Bukber: Dari Meja Makan ke Meja Persaudaraan
Oleh : Ali Aminulloh
Ramadhan selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Senja terasa lebih dinanti, azan magrib terdengar lebih menggetarkan, dan manusia seakan dipanggil untuk kembali merajut kebersamaan. Di tengah suasana itu, ada satu tradisi yang hampir selalu hadir di setiap Ramadhan: buka bersama atau yang akrab disebut bukber.
Bukber bukan sekadar makan setelah seharian berpuasa. Ia adalah peristiwa sosial yang mempertemukan banyak hati dalam satu meja, satu waktu, dan satu rasa syukur.
Di berbagai tempat, tradisi ini tumbuh dengan warna yang beragam. Pelajar mengadakan bukber bersama teman sekolah. Anak muda mengatur pertemuan lama yang sempat tertunda. Kelompok pengajian menjadikannya sarana silaturahmi. Bahkan para pejabat negara pun menjadikannya momentum mempererat hubungan sosial dan politik.
Tempatnya pun beragam.
Ada yang sederhana di ruang tamu rumah. Ada yang hangat di halaman masjid. Ada pula yang berlangsung di rumah makan, kafe, hingga restoran berbintang.
Motifnya juga tidak selalu sama. Ada yang sekadar ingin bersenang-senang. Ada yang ingin menjaga persahabatan. Ada yang memperkuat jaringan sosial. Bahkan ada yang menjadikannya panggung politik.
Namun di balik semua variasi itu, bukber tetap memiliki satu makna yang sama: kebersamaan setelah menahan diri.
Dari Tradisi Nabi
Jika ditelusuri lebih dalam, tradisi berbuka bersama bukanlah sesuatu yang baru. Sejak masa Nabi Muhammad SAW, momen berbuka sudah menjadi waktu yang penuh dengan semangat berbagi.
Rasulullah SAW tidak hanya berbuka bersama para sahabat, tetapi juga menganjurkan umatnya untuk memberi makan orang yang berpuasa.
Dalam sebuah hadis disebutkan:
“Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi pahala orang tersebut sedikit pun.”
(HR. Tirmidzi)
Hadis ini menunjukkan bahwa berbuka bukan sekadar urusan pribadi antara manusia dan lapar yang ia tahan, tetapi juga menjadi ruang untuk menghadirkan solidaritas sosial.
Karena itu, di masa Rasulullah, berbuka sering menjadi momentum berbagi makanan dengan sesama, terutama kepada mereka yang membutuhkan.
Tradisi Dunia Islam
Tradisi buka puasa bersama juga tidak hanya hidup di Indonesia. Hampir di seluruh dunia Muslim, budaya ini tumbuh dengan cara yang berbeda-beda.
Di Mesir dikenal iftar jama’i, yakni buka bersama yang sering digelar di jalanan panjang dengan meja besar yang dipenuhi makanan.
Di Turki, masyarakat berkumpul di masjid atau alun-alun kota untuk berbuka bersama.
Di Pakistan, tradisi iftari menghadirkan berbagai hidangan yang dibagi bersama keluarga dan tetangga.
Sementara di Malaysia, masyarakat menyebutnya buka puasa, sering dilakukan di masjid atau pusat komunitas.
Nama dan bentuknya boleh berbeda, tetapi ruhnya tetap sama: membangun kebersamaan di bulan yang penuh rahmat.
Bukber dan Makna Silaturahmi
Di Indonesia, istilah bukber sendiri mulai populer sekitar dua dekade terakhir. Budaya menyingkat kata yang berkembang di kalangan anak muda dan media sosial membuat istilah “buka bersama” berubah menjadi lebih ringkas dan akrab.
Namun sesungguhnya, esensinya tidak pernah berubah.
Bukber adalah alasan sederhana untuk mempertemukan orang-orang yang lama tidak berjumpa. Ia menjadi jembatan yang mempertemukan sahabat lama, mempererat keluarga, dan menyambung kembali hubungan yang sempat renggang.
Dalam suasana Ramadhan yang penuh keberkahan, satu piring kurma dan segelas air sering kali mampu membuka kembali pintu-pintu hati yang lama tertutup.
Lebih dari Sekadar Makan
Pada akhirnya, bukber bukan soal menu apa yang dihidangkan. Bukan pula tentang tempat yang mewah atau sederhana.
Bukber adalah tentang menghadirkan manusia lain di dalam kebahagiaan kita.
Ramadhan mengajarkan bahwa setelah seharian menahan lapar dan dahaga, kebahagiaan yang paling terasa bukan hanya ketika makanan tersaji di depan mata.
Tetapi ketika makanan itu dinikmati bersama.
Karena di situlah Ramadhan menunjukkan wajahnya yang paling indah:
bukan sekadar menahan diri, tetapi menyambung kembali tali kemanusiaan.**
Indonesia, 6 Maret 2026
——-
![]()
