*Menguji Ombak Yang Terus Bergolak Hingga Mabuk Laut Yang Semakin Mengasyikkan*
Penulis : Jacob Ereste
Masalah mati listrik giliran terkait dangan mafia batubara, kendati harga dalam nilai dollar. Jadi memang gonjang-ganjing yang efektif untuk mengalihkan perhatian publik. Persis seperti penangkapan Roy Suryo dan dokter Tifa yang kemudian harus dibawa ke rumah sakit lalu dibebaskan dalam status bersyarat karena mendapat jaminan dari berbagai tokoh pergerakan. Tapi toh, janji Joko Widodo yang sudah berjanji untuk menunjukkan ijazahnya yang asli di pengadilan — sebagai pokok masalah yang membuat persengkarutan kasus ini — bisa segera selesai dan mereda. Sehingga rakyat dapat kembali konsentrasi pada harga bahan pokok yang terus naik, meskipun klaim swasembada pangan terus jadi berita yang mencengangkan. Setidaknya Polisi yang giat ikut mengurus jagung, tidak lagi menjadi momok bagi masyarakat berkendaraan di jalan raya.
Domestik Market Obligation (persentase jatah penjualan batubara untuk persediaan dalam negeri), sempat membuat bising pergunjingan warga masyarakat. Sebab pengaruh dari biar-petnya listrik tak hanya berdampak pada usaha untuk menyetrika pakaian di rumah, tapi kendaraan yang sudah dialihkan menggunakan daya gerak listrik bisa gawat juga penggunaannya menjadi terancam.
Belum lagi kalau nanti 200 robian kendaraan listrik di gudang Badan Gizi Nasional mulai ikut dioperasikan entah untuk apa saja yang dapat menghalalkan pelaksanaan program yang asal bisa dijalankan, meski manfaatnya untuk rakyat tidak cukup signifikan dalam upaya meningkatkan mutu produktivitas yang seharusnya dapat dihasilkan dari program yang maha dahsyat nilai dollarnya itu.
Sementara rengekan anak di rumah untuk minta dana jajan ekstra guna mengikuti aktivitas ekstra di luas kampus semakin meningkat dan kerap, seperti irama aksi serta unjuk rasa yang semakin kerap mereka lakukan, kendati kesadaran untuk itu dapat dipahami sebagai bagian dari upaya membangun rasa dan heroisme kebangsaan generasi muda yang perlu dipupuk agar kelak saat memasuki era Indonesia emas mereka semua sungguh-sungguh memiliki kesiapan diri mengelola negeri ini dapat melepaskan diri dari ketergantungan pada bangsa asing.
Begitulah isi muatan pemberitaan media hari ini yang mengusik mimpi-mimpi yang terus menjadi penghias masa depan dalam pemadaman listrik sambil menikmati sisa makan bergizi gratis yang dibawa pulang oleh sang cucu karena tidak selaras dengan seleranya yang terlanjur dimanjakan oleh sejenis sajian instan, seperti berita harian media sosial yang semakin liar dan dominan menggiring persepsi publik yang terkesan tidak mampu dikendalikan oleh lembaga atau instansi resmi dari pemerintah yang lumayan besar menyedot dana dari APBN hingga semakin rentan menjadi kropos.
Begitulah sepenggal kalimat — yang aku yakin dari bagian bait puisi esai yang belum jadi tergeletak di meja warung kopi, saat kami hendak melakukan diskusi pagi di warung kopi yang sangat sederhana, namun apil dan resik, nyaman dari kegaduhan Ibuk kota yang tak lagi pernah memiliki waktu istirahat sejenak dan sekejap pun. Sehingga hidup terasa sangat melelahkan
Tigaraksa, 20 Juni 2026
——-
![]()
