Unggul karena Bersama: Kolaborasi dan Keikhlasan Sivitas PKBM Al Zaytun Menjadi Fondasi Akreditasi A
Oleh Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I. ME
Bagaimana mungkin lembaga pendidikan yang kerap dipandang sebagai “jalan kedua” justru mampu mencapai standar tertinggi mutu pendidikan? Bukankah keunggulan biasanya lahir dari fasilitas mewah dan anggaran besar?
Paradoks itulah yang dijawab dengan tenang oleh PKBM Al Zaytun. Predikat Akreditasi A-Unggul yang diraihnya bukan hasil kerja instan, bukan pula pencapaian administratif semata. Ia lahir dari proses panjang yang dijalani secara kolektif oleh tutor yang mengajar dengan ikhlas, warga belajar yang bertahan dengan semangat, dan pengelola yang bekerja dengan dedikasi tanpa henti.
Sabtu, 3 Januari 2026, di Basement Ali bin Abi Thalib, semangat itu dirayakan dalam acara slametan dan pembukaan pembelajaran semester genap tahun ajaran 2025–2026. Momentum ini menjadi lebih dari sekadar pembuka semester. Ia menjelma ruang refleksi atas perjalanan sebuah lembaga pendidikan kesetaraan yang memilih bertumbuh melalui kebersamaan.
Acara dibuka dengan lantunan mars dan hymne PKBM Al Zaytun, menandai identitas kolektif yang terus dirawat. Pada sesi sharing knowledge, Latif Wahyu Haryono, S.Sos., mengajak peserta menyelami makna ilmu dan peradaban. Ilmu, menurutnya, berfungsi sebagai pemecah masalah, sarana pengembangan diri, sekaligus alat pencarian kebenaran. Dari sanalah manusia membangun peradaban, bukan sekadar untuk bertahan hidup, tetapi untuk menciptakan keteraturan, kemajuan material, dan keluhuran budi pekerti dalam skala luas.
Al Zaytun, dalam konteks itu, dipotret sebagai ruang pendidikan yang memadukan ilmu dan nilai. Membangun manusia, menumbuhkan budaya toleransi, serta merawat perdamaian sebagai fondasi masyarakat yang sehat, cerdas, dan manusiawi. Antusiasme peserta terasa kuat. Tutor dan warga belajar aktif mengajukan pertanyaan kritis, menandakan bahwa proses belajar benar-benar hidup. Sesi ini ditutup dengan pemberian piagam penghargaan kepada narasumber sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi intelektual.
Sesi kedua berlangsung lebih formal, namun sarat makna kebangsaan. Lagu Indonesia Raya tiga stanza dikumandangkan, disusul pembacaan Sapta Janji Darma Bakti dalam tiga bahasa oleh para tutor. Sambutan demi sambutan mengalir, hingga Kepala PKBM Al Zaytun, Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I., M.E., menyampaikan pesan kunci yang menegaskan makna capaian A-Unggul tersebut.
Dari 53 lembaga pendidikan kesetaraan yang diakreditasi di Indramayu, hanya dua yang meraih predikat A. “Namun capaian ini bukan prestasi sesaat,” tegasnya. Ia merupakan buah dari kerja berkesinambungan para tutor yang berdedikasi, bekerja secara kolaboratif, dan menjalankan tugas dengan keikhlasan. Keunggulan, dalam pandangan ini, bukan hasil kerja individu, melainkan energi kolektif yang terawat dalam waktu panjang.
Dokumentasi kegiatan yang konsisten melalui media sosial dan media daring juga menjadi bagian dari proses tersebut. Setiap aktivitas dicatat, dibagikan, dan dipertanggungjawabkan secara terbuka. Transparansi dan partisipasi inilah yang memperkuat ekosistem mutu. Dr. Ali juga mengapresiasi warga belajar yang tekun menuntaskan pendidikan, seraya mengingatkan bahwa rata-rata lama sekolah penduduk usia dewasa merupakan salah satu indikator harga diri bangsa.
Rangkaian acara semakin bermakna dengan penayangan kilas balik perjalanan PKBM Al Zaytun dari awal berdiri, dinamika pembelajaran, hingga capaian akreditasi A-Unggul. Sambutan dari Sekretaris Camat Gantar dan Kepala Bidang PAUD-PNF menegaskan peran strategis PKBM dalam mencerdaskan masyarakat. Bahkan, potensi karya kreatif warga belajar didorong untuk masuk ke industri kreatif dan dilindungi secara hukum, agar menjadi sumber kemandirian ekonomi.
Pembukaan resmi pembelajaran semester genap tahun ajaran 2025–2026 pun dilakukan, disusul pemberian penghargaan kepada kelas-kelas berprestasi. Pengakuan ini bukan sekadar simbol, melainkan bentuk penghormatan atas disiplin, kreativitas, dan semangat belajar yang tumbuh di tengah keterbatasan.
Acara ditutup dengan pemotongan tumpeng, ramah tamah, pertunjukan seni, dan nyanyian bersama. Dalam suasana hangat itu, batas antara pengelola, tutor, dan warga belajar seolah menghilang. Semua hadir sebagai satu keluarga besar yang berbagi rasa lega dan bahagia.
Di sanalah makna A-Unggul menemukan wujudnya yang paling jujur. Ia bukan sekadar nilai di atas kertas, melainkan cermin dari kolaborasi, keikhlasan, dan dedikasi sivitas yang percaya bahwa pendidikan, dalam bentuk apa pun, adalah jalan memuliakan manusia.**
Indramayu, 3 Januari 2026
——-
![]()
