“Al-Hikmah” Di Era AI: Harta Manusia Paling Berharga
Oleh : Ali Aminulloh
Dunia hari ini tidak lagi sekadar menawarkan kemudahan, ia sedang menggelar panggung manipulasi yang sangat sempurna. Bayangkan sebuah realitas di mana mata tak lagi bisa dipercaya dan telinga tak lagi bisa menjamin kebenaran. Fenomena AI-enabled crime telah meledak; mulai dari penipuan deepfake korporat yang melenyapkan Rp400 miliar dalam sekejap hingga kloning suara yang hanya butuh durasi tiga detik untuk memalsukan jeritan minta tolong anggota keluarga kita. Dengan lonjakan serangan phishing hingga 1.265% dan pencatutan wajah pemimpin negara untuk investasi bodong, kita sedang berada di titik nadir keamanan informasi. Inilah latar belakang kelam yang memaksa kita sadar: jika kita hanya mengandalkan “pintar” secara teknis, kita sedang berjalan menuju tepi jurang kecelakaan yang fatal.
Al-Qur’an telah memberikan peringatan jauh sebelum algoritma diciptakan melalui Surah Al-Insyiqaq ayat 19: “Latar-kabunna thabaqan ‘an thabaq”: sungguh, kamu akan menjalani tahap demi tahap. Kita sedang mendaki lapisan kecerdasan yang semakin menipiskan batas antara manusia dan mesin. Dulu, di era Print, “pintar” adalah tentang ketahanan melahap bacaan kitab (QS. Al-Qalam: 1). Kemudian masuk era Search, di mana kepintaran berpindah pada kemampuan navigasi mencari informasi (QS. An-Nahl: 43). Namun, di era Algoritma dan Generative AI, kita mulai terperangkap. Kita disodorkan informasi tanpa filter, bahkan didorong untuk menjadi “pemberi nama” bagi konsep-konsep baru (QS. Al-Baqarah: 31). Masalahnya, ketika mesin mulai bertindak mandiri sebagai Agentic AI, kepintaran manusia untuk sekadar memproses data menjadi tidak relevan lagi.
Di tengah kepungan deepfake vulgar yang merusak martabat hingga skema romance scam yang menghancurkan hati dan harta, satu-satunya benteng yang tersisa adalah Al-Hikmah. Al-Qur’an menegaskan: “Barangsiapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak” (QS. Al-Baqarah: 269). Hikmah bukan sekadar tahu cara menggunakan AI, tapi tahu kapan harus meragukannya. Hikmah adalah kemampuan “melihat” dengan mata hati ketika mata fisik disuguhi video palsu, “mendengar” dengan nurani ketika telinga disuguhi suara kloning, dan “merespon” dengan ketenangan (tabayyun) ketika jari tangan gatal untuk menekan tombol kirim atau transfer uang.
Inilah alasan mengapa kita harus bijaksana dalam mengelola informasi.
Tanpa Hikmah, setiap pesan WhatsApp adalah potensi jebakan, setiap video adalah potensi fitnah, dan setiap data adalah potensi bencana. Hikmah mengajarkan kita untuk meletakkan sesuatu pada tempatnya (Wadh’u syai’in fi mahallihi). Di masa depan yang penuh dengan agen AI mandiri, dunia tidak lagi butuh manusia yang sekadar cepat merespon, tapi manusia yang dalam merenung.
Teknologi sedang “mengusir” kita dari pekerjaan-pekerjaan teknis agar kita kembali pada fitrah sebagai Khalifah. Kita dipaksa berhenti menjadi robot biologis yang hanya bisa bereaksi, dan mulai menjadi manusia yang sanggup memberi nilai (value). Pintar saja tidak lagi cukup; di hadapan Agentic AI yang bisa memalsukan segalanya, hanya kejernihan Hikmah yang bisa menyelamatkan kita dari kesalahan dan kecelakaan hidup. Jika kamu bersaing dengan AI dalam kecepatan, kamu kalah. Tapi jika Anda berdiri sebagai pemegang Al-Hikmah (sang pemberi makna) Anda adalah pemilik harta paling berharga yang takkan pernah bisa dipalsukan oleh algoritma mana pun.**
Indonesia, 27 Januari 2026
——-
![]()
