Menalar Tanah, Membaca Isyarat Zaman
Oleh: Ali Aminulloh
Dinamika pemikiran di Ma’had Al-Zaytun seolah tak pernah kehabisan bahan bakar. Institusi pendidikan ini secara konsisten terus mengawal arah masa depan bangsa melalui rangkaian Pelatihan Pelaku Didik yang kini telah memasuki sesi ke-45.
Mengusung tema besar yang krusial, *“Transformasi Revolusioner Pendidikan Berasrama Menuju Indonesia Modern Abad XXI dan 100 Tahun Kemerdekaan Indonesia,”* forum ini kembali menjadi kawah candradimuka bagi lahirnya ide-ide segar.
Pada sesi ke-45 ini, atmosfer di dalam ruang pertemuan terasa berbeda. Al-Zaytun menghadirkan sosok akademisi senior yang dikenal lugas, jenaka, namun sarat pengalaman lapangan: Prof. Dr. Ir. Zulkifli Nasution, M.Sc, Ph.D, seorang Guru Besar dari Universitas Sumatera Utara (USU). Di hadapan lebih dari 2.700 peserta yang terdiri pengurus yayasan, dosen, guru, mahasiswa, pelajar, unit pendukung pendidikan, petani dan walisantri yang menyimak khidmat, pria berdarah Batak ini membawa sebuah pemikiran mendalam bertajuk *“Tanah, Lahan, dan Belajar Berkelanjutan.”*
Namun, sore itu sang Profesor tidak datang untuk menyuapi hadirin dengan rangkaian kalimat manis. Ia hadir membawa “obat pahit” berupa realitas sains dan lapangan yang sering kali luput dari ruang kebijakan kita.
Kehangatan Podium yang Berputar
“Kemarin saya dipesani, katanya podiumnya bisa berputar-putar. Karena podiumnya mutar, saya berusaha ikut berputar juga. Sedap juga ini, supaya yang di belakang merasa ikut dihormati,” seloroh Prof. Zulkifli membuka paparannya, mencairkan kekakuan ruang seminar dengan tawa hadirin.
Kehangatan itu segera bertransformasi menjadi sebuah kuliah akademis yang membuka mata. Prof. Zulkifli langsung mengajak audiens menatap tanah tempat mereka berpijak. Ia menggugat narasi usang yang menyebut tanah Indonesia adalah “tanah surga”, tempat di mana tongkat kayu dan batu bisa dengan ajaib berubah menjadi tanaman sebagaimana dinyanyikan Koes Plus.
“Apakah tanah Indonesia itu subur?” tanyanya retoris.
Prof. Zulkifli kemudian mematahkan mitos tersebut melalui pendekatan ilmiah yang objektif. Tanah di wilayah tropis dengan curah hujan tinggi seperti Indonesia, jelasnya, justru mengalami proses pencucian unsur hara yang cepat (*leaching*). Unsur-unsur penting larut dan hancur ke lapisan tanah bagian bawah, jauh melampaui kedalaman efektif akar tanaman. Akibatnya, secara alami tanah kita berstatus marginal.
Lalu, bagaimana cara menjawab tantangan ketahanan pangan di atas tanah yang marginal ini? Kuncinya, menurut Zulkifli, ada pada data, klasifikasi, dan evaluasi lahan menggunakan pendekatan matematika yang presisi, bukan sekadar ilmu kira-kira atau perasaan.
Ia mengkritik metodologi survei usang yang masih sering diadopsi karena murah dan mudah, padahal tingkat akurasinya rendah. Berdasarkan pengalamannya berguru langsung pada Profesor Sys, pencipta metode *Land Evaluation* terkemuka dari Belgia, setiap komoditas memiliki parameter ekologi yang mutlak berbeda. Bahkan spesies padi yang sama (Oryza sativa) memerlukan penanganan yang kontras jika ditanam di lahan tadah hujan, irigasi, ataupun terasering.
Ketidaksinkronan perencanaan tata guna lahan di masa lalu inilah yang dinilai menjadi alasan logis mengapa Indonesia hari ini kerap terjebak dalam ketergantungan impor pangan. Namun, di tengah kekhawatiran itu, Zulkifli memberikan apresiasi tinggi pada langkah nyata Al-Zaytun yang berhasil membangun ketahanan pangan mandiri hingga hitungan belasan bulan. sebuah capaian yang menurutnya telah berada pada level reputasi internasional.
Menjual Oksigen dan Masa Depan Ekonomi Karbon
Puncak dari pemaparan Prof. Zulkifli bermuara pada visi masa depan dunia: Ekonomi Hijau (*Green Economy*) dan Ekonomi Biru (*Blue Economy*). Dalam konteks ini, ia memberikan pujian khusus pada langkah visioner Syekh Al-Zaytun, Abdussalam Panji Gumilang, yang memilih untuk tidak menebang dan menjual kayu jati di kawasannya, melainkan “menjual” kemurnian udara.
“Saya tidak tahu Syekh membaca teori ini atau tidak, tapi kalau tidak baca, itu namanya *ilham*,” ungkap Zulkifli takjub.
