Menembus Langit Batas Diri: Romansa Perjuangan Khoerun dalam Dekapan Sapta Janji
INDRAMAYU-JAYA NEWS.CON – Pagi itu, Kamis, 15 Januari 2026, jarum jam seolah berdetak lebih lambat di Kampung Sandrem, Desa Mekarjaya. Di tengah keheningan awal tahun, seorang pria menatap layar gawai dengan mata berkaca-kaca. Di sana, di laman hasil studi Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), terukir sebuah angka yang bukan sekadar nilai akademik: IPK 3.72.
Bagi Khoerun, angka itu adalah sebuah proklamasi kemerdekaan. Kemerdekaan dari belenggu keterbatasan masa lalu dan bukti sahih bahwa takdir bisa diubah dengan keteguhan hati.
Cahaya dari Sang Inspirator
Kilas balik ke dua dekade silam, Khoerun bukanlah siapa-siapa. Ia datang ke Al-Zaytun hanya dengan selembar ijazah SMP dan semangat untuk mengabdi. Namun, ia berada di bawah naungan sebuah visi besar: Al-Zaytun Pusat Pendidikan Pengembangan Budaya Toleransi dan Perdamaian Menuju Masyarakat Sehat, Cerdas, dan Manusiawi.
Di sinilah ia bertemu dengan sang inspirator, Syaykh Al-Zaytun Syaykh AS Panji Gumilang, S.Sos., M.P. Seorang tokoh yang percaya bahwa setiap manusia, tak peduli apa latar belakangnya berhak mendaki tangga pendidikan setinggi mungkin. Atas kemurahan hati beliau, pintu-pintu sekolah dewasa dibuka lebar bagi para karyawan yang ingin meng-upgrade diri.
Jalan Terjal Menuju Puncak
Perjalanan Khoerun adalah sebuah romansa antara kerja keras dan kesempatan. Ia memulai langkah panjangnya dari bawah:
1. Tahun 2005: Ia menuntaskan program Paket C di Sekolah Dewasa Al-Zaytun.
2. Tahun 2020: Ia meraih gelar Strata Satu (S1) di Institut Agama Islam Al-Zaytun Indonesia, Fakultas Syariah.
3. Tahun 2026: Ia kini berdiri di puncak studi Magister (S2) Pendidikan Non Formal di UNY.
Melalui program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) berdasarkan Permendikbudristek No. 41 Tahun 2021, pengalaman kerja Khoerun selama bertahun-tahun diakui sebagai bekal akademik. Namun, menjalani kuliah hybrid (online dan offline) di tengah tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga dan tutor di PKBM Al-Zaytun bukanlah perkara mudah.
“Hari-hari saya adalah pengabdian di ladang peradaban, dan sisa hari saya adalah pergulatan dengan buku. Di sela tugas sebagai tutor dan pengelola devisi kewirausahaan, saya memeras pikiran demi portofolio dan tugas kuliah. Ruang dan waktu bukan lagi penghalang, melainkan panggung untuk terus tumbuh,” ungkap Khoerun.
Menepati Janji Suci
Apa yang dicapai Khoerun hari ini bukan sekadar mengejar gelar. Ini adalah refleksi mendalam dari pelaksanaan Sapta Janji Darma Bakti yang ketujuh:
“Saya akan pantang menyerah dalam belajar, berbakti, dan mewariskan nilai.”
Capaian IPK 3.72 ini ia persembahkan sebagai bukti baktinya. Sebagai tutor di PKBM Al-Zaytun, ia kini menerapkan ilmu yang didapatnya untuk mengembangkan pembelajaran berbasis proyek, sebuah implementasi nyata dari tugasnya di divisi kewirausahaan dan pemasaran.
Penutup: Fajar di Kampung Sandrem
Di ufuk Kampung Sandrem, matahari mungkin terbenam setiap sore, namun di dalam dada Khoerun, fajar baru saja menyingisng. Ia bukan sekadar angka dalam statistik kelulusan; ia adalah bukti hidup bahwa ijazah SMP bukanlah garis finish, melainkan hanya titik start dari sebuah lari maraton yang suci.
Kini, setiap langkahnya di koridor Al-Zaytun bukan lagi sekadar langkah seorang pengajar, melainkan langkah seorang pejuang yang telah menaklukkan keterbatasan dirinya sendiri. Ia telah menepati janji ketujuh pada semesta: untuk tidak pernah berhenti belajar, untuk terus berbakti, dan untuk mewariskan api semangat itu kepada jiwa-jiwa lain yang hampir menyerah.
Khoerun telah membuktikan: ketika kemauan bertemu dengan kemurahan hati sang guru, dan ketekunan bertemu dengan doa keluarga, maka tak ada dinding yang terlalu tinggi untuk dipanjat, tak ada mimpi yang terlalu jauh untuk didekap. Ia adalah lentera yang kini menyala terang, siap membakar kegelapan ketidaktahuan di sekelilingnya.***
*Khoerun
Tutor PKBM Al Zaytun
*Dr. Ali Aminulloh (Editor )
——-
![]()
