*GUS MUHAIMIN DAN TITIK TENGAH KRUSIAL MUKTAMAR NU KE-35*
Oleh : Adlan Daie
Analis Politik, Sekretaris Umum MUI Kab. Indramayu.
Indramayu, 5 Juli 2026
Tulisan singkat ini tidak berpretensi dan dimaksudkan untuk membedah lebih dalam perspektif Yusuf Mars, Founder & Host “Padasuka TV” dalam tulisannya berjudul “Mengapa NU Membutuhkan Gus Muhaimin Memimpin PBNU?” – dimuat “tribunnwes”, (28/5/2026)
Aksentuasi tulisan ini lebih tentang perspektif posisi Gus Muhaimin sebagai “titik tengah” krusial di antara persaingan dua faksi, yakni faksi Gus Yahya versus faksi Gus Ipul yang berada dibalik majunya Prof Nazarudin Umar, Menteri Agama, sebagai kandidat Ketua Umum PBNU.
Artinya, suka tidak suka, Gus Muhaimin adalah faktor begitu penting bagi kedua faksi tersebut di atas. Ke faksi mana Gus Muhaimin melakukan aliansi taktis maka kemungkinan faksi itulah akan memenangkan kontestasi kepemimpinan Ketua Umum PBNU di Muktamar ke 35.
Gus Yahya kehilangan banyak faktor untuk mengulang kembali terpilih menjadi Ketua Umum PBNU sebagaimana dalam Muktamar NU ke 34 di Lampung, lima tahun silam.
Pertama, Gus Yahya kehilangan “faktor” Gus Yaqut, adik kandungnya yang dipasang Jokowi (Presiden saat itu) sebagai Menteri Agama. Ia efektif mengendalikan “mesin” suara PWNU dan PCNU dari unsur ASN kemenag Ri tak kurang dari 160 suara, lewat relasi kuasa politik yang dipegangnya.
Kini “kemewahan” simpul elektoral tersebut tidak dimiliki lagi oleh Gus Yahya dalam konteks gelaran Muktamar NU ke 35. Gus Yaqut sudah purna tugas, “lost power” – kehilangan daya kekuatan. Inilah yang disebut dalam khazanah politik moderen sebagai pergeseran “faktor krusial”.
Kedua, faktor Gus Ipul dan Nusron Wahid, keduanya adalah variabel penting dalam sukses terpilihnya Gus Yahya sebagai Ketua Umum PBNU dalam Muktamar NU ke 34 di Lampung tahun 2021. Piawai dalam konsolidasi dan orkestrasi politik di panggung Muktamar NU.
Karena itu, tanpa faktor keduanya Gus Yahya kehilangan “operator sistem” dalam pusaran dinamika suksesi kepemimpinan PBNU dalam Muktamar NU ke 35, terlebih keduanya kini mengambil sikap “oposisional” terhadap Gus Yahya dalam konteks Muktamar NU ke 35.
Di sisi lain, faksi sebelahnya, faksi Gus Ipul yang memajukan Prof Nazarudin Umar tidak cukup dominan, hanya mengandalkan “subsidi elektoral” dari relasi kuasa unsur ASN kementerian agama yang dipimpinya, dimana sebanyak kurang lebih 160 PWNU & PCNU dari unsur ASN kemenag.
Faktor Gus Ipul memang penting bagi faksi Nazarudin Umar selain ia adalah ketua “panitia” Muktamar yang bisa menjadi “operator sistem” – juga ia adalah politisi dengan “jam terbang” tinggi dalam ekosistem politik ke NU an tetapi minus infrastruktur politik yang memiliki daya gerak struktural secara sistemik.
Dalam konstruksi persaingan dua faksi di atas itulah faktor Gus Muhaimin penting bukan sekedar untuk dibaca tapi variabel faktor penentu siapa kelak akan memenangkan kontestasi kepemimpinan Ketua Umum PBNU di panggung Muktamar NU ke 35.
Meskipun Gus Muhaimin bukan elite struktural PBNU tapi PKB, partai yang dipimpinnya, satu satu nya Partai di Indonesia yang memiliki relasi ekosistem sosial dengan NU di daerah daerah. PKB dan NU ibarat satu atap rumah – hanya beda “kamar”.
Dalam konteks itulah, pengaruh Gus Muhaimin bekerja dalam dinamika Muktamar NU ke 35. Hanya “pengamat” yang tidak mengerti NU dan tidak mengerti PKB yang memisahkan NU dan PKB, sebuah kemustahilan politik untuk dipisahkan.
Problemnya tentu tidak sederhana ke mana arah Gus Muhaimin melakukan aliansi taktis di antara dua faksi di atas. Pasalnya Gus Muhaimin “mengerti” cara main Gus yahya maupun Gus Ipul dan rumit mempertemukan kalkulasi politik di antara mereka.
Kematangan Gus Muhaimin dalam pertarungan politik nasional teruji, bahkan sekelas pemikir kebangsaan, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, (Alm) Prof. Syafie Ma’arif menyebut Gus Muhaimin “the real politician”, sejatinya politisi NU.
Artinya, ia politisi taktis dan piawai memainkan irama politik di tengah kerumitan relasi antar pihak dalam tarik menarik pertarungan kepentingan politik nasional,
Sejarah politik sepanjang era reformasi telah menguji Gus Muhaimin dalam segala dinamika pergantian rejim politik, tak terkecuali dalam dinamika internal di tubuh NU.
Di sinilah menariknya posisi Gus Muhaimin dalam “titik tengah” krusial di antara dua faksi, yaitu faksi Gus Yahya versus faksi Gus Ipul di panggung Muktamar NU ke 35.
Apakah Gus Muhaimin justru yang membentuk poros ketiga dengan menarik salah satu faksi di antara dua faksi tersebut di atas dengan kemungkinan ia maju sendiri karena kebutuhan situasional sebagaimana diandaikan dalam tulisan Yusuf Mars di atas ?
Mari kita tunggu dinamika NU hingga puncak Muktamar NU ke 35 dengan kemungkinan kejutannya, sebuah ruang probabilitas dan kemungkinan yang acapkali sulit diduga ending dan hasil akhirnya. **
Wassalam.
—-
![]()
