Saat Tubuh Melawan Diri Sendiri (Refleksi Hari Lupus Se-Dunia, 10 Mei)


Saat Tubuh Melawan Diri Sendiri
(Refleksi Hari Lupus Se-Dunia, 10 Mei)

Oleh : Ali Aminulloh

Di balik wajah yang tampak tersenyum, ada tubuh yang diam-diam berperang melawan dirinya sendiri. Nyeri sendi, kelelahan berkepanjangan, ruam di wajah, hingga kerusakan organ sering datang tanpa suara. Banyak penderita lupus terlihat “baik-baik saja”, padahal setiap hari mereka sedang bertahan agar tetap hidup normal. Hari Lupus Sedunia yang diperingati setiap 10 Mei menjadi pengingat bahwa tidak semua luka tampak di mata, tetapi semuanya membutuhkan empati manusia.

Lupus atau Systemic Lupus Erythematosus merupakan penyakit autoimun kronis ketika sistem imun yang seharusnya melindungi tubuh justru menyerang organ tubuh sendiri. Kulit, sendi, ginjal, paru-paru, jantung bahkan otak bisa terdampak. Penyakit ini lebih banyak menyerang perempuan usia produktif, namun sering terlambat dikenali karena gejalanya mirip kelelahan biasa.

Karena itulah pada tahun 2004 komunitas lupus dunia yang dipelopori Lupus Canada menggagas Hari Lupus Sedunia. Gerakan ini kemudian didukung World Lupus Federation bersama ratusan organisasi lupus dari berbagai negara, termasuk Yayasan Lupus Indonesia. Tema tahun 2026, “Make Lupus Visible”, menjadi seruan agar penyakit yang selama ini “tak terlihat” benar-benar mendapat perhatian publik dan kebijakan negara.

Dalam perspektif trilogi kesadaran yang digagas Syaykh Al Zaytun, Hari Lupus Sedunia mengandung pelajaran kemanusiaan yang sangat dalam.

Kesadaran filosofis mengajarkan bahwa manusia tidak boleh menilai kehidupan hanya dari apa yang tampak. Banyak penderita lupus terlihat sehat, namun sesungguhnya sedang menahan sakit luar biasa. Dari sini lahir pelajaran tentang empati, bahwa kemanusiaan bukan sekadar melihat fisik, tetapi memahami perjuangan batin sesama manusia. Lupus juga mengingatkan bahwa tubuh yang terlalu agresif melawan justru bisa menghancurkan dirinya sendiri. Sebuah refleksi bahwa hidup membutuhkan keseimbangan, bukan permusuhan tanpa batas.

Kesadaran ekologis hadir melalui pemahaman bahwa tubuh manusia adalah ekosistem yang harus dijaga harmoninya. Ketika sistem imun kehilangan keseimbangan, tubuh menjadi korban dari dirinya sendiri. Ini menjadi cermin penting bahwa keseimbangan bukan hanya berlaku bagi alam semesta, tetapi juga bagi tubuh manusia. Pola hidup sehat, pengelolaan stres, lingkungan yang bersih, serta akses kesehatan yang baik menjadi bagian penting dalam menjaga harmoni kehidupan.

Sementara itu, kesadaran sosial tampak dalam perjuangan para Odapus, sebutan bagi Orang dengan Lupus, yang masih menghadapi stigma dan diskriminasi. Tidak sedikit yang dianggap lemah, mencari alasan, bahkan dikira membawa penyakit menular. Padahal mereka membutuhkan dukungan moral, akses pengobatan, dan ruang sosial yang manusiawi. Solidaritas menjadi obat yang tak kalah penting dari terapi medis. Ketika masyarakat berhenti menghakimi dan mulai memahami, di situlah kemanusiaan menemukan maknanya.

Berbagai kegiatan rutin digelar setiap 10 Mei di berbagai negara. Kampanye pita ungu, seminar kesehatan, pemeriksaan dini, webinar riset, hingga aksi berbagi cerita dari para Odapus menjadi bagian dari gerakan global agar lupus lebih dikenal. Di Indonesia, Yayasan Lupus Indonesia bersama tenaga kesehatan dan relawan terus mendorong edukasi publik serta akses pengobatan yang lebih baik.

Di lingkungan kampus dan politeknik, momentum ini dapat menjadi ruang edukasi yang kuat. Mulai dari penggunaan dresscode ungu, kuliah umum tentang lupus, pemeriksaan kesehatan gratis, hingga kampanye media sosial bertema “Make Lupus Visible”. Generasi muda bukan hanya diajak memahami penyakit, tetapi juga belajar membangun empati sosial.

Hari Lupus Sedunia akhirnya bukan sekadar peringatan kesehatan, melainkan panggilan kemanusiaan. Bahwa ada jutaan orang yang sedang berjuang dalam diam dan membutuhkan satu hal sederhana dari dunia: dipahami.

Karena tidak semua sakit terlihat, tetapi setiap penderitaan tetap layak mendapat perhatian.**


Indonesia, 10 Mei 2026
——-

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!