Jalanan Itu Guruku

*Jalanan Itu Guruku*

Oleh : Wari Wicatman


Aku tidak ingat kapan terakhir kali tidur di kasur yang empuk. Mungkin waktu masih berumur lima tahun, sebelum bapak pergi dan ibu menyusul sakit. Setelah itu, rumahku pindah-pindah. Tinggal bersama paman dikota Cirebon, lalu pergi ke Jakarta dengan ponakan kerja di Tanjung Priok digudang pelabuhan, jadi kernet mobil kontener, hidup dijalanan kadang tidur di pos ronda ,gudang dan trotoar depan toko yang sudah tutup. Di mana ada atap dan tempat buat melipat tubuh, di situlah aku rebahan.

Orang bilang masa muda itu indah. Penuh sekolah, teman, cinta pertama. Aku tidak kenal semua itu. Umurku empat belas tahun sudah belajar cara berdagang dipasar, ngamen dijalanan. Umur lima belas tahun sudah hafal sudut-sudut pasar yang aman buat tidur dan sudut yang kalau ketiduran bisa kehilangan sandal, baju, bahkan harga diri.

Kekerasan itu biasa. Dipukul karena berebut kardus buat alas tidur. Dikejar satpol PP sampai sepatu bolong. Tidur dengan satu mata terbuka karena takut dompet hilang padahal isinya cuma KTP lusuh dan foto ibu yang sudah kusam takut dicuri orang. Aku tidak pernah dendam. Di jalanan, kalau kau simpan dendam, kau tidak akan sempat tidur nyenyak.

Yang kujalani bukan hidup, tapi bertahan. Mencari sesuap nasi demi bisa makan di warung, mengangkat barang orang di pelabuhan demi sepuluh ribu, menahan lapar sampai perut perih. Aku lihat banyak teman seperjalanan tumbang. Ada yang kecanduan lem, ada yang hilang ditelan penjara, ada yang tidak bangun lagi pagi harinya. Aku? Entah kenapa aku bisa bertahan dan kuat menghadapi semua itu.

Aku tidak menyesal. Kalau bukan jalanan, aku mungkin tidak akan tahu rasanya berbagi sebungkus roti dengan orang yang lebih lapar. Tidak akan tahu rasanya solidaritas sesama anak jalanan yang tidak punya darah sama, tapi saling menjaga waktu hujan datang. Jalanan itu kejam, tapi jujur. Kau lemah, kau hilang. Kau kuat, kau bertahan.

Waktu berjalan kehidupan kota besar begitu keras dan kejam , aku ingin merubah nasib dan kebetulan aku ketemu teman sekolah dan mengajak kerja disebuah pabrik kecil didaerah Banten.Alhamdulillah aku bisa bertahan hampir tiga tahun didaerah Banten ,aku merasa nyaman dan hidup tenang karna suasana daerahnya yang relijius dan damai. Karna ada suatu masalah yang menimpa temanku dipabrik sehingga dia harus berhenti bekerja dan akupun ikut berhenti karna merasa gak enak. Akhirnya kita berdua pulang kampung. Tapi aku punya rencana buka usaha sendiri dikampung, dan temanku buka warung kopi dipinggir jalan, dan seorang teman lama dulu sama-sama ngamen di terminal yang sekarang punya warung jualan nasi.

Aku pun ingin seperti dia, ingin punya warung buat ngisi kegiatan masa tuaku.Waktu itu aku sempat buka usaha bisnis kecil kecilan tapi namun krisis ekonomi melanda usahaku bangkrut.

Aku berusaha kuat dan tegar walaupun dililit utang.Aku berusaha bangkit lagi dengan buka usaha warung kopi dan makanan kuliner untuk bertahan hidup.
Sekarang masa tuaku kujalani dengan tenang. Pagi nyapu halaman warung, siang duduk di depan sambil minum teh tawar. Tidak ada lagi suara sirine, tidak ada lagi lari-lari dikejar. Hanya suara kicau burung dan obrolan pelanggan yang sesekali menanyakan, “Pak, dulu bapak kerja apa?”

Aku cuma senyum. “Kerja hidup, Mas. Kerja bertahan.”

Orang bilang masa tua harusnya dinikmati dengan santai dan pensiun. Aku tidak punya itu. Tapi aku punya ketenangan. Tidur tanpa takut dibangunkan. Makan tanpa harus berebut. Itu sudah lebih dari cukup untuk orang yang dulu tidak tahu besok masih hidup atau tidak.

Kehidupan masa lalu itu keras. Tapi dari kerasnya itu aku belajar satu hal: manusia bisa hancur, tapi tidak harus menyerah. Sekarang aku duduk di bangku kayu warung, melihat matahari sore, dan untuk pertama kalinya aku merasa ini rumahku.**

Indramayu 18 Mei 2026.
——

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!