Ia meluruskan miskonsepsi publik yang mengira perdagangan karbon adalah praktik “menjual angin”. “Bukan anginnya yang dijual, melainkan sertifikatnya,” tegasnya. Sertifikat internasional tersebut dikeluarkan oleh lembaga bereputasi setelah melalui perhitungan rigid terhadap volume tegakan pohon dan pasokan oksigen yang dihasilkan.
Zulkifli, yang juga seorang praktisi kawakan dalam restorasi pesisir, membagikan kisah suksesnya menerapkan rekayasa lingkungan (*bioengineering*) di Nias Selatan pasca-bencana tsunami. Di atas lahan batu karang yang mati, melalui analisis hidrologi yang tekun, timnya berhasil menghidupkan kembali lebih dari 200 hektare hutan mangrove yang kini diakui dunia.
Bagi sang Profesor, masa depan sejati Indonesia berada pada wilayah lautnya yang mencakup 75 persen total wilayah negeri. Komunitas pesisir harus mulai diberdayakan melalui skema *Blue Carbon* (Karbon Biru), di mana dana kompensasi lingkungan dari raksasa industri dunia bisa mengalir langsung untuk menjaga kelestarian alam sekaligus menyejahterakan warga lokal.
Sesi Tanya Jawab: Otak yang Berpikir dan Kritik “Mandor vs Kuli”
Usai paparan ilmiah yang padat tersebut, suasana forum semakin dinamis saat memasuki sesi diskusi dan tanya jawab. Sebuah kegelisahan kritis datang dari Ataya Fikri Rizkulloh Situmpul, seorang pelajar Madrasah Tsanawiyah Al-Zaytun kelas 9.
Ataya menyoroti fenomena banyaknya sarjana muda Indonesia yang lebih memilih berkarier di korporasi asing ketimbang membangun inovasi di negeri sendiri, sebuah siklus yang dinilai membuat Indonesia terjebak menjadi negara berkembang yang konsumtif.
Menanggapi hal itu, jawaban Prof. Zulkifli mengalir jujur tanpa basa-basi diplomatis.
“Mengapa orang pergi ke perusahaan asing? Sebab godaan duitnya lebih besar. Realistik, ya?” ujarnya, seraya mengisahkan anaknya sendiri yang merupakan lulusan dari Belfast.
Bagi Zulkifli, menuntut seorang sarjana yang baru menetas untuk langsung melahirkan inovasi mandiri yang padat modal adalah sebuah ilusi. Ia kemudian menyitir prinsip dasar *Sustainable Development Goals* (SDGs) nomor dua: selesaikan dulu persoalan perut atau kelaparan, agar isi kepala bisa diajak berpikir jernih. *“You have to remember, if you are hungry, you are angry,”* cetusnya.
Namun, dari sinilah Prof. Zulkifli menarik akar masalah yang lebih sistemik dalam dunia pendidikan tinggi kita. Ia mengkritik tajam kebijakan Angka Partisipasi Kasar (APK) yang memaksa universitas menggenjot kuota mahasiswa demi mengejar target formalitas, tanpa dibarengi kesiapan infrastruktur laboratorium yang memadai.
Jalan pintas pun sering diambil dengan membuka keran sebesar-besarnya pada jurusan ilmu sosial yang minim biaya operasional. Sebuah langkah yang menurutnya menciptakan ketimpangan fatal dalam struktur tenaga kerja nasional.
“Saya hitung-hitung sebentar saja, itu perbandingannya kira-kira 1 banding 40. Maknanya apa? Kita melahirkan satu orang kuli dengan 40 mandor. Pahit kan jawabnya? Tapi itu kenyataan di lapangan,” tegas mantan wakil rektor ini masygul.
Tanpa penguatan sains keras, teknik, dan matematika (*STEM*), universitas dinilai hanya akan melahirkan para pengulas hukum yang lihai menyalahkan, bukan para kreator yang mampu menyalakan energi baru untuk bangsa.
Warisan yang Tertulis
Sore itu, sesi pelatihan ke-45 ditutup dengan sebuah refleksi humanis tentang arti sebuah eksistensi. Zulkifli mengingatkan mengapa peradaban Barat begitu menghargai para pemikirnya: karena mereka merawat gagasan melalui tulisan dan dokumentasi sejarah. Manusia memiliki keterbatasan ingatan, dan cara terbaik untuk membuat sebuah pemikiran menjadi abadi adalah dengan memahatnya dalam aksara.
“Hargailah manusia sekecil apa pun dia, karena dia memiliki sumbangan yang besar terhadap alam,” pungkas Prof. Zulkifli sebelum turun dari podium.
Pelatihan Didik di Al-Zaytun kali ini tidak sekadar meninggalkan teori muluk di atas kertas. Melalui kilasan pengalaman pahit dan manis sang Profesor, para pelaku didik disadarkan bahwa transformasi menuju Indonesia Modern Abad XXI membutuhkan kombinasi yang kokoh: nalar matematika yang presisi, kejujuran dalam membaca data, serta keberanian mengambil tindakan nyata demi menjaga bumi tempat kita berpijak.**
Indonesia, 18 Mei 2026
——
![]()
