Jejak Sejarah Kristen di Mojowarno: Potensi Wisata Religi yang Terlupakan
JOMBANG-JAYA NEWS.COM –Jombang yang selama ini dikenal sebagai Kota Santri, ternyata menyimpan potensi wisata religi Kristen yang belum banyak diketahui masyarakat. Hal ini terungkap dari kunjungan seorang pemerhati sejarah asal Surabaya, Dian Karadona, yang melakukan penelusuran situs-situs bersejarah peninggalan masa kolonial Belanda di Mojowarno pada Minggu (11/1/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Dian meneliti sejumlah lokasi bersejarah yang berkaitan dengan awal penyebaran agama Kristen di Jawa Timur, khususnya melalui pendekatan akulturasi budaya Jawa yang melahirkan Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW). Penelusuran ini membuka wawasan baru tentang keberagaman sejarah keagamaan di Jombang.
Perjalanan sejarah dimulai dari bangunan Gereja GKJW Mojowarno yang menjadi saksi bisu penyebaran agama Kristen dengan pendekatan kultural.
Gedung gereja berarsitektur kolonial ini mulai dibangun pada 24 Februari 1879 dan diresmikan penggunaannya pada 3 Maret 1881. Bangunan ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga simbol akulturasi budaya Jawa dan Kristen yang unik.
“Mojowarno merupakan awal penyebaran agama Kristen dengan cara akulturasi budaya Jawa, sehingga melahirkan GKJW. Ini menunjukkan pendekatan yang sangat menghormati budaya lokal,” jelas Dian, saat ditemui di lokasi penelusuran.
Dari gereja, perjalanan dilanjutkan ke pemakaman umum yang terletak sekitar satu kilometer di sebelah timur. Di kompleks pemakaman ini tersimpan makam tokoh-tokoh penting yang berjasa dalam perkembangan pelayanan kesehatan modern di Mojowarno.
Salah satu makam yang menjadi perhatian adalah makam Pendeta Johannes (Jan) Kruyt beserta putranya, Arie Kruyt. Keduanya tercatat sebagai penggagas berdirinya “Kamar Jamu” yang menjadi cikal bakal Rumah Sakit Kristen Mojowarno. Lembaga kesehatan ini diresmikan pada 6 Juni 1894 oleh Bupati Mojokerto dan Jombang kala itu, Raden Adipati Ario Kromodjojo Adi Negoro.
Keberadaan rumah sakit ini menandai dimulainya era pelayanan kesehatan modern bagi masyarakat di wilayah tersebut. Pelayanan yang awalnya sederhana dalam bentuk “Kamar Jamu” berkembang menjadi rumah sakit yang terorganisir dengan baik.
Di kompleks pemakaman yang sama, terdapat pula makam beberapa direktur rumah sakit yang berasal dari Belanda, di antaranya Dr. Bervoets dan Dr. A. Nortier. Para tenaga medis ini melanjutkan estafet pelayanan kesehatan yang telah dimulai oleh keluarga Kruyt, menunjukkan dedikasi jangka panjang dalam melayani masyarakat Mojowarno.
Penelusuran kemudian berlanjut ke Dusun Mojoroto, Desa Mojowangi, untuk mengunjungi makam Pendeta J.E. Jellesma. Beliau merupakan pendeta utusan dari Nederlandsche Zendeling Genootschap (NZG), sebuah lembaga yang mengirimkan misionaris dari Belanda ke Hindia Belanda pada abad ke-19.
Pendeta Jellesma dikenal sebagai pelopor pelayanan kesehatan modern bagi masyarakat Mojowarno. Beliau memperkenalkan metode pengobatan modern yang berbeda dari praktik pengobatan tradisional yang ada saat itu. Karya dan dedikasi Pendeta Jellesma inilah yang kemudian diteruskan oleh Pendeta Johannes Kruyt dan putranya, menjadikan pelayanan kesehatan sebagai bagian integral dari misi kemanusiaan mereka.
Dari kunjungan ini, Dian Karadona mengungkapkan pandangan menarik tentang potensi Jombang sebagai destinasi wisata religi yang plural.
“Jombang yang selama ini identik dengan Kota Santri serta menjadi tujuan peziarah Islam di Makam pendiri Ponpes Tebuireng, ternyata juga memiliki potensi sebagai tempat tujuan peziarah umat Kristen, khususnya umat GKJW untuk napak tilas penyebaran agama Kristen,” ungkapnya.
Menurutnya, keberadaan situs-situs bersejarah Kristen di Mojowarno menunjukkan bahwa Jombang adalah kota yang memiliki sisi pluralisme yang menarik untuk dikembangkan. Hal ini menjadi aset berharga yang dapat memperkaya khazanah keberagaman di Indonesia.
“Dari sisi ini, menunjukkan bahwa Jombang adalah kota yang memiliki sisi pluralisme yang menarik untuk dikembangkan. Bukan hanya untuk umat Islam, tetapi juga umat Kristen memiliki tempat bersejarah yang penting di sini,” tambah Dian.
Dian menyampaikan bahwa dirinya cukup terkesan dengan kekayaan sejarah yang tersimpan di Mojowarno. Namun, ia juga mengkhawatirkan kondisi pelestarian situs-situs tersebut yang menurutnya masih perlu mendapat perhatian lebih serius.
“Diperlukan upaya pelestarian situs-situs budaya yang ada di Mojowarno, baik berupa benda maupun non-benda. Ini termasuk bangunan bersejarah, makam-makam tokoh penting, serta dokumentasi sejarah lisan dan arsip,” tegasnya.
Ia berharap pemerintah daerah, komunitas sejarah, dan masyarakat dapat bersinergi dalam menjaga dan merawat warisan sejarah ini. Pelestarian yang baik tidak hanya akan menjaga memori kolektif masyarakat, tetapi juga dapat menjadi aset wisata religi dan edukasi yang bernilai tinggi.
Kunjungan Dian Karadona ini diharapkan dapat membuka mata berbagai pihak tentang potensi wisata sejarah dan religi yang tersimpan di Mojowarno, sekaligus mendorong upaya pelestarian yang lebih komprehensif untuk menjaga warisan budaya daerah.**
Lukius,
Kontributor Jombang
—–
![]()
