Dari Ruang Diskusi ke Masa Depan Bangsa: Mengapa Kurikulum Bisa Menjadi Soal Hidup dan Mati Indonesia?
Oleh: Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I. ME
Apa jadinya jika kurikulum tidak lagi sekadar daftar mata pelajaran, tetapi peta jalan sebuah peradaban?
Apa jadinya jika ruang rapat berubah menjadi ruang perenungan tentang iman, bangsa, kekuasaan, dan masa depan Indonesia?
Kamis pagi, 29 Januari 2026, di ruang khas Masjid Rahmatan Lil Alamin Al Zaytun, sebuah diskusi kurikulum justru menjelma menjadi forum kesadaran. Bukan hanya tentang bagaimana anak belajar membaca atau berhitung, melainkan mengapa sebuah bangsa harus belajar untuk bertahan hidup.
Forum itu bernama Diskusi Kurikulum L-STEAMS.
Dipimpin oleh Syaykh AS Panji Gumilang, pertemuan ketiga ini sejak awal tidak diarahkan untuk sekadar menyempurnakan dokumen akademik. “Kurikulum,” tegas Syaykh, “adalah landasan untuk menyampaikan visi dan misi hidup kita.” Maka ia tidak boleh dangkal. Ia harus berpijak pada akidah, sejarah, seni, hukum, dan pengalaman bangsa-bangsa besar yang pernah jatuh dan bangkit kembali.
Kurikulum dan Akidah Bangsa
Di sinilah diskusi mulai bergerak melampaui kebiasaan. L-STEAMS bukan hanya singkatan disiplin ilmu. Law menjiwai seluruh unsur. Spiritual tidak berhenti pada ritual, tetapi ditarik ke akar Akidah Syariah sebagai keyakinan kebangsaan.
Syaykh mengajak peserta memikirkan ulang makna akidah: bukan sekadar rukun iman, tetapi daya ikat keyakinan kolektif, seperti sumpah “Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa.” Itulah akidah Indonesia.
Ia menyebut road map membangun akidah dalam tiga stanza, sebagaimana prinsip hidup dan kehidupan: akar, batang, dan buah. Ontologi, epistemologi, dan aksiologi yang dalam bahasa tauhid bermakna rububiyah, mulkiyah, dan uluhiyah. Di situlah kurikulum seharusnya berdiri.
Stalin, Hitler, dan Pelajaran tentang Keteguhan
Tak disangka, diskusi kurikulum berkaca ke sejarah dunia. Syaykh mengisahkan Stalin. Ia tokoh yang kerap digambarkan buruk oleh Barat, namun memiliki satu kekuatan: keteguhan memegang janji dan keberanian mempertahankan tanah air.
Ketika Stalingrad diinjak Nazi, ketika jutaan rakyat Soviet mati dalam suhu minus 46 derajat, Stalin tidak menyerah. Ia mengamankan pabrik, memerintahkan produksi tank di tengah perang, dan akhirnya mendorong balik hingga Berlin Timur.
Pesannya tajam: bangsa bisa dihancurkan secara fisik, tetapi tidak akan runtuh jika akidahnya hidup.
“Yang menang adalah mereka yang punya keyakinan,” ujar Syaykh. Dan itulah yang ingin ditanamkan sejak dini melalui kurikulum.
Nasionalisme yang Tidak Pernah Menyerah
Bagi Syaykh, nasionalisme sejati bukan slogan. Nasionalisme adalah bertahan sambil terus bergerak maju meski diserang. Pendidikan, katanya, adalah simbol tertinggi dari ketahanan itu.
Beliau mengingatkan: tokoh besar dunia tidak lahir dari nasab besar. Hitler hanyalah kopral. Stalin pernah bercita-cita menjadi pendeta. Namun keyakinan ideologis membuat mereka mengubah arah sejarah.
Indonesia, menurutnya, sedang berada di pusaran tekanan global. Masuk BRICS, lalu dihadapkan pada perjanjian-perjanjian besar. Bangsa yang tidak punya akidah kebangsaan akan mudah goyah.
Dari “Siswa” ke “Tunas”
Diskusi menjadi sangat konkret ketika menyentuh pendidikan anak usia dini. Syaykh tidak menggunakan istilah “siswa PAUD”. Anak-anak PAUD itu, kata beliau, adalah Tunas, bukan sekadar peserta belajar, tetapi bibit masa depan bangsa.
“Tunas itu sangat penting,” ujarnya. “Kalau tunas rusak, pohonnya tidak akan pernah kuat.”
Penilaian pun tidak lagi sekadar angka, melainkan narasi keseharian. Guru PAUD dituntut benar-benar memahami anak, bukan sekadar mengisi rapor. Bahkan disarankan, guru PAUD adalah mereka yang matang secara pengalaman hidup, karena di situlah pondasi manusia dibentuk.
Seni, Humor, dan Keindahan dalam Ilmu
L-STEAMS juga menempatkan Art bukan sebagai pelengkap, tetapi sebagai roh pembelajaran. Sains tanpa keindahan akan kaku. Hukum tanpa seni akan menindas. Humor, guyon, gerak tubuh, semuanya adalah hindam, gaya hidup ilmu yang anggun dan manusiawi.
“Kalau pintar guyon, memukul pun tidak terasa,” kata Syaykh sambil tertawa, mengenang pengalamannya di pengadilan. Seni, baginya, adalah cara menjaga kemanusiaan tetap utuh.
Kurikulum sebagai Sejarah Hidup
Menjelang akhir, Syaykh menegaskan: semua draft harus dicetak, dibaca, dianalisa, dibuat coretan catatan, disimpan, dan didokumentasikan. Bahkan coretan adalah sejarah. Kurikulum tidak lahir sekali jadi. Ia diuji, diubah, didalami namun tetap berpijak pada prinsip.
Indonesia, katanya, terlalu sering mengganti kurikulum karena ganti menteri. Itu tanda belum matang. Bangsa besar mempertahankan kurikulumnya, hanya menyesuaikan kelayakan zaman.
Diskusi ditutup pukul 12.07. Namun sesungguhnya, yang ditutup hanyalah pertemuan. Pertanyaannya justru baru dibuka:
apakah pendidikan kita akan terus menjadi rutinitas administratif,
atau berani menjadi peta jalan untuk menjaga keabadian bangsa?
Di Al Zaytun, hari itu, kurikulum tidak lagi sekadar urusan sekolah.
Ia berubah menjadi ikrar pendidik untuk Indonesia Raya.**
Indonesia, 31 Januari 2026
——–
![]()
