PKBM Al-Zaytun Menyalakan Harapan: Ketika Pendidikan Kesetaraan Mengubah Keraguan Menjadi Keyakinan
Oleh : Winarsih, S.Pd. (Tutor PKBM Al Zaytun)
Indeamayu-Jayanews.com – Setiap orang memiliki hak yang sama untuk belajar, bertumbuh, dan memperbaiki masa depannya. Pendidikan tidak mengenal batas usia, tidak dibatasi oleh keadaan ekonomi, dan tidak terhalang oleh masa lalu yang pernah tertinggal. Ketika kesempatan belajar hadir dengan pendekatan yang ramah, penuh kekeluargaan, dan menyentuh kebutuhan masyarakat, pendidikan mampu mengubah keraguan menjadi keyakinan, keterbatasan menjadi peluang, serta harapan menjadi kenyataan. Semangat itulah yang terasa dalam kegiatan sosialisasi PKBM Al-Zaytun bersama Paguyuban Istri Peduli (PIP) di Blok Tanjungsari 1, Ahad, 21 Juni 2026.
Bertempat di kediaman Ibu Wiji Lestari, alumni Warga Belajar PKBM Al-Zaytun, kegiatan yang berlangsung dari pukul 13.30 hingga 16.30 WIB tersebut dihadiri oleh 19 ibu-ibu warga Tanjungsari 1. Acara dibuka oleh Ibu Umi Rochimah selaku Ketua Tim Inti Pendidikan Paguyuban Istri Peduli (PIP) yang bertindak sebagai pembawa acara sekaligus memimpin istighasah dan doa bersama.

Selanjutnya, Ibu Nurhasanah menyampaikan berbagai program pendidikan kerohanian PIP yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Program tersebut meliputi pendalaman materi dan praktik pemulasaraan jenazah yang akan diikuti oleh perwakilan setiap blok, kegiatan bazar produk dan makanan setelah senam, pelatihan seni musik angklung mingguan, serta rencana kolaborasi antara warga PKBM dan warga PIP dalam penyelenggaraan bazar dan pertunjukan seni angklung yang lebih meriah dan produktif.
Pada sesi berikutnya, Winarsih, S.Pd., Tutor PKBM Al-Zaytun, memperkenalkan profil lembaga pendidikan kesetaraan yang kini telah meraih Akreditasi A+. Predikat tersebut menunjukkan kualitas PKBM Al-Zaytun yang sangat baik dari aspek sarana dan prasarana, kurikulum pembelajaran, kualitas tutor yang sebagian besar berpendidikan sarjana dan magister, hingga tata kelola lembaga yang dipimpin oleh lulusan doktor.

Dalam pemaparannya, Winarsih menjelaskan bahwa PKBM Al-Zaytun hadir untuk memberikan kesempatan kedua bagi masyarakat yang belum menyelesaikan pendidikan dasar maupun menengah. Dengan sistem pembelajaran yang fleksibel, menyenangkan, dan menyesuaikan kemampuan warga belajar, PKBM menjadi solusi bagi mereka yang pernah terhenti sekolah karena berbagai alasan.
Ia mengajak para ibu yang hadir dan belum menyelesaikan pendidikan SD, SMP, maupun SMA untuk segera mendaftarkan diri. Selain proses pembelajarannya yang menarik dan tidak memberatkan, waktu tempuh pendidikan yang lebih singkat juga membuat biaya pendidikan lebih efisien dibandingkan jalur formal. Yang terpenting, ijazah yang diperoleh diakui secara nasional dan dapat digunakan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Winarsih juga mengingatkan kembali momen kelulusan Warga Belajar Paket C PKBM Al-Zaytun yang diselenggarakan di Wisma Tamu Al-Ishlah pada 2 Mei 2026. Kehadiran langsung Syaykh Al-Zaytun dalam acara tersebut menunjukkan besarnya perhatian terhadap pendidikan kesetaraan. Bahkan dalam sambutannya, beliau memberikan peluang dan kemudahan kepada para lulusan untuk melanjutkan pendidikan ke IAI Al-Aziz.

