*Catatan Kaki Dua Tahun Forum Pertemuan Rutin Senin Kamis Atau Kamis Senin GMRI*
Oleh : Jacob Ereste
Acara ngobrol rutin Senin-Kamis atau Kamis-Senin di Sekretariat GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia) bersama sahabat dan kerabat GMRI semakin mengerucut bersiap melancarkan Diplomasi Spiritual Global yang akan diawali lounching “Kitab MA HA IS NA YA” pada September 2026. Hingga kini persiapan acara semakin matang.
Diskusi rutin yang santai Senin-Kamis atau. kamis-Senin GMRI telah banyak melahirkan ide dan gagasan yang cemerlang untuk membumikan gerakan kebangkitan kesadaran spiritual bagi bangsa dan negara Indonesia untuk dijadikan semacam resep — kalau tidak bisa disebut mantra — dalam upaya menteraphi penyakit akut yang menggerogoti bangsa dan negara Indonesia hingga terkesan tidak berdaya dalam mengatasi berbagai kerusakan mental dan spiritual, hingga perilaku korupsi semakin merajalela menggerogoti segenap sendi kehidupan.

Dari acara diskusi santai GMRI yakin untuk membangun budaya dialog — siap mendengan dan menyimak kritik secara lebih bijak sampai masukan dan usulan untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam membuat keputusan — adalah sikap yang bijak. Sehingga dalam melakukan kritik pun dapat disadari harus tetap dalam bimbingan etika, moral dan akhlak mulia sebagai dasar dari laku spiritual yang ideal. Semua ditekuni dengan sikap rendah hati, secara sederhana dan bersahaja untuk tidak berprilaku arogan, pongah dan jumawa.
Karena itu dalam setiap program — rencana aksi — selalu melalui kajian berulang agar tidak sua-sia dan bisa memberi manfaat maksimal bagi kemaslahatan bersama, tanpa kecuali untuk satu pihak pun. Sebab tujuan akhir bukan sekedar untuk menghasilkan sesuatu yang bernilai dan bermanfaat, sebab proses dari apa yang hendak dicapai itu sendiri merupakan bagian yang tidak kalah penting untuk dikedepankan.
Atas dasar itulah, esensi dari dialog rutin GMRI tidak terlalu terikat pada tatanan seremoni baku, sebab lebih luwes akan lebih baik dalam menghasilkan keputusan untuk dijadikan program aksi yang lebih bermakna dan bermanfaat.
Dalam tradisi diskusi rutin informal GMRI yang telah berlangsung sejak dia tahun silam — 2024 — hingga melahirkan gagasan membuat “,Kitab MA HA IS MA YA” dengan membacakan do’a untuk 79 orang tokoh selama 20njam non stop pada 2-3 Agustus 2025 di Auditorium Wisma Antara, Jakarta — kini akan segera dilaunching di berbagai tempat dan daerah, termasuk Yogyakarta sebagai pendukung dari kehadiran “Kitab MA HA IS NA YA” yang cukup fenomenal menandai kebangkitan peradaban baru yang bisa diharap menjadi mercusuar penerang jagat kegelapan dunia hari ini yang terperangkap pada nilai-nilai material.
Pilihan sikap GMRI pun dalam upaya membangun budaya diskusi pun berupaya dalam tampilan yang sederhana, efektif dan efisien lantaran diharap dapat menjadi bagian dari laku spiritual yang ideal untuk dibumikan dari Nusantara — Timur menuju Barat — karena nilai-nilai spiritualitas. harus menjadi fondasi dari konstruksi peradaban dunia yang diidolakan, rukun dan harmoni, seperti tetabuhan ritme musik tradisional leluhur kita yang tak pernah hendak mengoyak langit, tapi sekedar untuk didengar sebagai puja-puji kepada Yang Maha Pencipta jagat raya dan seisinya.
Wedang beras kencur, pisang rebus dan sesekali makan lauk pepes ikan memang belum mencerminkan kebersahajaan dan kesederhanaan yang hendak dijadikan bagian dari basis gerakan kebangkitan spiritual yang senantiasa penuh tutur kata dengan sapaan yang cukup mulus dan sederhana. Mulai dari sapaan Mas, Gus, Romo hingga Opa ikut membuat suasana yang guyub penuh rasa kekeluargaan.
Kesaksian ini pun, perlu diungkapkan sebagai bagian dari perjalanan spiritual yang kelak pasti akan menjadi pertanda dari waktu yang pernah dilalui untuk sekedar menjadi kenangan — jika tidak akan dijadikan sebagai patok kenangan — bahwa sejarah tak mungkin terulang seperti yang sudah-sudah berlalu dan mungkin saja bisa terlewatkan.
Setidaknya, sejumlah nama yang pernah tercatat hadir dalam acara diskusi santai GMRI sejak dua tahun silam ini, perlu diabsen ulang peran serta dan keterlibatannya, seperti Wowok Prastowo, Joyo,, Yudhantoro, Brijen Pol. Benny Iskandar Hasibuan, Letnan Jendral TNI Ridho Hermawan M.Sc, Prof. Yudhi Haryono, Dr. Ishak Rafiq, Zainul Arifin, Wati Salam, Prof. Budi, Achmad Badhowi, Moh. Kholiq, KH. Achmad Ghufron Sembara, Prof. Dr (HC) Dts. KH. Habib Khirzin, Dokter Tafauzia, Dr. KRT. Roy Suryo, Momok Solo, Asep Syaifullah, Moch Jafar, Mayjen Darno, Marbawi Taufik, Doel Duantje, Dr. KH. Marsudi Suhud, Dibyo, Indra, Moch. Sunaryo, Yusuf Mujiono, Sri Murdiningsih dan Sri Pacifik, Bagus Mulyono, serta sejumlah tokoh dan cerdik pandai lain yang sempat ikut mewarnai suasana diskusi rutin GMRI yang sudah berlangsung selama dua tahun. tanpa pernah absen dengan nara sumber utama sekaligus Sohibul hajatnya, Sri Eko Sriyanto Galgendu, selaku Pemimpin Spiritual Nusantara yang juga acap disebut dengan juluk Wali Spiritual.
Agaknya, begitulah catatan kaki dari diskusi informal rutin GMRI. setelah dua tahun berjalan, tiada putus, kecuali acara dipindahkan lokasinya ke tempat pertemuan yang lain.**
Banten, 29 Juli 2026
—–
![]()
