Al Zaytun: Laboratorium Kedaulatan Pangan


Al Zaytun: Laboratorium Kedaulatan Pangan

Oleh: Dr.Ali Aminulloh, M.Pd.I. ME.

Dari Pesantren, Model Integrated Farming untuk Generasi Sehat dan Cerdas

Ahad, 22 Februari 2026, suasana di Al Zaytun terasa lebih dari sekadar agenda rutin pendidikan. Dalam kuliah umum sempena Pelatihan Pelaku Didik Berkelanjutan Menuju Transformasi Pendidikan Berasrama menuju Indonesia Modern dan 100 Tahun Usia Kemerdekaan Indonesia, hadir sebagai narasumber Prof. Dr. Ir. Ali Agus, DAA., DEA., IPU., ASEAN Eng., Guru Besar Bidang Peternakan UGM sekaligus Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Peternakan.

Dalam forum tersebut, beliau membawakan materi bertajuk:
“Integrated Farming: Merawat Bumi, Memproduksi Bahan Pangan Thayyib untuk Generasi Sehat dan Cerdas.”

Namun kuliah umum itu tidak berhenti sebagai paparan akademik. Ia menjelma menjadi refleksi besar tentang masa depan bangsa bahwa pendidikan berasrama, ketahanan pangan, dan visi Indonesia Emas 2045 tidak bisa dipisahkan dari persoalan gizi, ekosistem pertanian, dan integritas pengelolaan sumber daya.

Pesantren sebagai Pusat Eksperimen Peradaban

Dalam pandangan Prof. Ali, Al Zaytun bukan sekadar lembaga pendidikan. Ia adalah ekosistem hidup sebagai miniatur peradaban yang mengintegrasikan pendidikan karakter, pertanian, peternakan, dan spiritualitas dalam satu sistem yang saling menguatkan.

Transformasi pendidikan menuju Indonesia modern tidak hanya berbicara tentang kurikulum dan teknologi digital. Ia harus berbicara tentang kemandirian pangan, kesehatan generasi, dan keberlanjutan lingkungan.

Jika bonus demografi tidak diiringi dengan kecukupan gizi dan karakter kuat, ia dapat berubah menjadi beban demografi. Di sinilah Al Zaytun diuji, dan sekaligus membuktikan dirinya sebagai laboratorium nyata.

Integrated Farming: Praktik Nyata Menuju Kedaulatan

Konsep integrated farming yang dipaparkan bukan sekadar teori. Ia adalah pendekatan sistemik: tanaman, ternak, limbah, pupuk organik, energi biogas, semuanya terhubung dalam satu siklus keberlanjutan.

Limbah ternak diolah menjadi pupuk. Kotoran sapi menjadi sumber energi. Pakan difermentasi untuk efisiensi dan kualitas. Bahkan inovasi seperti “Sapi Gama” dan “Telur Ayam Bahagia” menunjukkan bahwa sains, etika, dan keberlanjutan dapat berjalan beriringan.

Di titik ini, Al Zaytun benar-benar tampil sebagai laboratorium terbuka, tempat ilmu diuji dalam praktik, bukan hanya dipresentasikan dalam slide.

Pangan Thayyib dan Generasi 100 Tahun Indonesia

Menuju satu abad kemerdekaan Indonesia, tantangan terbesar bukan hanya ekonomi dan politik, tetapi kualitas manusia.

Pangan halal dan thayyib menjadi fondasi. Protein hewani: daging, telur, susu, menjadi kunci kecerdasan dan kesehatan generasi.

Dalam konteks pendidikan berasrama, ketersediaan pangan sehat bukan pelengkap, tetapi syarat mutlak pembentukan generasi unggul.

Dari Miniatur Menuju Model Nasional

Apa yang berlangsung di Al Zaytun memberi pesan kuat: pesantren dapat menjadi pusat transformasi, bukan hanya spiritual, tetapi juga ekologis dan ekonomi.

Jika model ini direplikasi, kemandirian pangan bukan lagi cita-cita, melainkan sistem yang bisa dibangun dari akar rumput.

Merawat Bumi, Menyiapkan Indonesia Modern

Kuliah umum itu menegaskan satu hal: merawat bumi adalah bagian dari strategi membangun Indonesia modern.

Pendidikan berasrama, kedaulatan pangan, dan visi 100 tahun kemerdekaan Indonesia bertemu dalam satu gagasan besar, yaitu membangun generasi yang wareg, waras, wasis, Wismo, dan wibowo.

Dan di Ahad itu, 22 Februari 2026, Al Zaytun tidak hanya menjadi tuan rumah sebuah kuliah umum.
Ia tampil sebagai laboratorium hidup kedaulatan pangan Indonesia.

Merdeka.


Indramayu, 24 Februari 2026
———

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!