Siapa Bilang Tidak Bisa? Ketika Keyakinan Menjadi Pintu Penguasaan Al Qur’an


Siapa Bilang Tak Bisa? Ketika Keyakinan Menjadi Pintu Penguasaan Al Qur’an

Oleh Ali Aminulloh

Apakah membaca Al-Qur’an sudah cukup untuk disebut menguasainya? Atau justru di sanalah perjalanan sesungguhnya baru dimulai?
Pertanyaan itulah yang mengendap di benak para guru pembimbing asrama ketika malam itu mereka berkumpul pada Senin, 5 Januari 2026, pukul 19.30 WIB di Lantai I Asrama Al Madani Al Zaytun. Sebuah forum evaluasi dan up grading dibuka, bukan sekadar untuk menilai kemampuan, tetapi untuk menggugah kesadaran.

Janji Pengabdian yang Diperbarui

Acara diawali dengan pembacaan Sapta Janji Dharma Bhakti oleh Usth. Nur Fadhilah, S.H. Kalimat demi kalimat janji itu mengalir pelan namun menghunjam, mengingatkan bahwa membimbing Al-Qur’an bukan sekadar tugas struktural, melainkan panggilan pengabdian. Di titik ini, forum bukan lagi agenda rutin, ia berubah menjadi cermin bersama.

Membaca, Memahami, dan Menjadi

Arahan pertama disampaikan ketua Majelis Pengendali Asrama Pelajar (MPAP) Al Zaytun , Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I. ME. Dalam arahannya menegaskan satu takhsis penting Al-Zaytun: penguasaan Al-Qur’an secara mendalam. Membaca adalah gerbang, memahami adalah jalan, dan mengamalkan adalah tujuan.
Namun hasil asesmen berbicara jujur. Dari seluruh guru pembimbing, masih terdapat 51 orang yang berada pada grade C, D, bahkan E. Angka itu bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menyadarkan: ada jarak antara niat dan capaian.

Mengapa jarak itu ada? Faktor diri kerap menjadi sebab utama. Sugesti negatif “saya tidak bisa” menjadi tembok tak kasatmata yang justru paling kokoh. Di sinilah perubahan harus dimulai: dari keyakinan diri.

Belajar dari Sebuah Keyakinan

Ust. Dr. Ali mengisahkan cerita klasik Thomas Alva Edison. Sepucuk surat dari sekolah yang dibacakan sang ibu dengan air mata, namun diubah maknanya menjadi afirmasi: anakmu adalah seorang jenius. Keyakinan itulah yang menumbuhkan semangat Edison kecil hingga kelak dunia menikmati cahaya temuannya.

Kelak, setelah ibunya wafat, Edison menemukan isi surat yang sesungguhnya, sebuah stigma keterbelakangan mental. Ia menangis, menyadari betapa satu keyakinan mampu mengubah nasib. Pesannya jelas: ketika seseorang yakin mampu, ia akan menemukan jalannya, sekalipun dunia berkata sebaliknya.

Dari Mengingat Menuju Mencipta

Arahan Majelis Guru yang disampaikan Drs. Miftakh, M.Pd. mengajak peserta naik satu tangga lagi. Tes qira’at telah memetakan kemampuan dari grade A hingga E. Ada peserta didik yang mampu membaca satu juz beserta artinya. Namun pertanyaan kritis muncul: apakah itu karena hafalan atau karena pemahaman?

Maka pembelajaran harus diuji dengan menerjemahkan menggunakan bahasa sendiri, menafsirkan makna, dan menghidupkan pesan. Di sinilah Taksonomi Bloom menjadi pijakan: dari mengingat, memahami, mengevaluasi, hingga mencipta. Agar efektif, disusunlah SOP. SOP bukan dibuat dari atas lalu diturunkan ke bawah, melainkan dirumuskan oleh para pelaku sendiri. SOP yang lahir dari kesadaran akan lebih mudah dijalani daripada aturan yang dipaksakan.

Target yang Menantang, Niat yang Meneguhkan

Peserta up grading berjumlah 51 orang (4 ustadz dan 47 ustadzah) dengan target yang tak main-main: dua bulan menuju grade A. Keyakinan menjadi bahan bakar utama. Sebab sebaik-baik manusia adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya. Dari sinilah akselerasi penguasaan bacaan dimulai.

Ketekunan sebagai Kunci

Program up grading qira’at yang dipandu Ana Mujahid, S.Pd., menegaskan satu prinsip: sebaik-baik belajar adalah mengajar. Ketekunan menjadi kunci, disertai kompetensi inti pembimbing:

1. Menganalisis hukum bacaan Al-Qur’an.
2. Melafalkan dengan benar sesuai makharijul huruf.
3. Membaca dengan baik dan benar.
4. Menerjemahkan serta memahami makna.
5. Menghafal Al-Qur’an.

Lima kemampuan ini bukan target instan, melainkan proses bertahap yang menuntut kesungguhan.

Epilog: Dari Keyakinan Menuju Cahaya

Malam itu, Asrama Al Madani tak hanya menjadi ruang pelatihan, tetapi ruang pertumbuhan. Evaluasi bukan akhir, melainkan awal. Up grading bukan tentang angka grade, melainkan tentang naiknya keyakinan.

Sebab Al-Qur’an tak cukup dibaca. Ia harus dipahami, diajarkan, dan dihidupkan. Dan setiap perjalanan besar selalu dimulai dari satu langkah kecil: keyakinan bahwa kita pasti mampu. Insya Allah, dalam waktu yang tak lama, cahaya itu akan kian terang.***


Indramayu, 5 Januari 2026
———

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!