Kecerdasan Spiritual Perlu Bagi Pemimpin dan Rakyat Untuk Bersinergi Membangun Bersama
Oleh Jacob Ereste
Wartawan Lepas
Kesadaran yang menggetarkan rasa untuk bersyukur itu berpusat di kedalaman hati atas pemahaman terhadap kasih dan sayang Tuhan yang telah melimpahkan berkah-Nya dalam bentuk nikmat, kebahagiaan dan kegembiraan yang diperoleh bukan semata-mata atas hasil usaha dan kerja keras yang dilakukan sendiri, tetapi dapat disadari atas perkenaan Tuhan yang memiliki peran sangat menentukan dan tidak bisa diabaikan begitu saja. Karena itu, rasa syukur perlu dilakukan manusia sebagai ekspresi dari rasa terima kasih sejalugus bentuk penghormatan dan penghargaan manusia dengan sepenuh hati yang bernilai spiritual tiada terkira batasnya.
Ibarat tubuh yang membutuhkan ruh sebagai penanda adanya bathin atau jiwa, maka keberadaan dari raga manusia tidak sekedar disadari sebagai unsur materi belaka. Karena itu bisa segera dibayangkan ketika manusia tidak lagi memiliki ruh dan jiwa atau pun batin, maka sebutan dari sosoknya yang abdol adalah jasad. Begitulah perubahan
manusia menjadi sekedar fisik, sehingga tak lagi memiliki arti dalam hidup dan kehidupan, karena fisik manusia tidak lagi mempunyai nilai apa-apa, hanya perlu dilakukan kemudian sosok manusia yang telah menjadi jadad itu perlu dikebumikan atau disemayamkan di pekuburan. Atau bahkan diperabukan setelah dibakar untuk kemudian abu dari jasad yang yang bersangkutan terus dilarung ke laut.
Manusia sebagai makhluk ciptaan yang sempurna — ketika jiwa dan raganya berfungsi dengan sempurna, antara raga dan jiwanya. Dan di dalam jiwa inilah terdapat bathin semacam sinyal penunjuk arah agar tubuh dan jiwa manusia tidak sampai tersesat di jalan terang. Artinya, bagaimana bisa dipercaya agar tidak sesat di jalan yang gelap. Sebab di jalan yang terang saja — seperti yang sudah memiliki pedoman dari alkitab yang diturunkan dari langit, lebih dari sekedar cukup untuk memberi petunjuk serta bimbingan agar manusia dapat menjadi yang baik dan benar, tidak hanya secara fisik, tetapi juga dalam pengetian bathin yang mengendalikan ruh dan jasad agar seimbang dan harmoni menampilkan sosok manusia dalam rangkuman atau rangkaian antara ruh dan badan yang kelak ketika berpisah hanya akan menjadi jadad semata.
Karena itu dalam berbagai ekspresi manusia yang terbatas, orang hanya bisa menyebut eksistensi manusia dalam bentuk jiwa dan raga. Kendati dalam proses terbenruknya manusia saat berada dalam kandungan, pada usia tertentu dari cikal bakal janin manusia baru diberi nyawa atau ruh, sehingga hidup untuk kemudian mati dan meninggalkan jasad. Karena itu jiwa dan raga atau ruh dan jasad akan sangat berarti disebutjan dalam arti sebagai manusia yang memiliki ruh dan jasad. Bila tidak, maka sosoknya hanya akan disebut sebagai mayit.
Agaknya, metapora yang religius dan penuh muatan nilai-nilai spuliritual semacam itu dapat juga dipahami dalam pengertian antara negara dan bangsa. Jika negara dapat dipahami sebagai wadahnya, maka isi atau ruhnya adalah bangsa itu sendiri yang akan mewarnai tanpilan negara itu yang dimiliki oleh suatu bangsa yang memiliki sikap dan kepribadian yang baik dan unggul — luhur — tidak sampai diombang-ambingkan oleh bangsa lain. Dalam konteks inilah pengertian dan pemahanan serta kesadaran spiritual sebagai penegak etika, moral dan akhlak suatu bangsa — apalagi untuk seorang pemimpin — sangat diperlukan dalam upaya menbangun karakter manusia, atau suatu bangsa yang kuat dan bermartabat. Oleh karena itu, karakter manusia yang luhur dan mulia itu akan selalu ditandai dari sikap militansinya terhadap hal-hal yang bersifat material atau spiritual, sebab sifat dan sikap manusia akan ditentukan oleh pandangan hidupnya — kalau tidak bisa disebut semacam ideoligi atau keimanan dalam perspektif agama.
Dalam perspejtif politik dan ketatanegaraan, agaknya pengertian serupa inilah yang dimaksud dari ideologi kapitalis yang berseberangan dengan sosialisme selalu terkesan lebih memiliki nilai-nilai religius dan spiritual dibanding kapitalisme yang khas memiliki sikap dan sifat individual — tidak memiliki sifat dan sikap gotong royong, jauh dari sistem kekeluargaan maupun sistem tata kelola ekonomi model koperasi seperti yang seharusnya diterapkan dan unggul di Indonesia.
Kesadaran yang menggetarka rasa untuk bersyukur dari setiap orang dapat menjadi awal dari pembuka jalan spiritual yang lebih intens dan khusuk untuk memasuki wilayah religius atau suasana spiritual yang lebih sakral untuk memahami betapa pentingnya kecerdasan dan kemampuan spiritual bagi manusia untuk menjaga sekaligus mempertahankan harkat martabat dan kemuliaan agar tidak tergerus oleh arus perubahan jaman yang melabrak dan membentur apa saja seperti yang dirasaukan oleh Samuel Huntington, Francis Fukuyama dan sejumlah penilik masa depan umat manusia yang selalu meresahkan hati. Sementara jiwa dan raga sebagai sumber kehidupan dan spiritualitas manusia akan terus teruji dalam setiap jengkal dari proses perjalanan waktu yang tidak pernah manusia rasakan sendiri pengalaman dari mati, berikut dari sumber daya penggerak sekaligus pembangkit spiritual itu sendiri. Begitulah, spiritualitas sebagai mesin penggerak kesadaran untuk membangun nilai-nilai luhur dalam hidup dan kehidupan manusia hingga karakter dan kepribadian yang kuat bermartabat, tak mau memberi peluang sekecil apapun pada sikap khianat bukan saja kepada dirinya sendiri, tetapi juga tidak kalah penting bagi orang lain.
Sikap dan sifat yang kukuh dan kuat dalam karakter dan kepribadian serupa ini tidak hanya diperlukan oleh seorang pemimpin dalam bidang apapun, tetapi juga sangat diperlukan bagi seluruh rakyat agar dapat ikut menjaga dan membangun peradaban yang lebih mencerahkan bagi hidup dan kehidupan manusia di bumi.**
Banten, 7 Maret 2026
——-
![]()