Kekuatan utama sosialisasi ini justru hadir dari pengalaman nyata para alumni. Lia Samirah, alumni Paket C PKBM Al-Zaytun, mengisahkan bahwa belajar di PKBM telah memberikan pengalaman yang membahagiakan.
Menurutnya, sekolah bukan hanya tempat memperoleh ilmu, tetapi juga ruang untuk bertemu teman-teman baru, berbagi pengalaman, dan membangun keluarga besar yang saling mendukung. Kegiatan belajar yang hanya berlangsung satu kali dalam sepekan menjadi sarana penyegaran yang penuh manfaat dan wawasan.
Kesaksian yang tak kalah menginspirasi disampaikan oleh Ai Nurfallah yang menempuh pendidikan mulai dari Paket A, Paket B, hingga Paket C selama hampir delapan tahun. Ia mengungkapkan bahwa selama belajar di PKBM Al-Zaytun dirinya memperoleh banyak teman, pengalaman, ilmu pengetahuan, serta keterampilan yang dapat diterapkan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya adalah pembelajaran berbasis keterampilan hidup. Ia diajarkan membuat kompos, menanam kangkung, membudidayakan ikan, hingga mengolah hasil panen menjadi produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi. Keterampilan tersebut kemudian diterapkan di rumah dan mampu membantu meningkatkan perekonomian keluarga. Selain itu, kekompakan dan rasa kekeluargaan yang terbangun antar warga belajar menjadi nilai yang sangat berharga selama mengikuti pendidikan di PKBM Al-Zaytun.

Dialog yang berlangsung setelahnya menghadirkan kisah yang menyentuh hati. Suharti, salah seorang peserta yang hanya menyelesaikan pendidikan sampai sekolah dasar, mengaku semula tidak memiliki keinginan untuk kembali bersekolah. Usia yang tidak lagi muda, kondisi kesehatan yang sering terganggu karena penyakit asma, serta rasa tidak percaya diri akibat lama meninggalkan bangku sekolah membuatnya merasa tidak mampu untuk belajar kembali.
Namun setelah mendengarkan berbagai penjelasan dan kesaksian para alumni, perlahan tumbuh keyakinan dalam dirinya bahwa belajar tidak mengenal batas usia. Di akhir sesi, Suharti menyatakan kesiapannya untuk mendaftarkan diri sebagai warga belajar PKBM Al-Zaytun.
Peserta lainnya, Kasmunik, juga mengungkapkan bahwa selama ini dirinya beranggapan keterampilan lebih penting daripada ijazah. Selain itu, minimnya dukungan keluarga membuatnya belum melanjutkan pendidikan setelah lulus SMP. Melalui dialog yang berlangsung hangat, ia mendapatkan pemahaman baru bahwa pendidikan dan keterampilan justru dapat berjalan beriringan untuk meningkatkan kualitas hidup seseorang.
Pada sesi penguatan, Tardi, S.Pd., membagikan pengalaman pribadinya dalam menempuh pendidikan tinggi. Ia menceritakan bagaimana dahulu dirinya menjalankan instruksi pimpinan untuk melanjutkan kuliah dengan penuh keyakinan meskipun belum memahami sepenuhnya manfaat yang akan diperoleh. Berbagai komentar negatif dan keraguan dari lingkungan sekitar tidak menyurutkan langkahnya untuk terus belajar.
Kini, manfaat pendidikan itu benar-benar dirasakannya. Pendidikan telah memperluas wawasan, meningkatkan rasa percaya diri, membantu memperbaiki kondisi ekonomi keluarga, serta melatih kemampuan berpikir dalam mencari solusi atas berbagai persoalan kehidupan. Menurutnya, pendidikan menjadikan seseorang lebih bijaksana dalam memandang kehidupan dan lebih siap menghadapi tantangan zaman.
Menjelang akhir acara, Ibu Umi Rochimah kembali merangkum berbagai poin penting yang telah disampaikan. Dengan penuh rasa syukur, seluruh peserta menutup kegiatan dengan mengucapkan hamdalah bersama.
Kegiatan sosialisasi ini menjadi bukti bahwa pendidikan kesetaraan bukan sekadar program penyetaraan ijazah. Lebih dari itu, pendidikan adalah gerakan pemberdayaan masyarakat yang mampu membangun karakter, meningkatkan keterampilan, memperluas wawasan, serta memperkuat ketahanan keluarga dan lingkungan sosial. Dari Tanjungsari 1 tumbuh keyakinan baru bahwa tidak ada kata terlambat untuk belajar dan tidak ada batas usia untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Melalui PKBM Al-Zaytun, harapan-harapan itu terus dinyalakan. Harapan bagi mereka yang pernah terhenti sekolah untuk kembali melangkah. Harapan bagi para ibu untuk terus berkembang dan menjadi teladan bagi keluarga. Harapan bagi masyarakat untuk membangun kehidupan yang lebih mandiri, berilmu, dan sejahtera. Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang memperoleh ijazah, melainkan tentang memuliakan manusia, membuka jalan perubahan, dan menghadirkan masa depan yang lebih cerah bagi generasi yang akan datang.**
AA/Red
——-
![]()
