akan tetapi, ketangguhan memperoleh nilai kemanusiaan ketika digunakan untuk membantu sesama.
Aksi pad boxing selama 24 jam tanpa henti bukan hanya catatan mengenai kemampuan fisik. Ia merupakan bentuk kepedulian terhadap anak-anak penderita kanker di Indonesia.
Dari Fakfak, Papua Barat, Patrick dan Linda datang membawa ucapan selamat dan doa bagi Syaykh Al-Zaytun. Mereka berharap Syaykh diberikan kesehatan paripurna, umur panjang, keberkahan dalam pengabdian, dan perlindungan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Dengan pekik “Merdeka!”, pesan tersebut ditutup. Namun, nilai yang dibawanya tetap tinggal di tengah hadirin: bahwa pencapaian terbaik bukan hanya yang membuat seseorang dikenal, melainkan yang membuat kehidupan orang lain menjadi lebih baik.
Itulah perjalanan dari rekor dunia menuju kepedulian bagi sesama: sebuah kisah tentang kekuatan yang tidak digunakan untuk membanggakan diri, tetapi diarahkan menjadi harapan bagi anak-anak yang sedang memperjuangkan kehidupan.**
Indramayu, 3 Agustus 2026
——-
![]()
