Spiritualitas Dapat Memperbaiki Carut Marut Negara dan Bangsa Indonesia


SPIRITUALITAS DAPAT MEMPERBAIKI CARUT MARUT NEGARA DAN BANGSA INDONESIA

Oleh: Jacob Ereste
Banten, 8 Juli 2026

Untuk menjaga etika, moral, dan akhlak mulia serta nilai-nilai kemanusiaan, mulai dari masyarakat adat, generasi muda, aktivis pergerakan, politisi, pengusaha, hingga pekerja profesional perlu menekuni dan menghayati kecerdasan spiritual.

Spiritualitas harus menjadi pembingkai etika, moral, dan akhlak yang saling menguatkan. Tanpa itu, kita mudah terperosok ke perilaku buruk. Baik dalam pandangan adat, tatanan tradisi, maupun budaya. Apalagi di tengah iming-iming materi yang kini menjadi penakar penghargaan dan citra diri palsu untuk menutupi kepribadian yang rapuh. Padahal perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari tidak memberi manfaat, bahkan merugikan dan menjadi ancaman bagi kehidupan banyak orang.

Fenomena sikap munafik, culas, dan khianat juga muncul dari aktivis dan pejuang yang seharusnya membela hak-hak rakyat tertindas. Begitu pula dalam kultur dan struktur politik yang jahat. Semua itu hanya bisa dicegah dengan laku spiritual sebagai penjaga etika, moral, dan akhlak mulia manusia yang mendapat amanah dari Tuhan untuk menjaga ketertiban hidup di bumi dan melindungi lingkungan, sekecil apa pun lingkupnya.

Pengkhianatan terhadap kebersamaan dalam perjuangan untuk kemaslahatan rakyat sangat rentan terjadi. Penyebabnya adalah lemahnya pertahanan diri untuk tetap berpegang pada etika yang dibangun melalui tradisi leluhur bangsa Nusantara.

Ada manik-manik kearifan lokal yang harus kita pegang, seperti _pi’il pesenggiri_ dari suku Lampung dan _siri’_ dari suku Bugis. Nilai-nilai itu menjadi perisai agar kita tidak hanyut dalam arus guncangan budaya yang arahnya semakin tidak menentu. Ditambah lagi pengaruh teknologi super modern yang melesat tanpa kendali, serta tekanan ekonomi yang makin menyudutkan. Kondisi ini membuat sebagian orang memilih menikmati kemewahan semu daripada bertahan dengan prinsip.

Karena itu perilaku politik, ekonomi, dan budaya di Indonesia terkesan anomali dan sungsang. Sulit dipahami oleh akal sehat yang tidak dibekali kecerdasan dan ketangguhan spiritual yang harus terus dilatih. Pola serangan zaman sekarang berada di luar nalar. Manuver dan lompatan yang tidak beraturan semakin sulit diprediksi. Jika tidak siap dan waspada, kita bisa menjadi sasarannya. Seperti yang sudah diwanti-wantikan Ronggowarsito.

Demikian juga kondisi “zaman edan” — _“sing ora melu edan ora keduman”_. Ini jelas mengisyaratkan bahwa jika kita tidak ikut “edan-edanan”, maka kita harus siap menghadapi berbagai ancaman yang tidak bisa dielakkan.

Dalam negara hukum ini, penegakan hukum pun sulitnya seperti “menegakkan benang basah”. Para pendekar dan penegak hukum kita seakan ikut “gerah” karena pengaruh perubahan iklim ekstrem yang kita saksikan setiap hari.

Oleh karena itu, untuk membenahi carut marut kerusakan negeri ini:
Politik tidak lagi cukup dibenahi oleh politikus.
Ekonomi tidak lagi cukup dipercayakan kepada ekonom.
Hukum tidak lagi cukup diserahkan kepada aparat penegak hukum.
Bahkan masalah budaya dan keagamaan harus ditisik ulang, seperti sulaman yang koyak yang harus dirajut kembali.

Semuanya harus dimulai dari bilik spiritual: dingin, sabar, tekun, dan penuh keikhlasan tanpa pamrih. Melekatkan etika dan menghujamkan moral dalam akhlak mulia manusia dengan kesadaran sebagai _khalifatullah_ — wakil Tuhan di bumi.

Dalam konteks inilah, upacara _ruwat bumi_ menjadi relevan untuk dilakukan dengan kesadaran penuh dalam skala nasional. Hingga dapat menjadi gerakan bagi seluruh warga bangsa Indonesia.**

—-

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!