Kebiadaban Mereka Tak Hanya Menjadi Penyebab Bencana, Tapi Memanfaatkan Kesempatan Untuk Tetap Mengail di Air Keruh


Kebiadaban Mereka Tak Hanya Menjadi Penyebab Bencana, Tapi Memanfaatkan Kesempatan Untuk Tetap Mengail di Air Keruh

Penulis : Jacob Ereste
Wartawan Lepas

Hujan yang mengguyur bumi seakan sedang mengatakan kemarahan langit akibat ulah keculasan manusia yang telah melampaui batas. Tak hanya kekayaan yang ditumpuk — entah untuk apa saja keperluan yang diinginkan mereka yang tamak dan rakus. — tapi juga jabatan dan kekuasaan mereka tebus dengan cara apapun, termasuk memanipulasi diri sendiri dengan ijazah palsu atau yang dibeli dari pasar gelap manapun. Karena yang penting adalah mendapat legalitas dan pengakuan, meski kemudian baru ketahuan kepalsuan dari kepemilikannya.

Etika, moral dan akhlak sudah dianggap cukup ditutupi dengan setumpuk duit yang diperlukan untuk siapapun yang mau dan rela menghambakan diri dalam sistem feodal yang selalu dia cerca juga sepanjang sejarah. Toh, kemunafikan itu sekedar siasat untuk menggamit kemenangan agar dapat dianggap lebih wah dan mewah dari siapapun yang
hendak disandingkan dalam opera publik yang memang tidak terlalu penting untuk dipersoalkan. Sebab yang penting adanya kegembiraan, kendati semu dan palsu juga adanya.

Di dalam kancah akademik para ahli mengakui urutan pertama yang diperlukan integritas manusia itu adalah akuntabilitas, baru kemudian intelektualitas dan bila diperlukan juga baru bisa saja menyusul kemudian elektabilitas untuk seorang pejabat publik. Jadi jelas elektabilitas menjadi sangat penting. Sebab intelektualitas bisa tiada berarti ketika stabilitas berada pada titik nol. Itulah sebabnya banyak pencuri, pembohong, penipu, pengkhianat rakyat dilakukan oleh mereka yang pintar dan jenius, tetapi tidak memiliki tata etika dan moral sebagai penopang akhlak manusia yang masih mau menjaga raaa malu, harga diri — fi’il pesengiri, sirri, marwah, martabat kemuliaan manusia yang diberkahi Tuhan sebagai wakil Tuhan di bumi.

Dalam perspektif agama, khalifah adalah konsep yang menjadi kriteria untuk sosok seorang pemimpin yang dapat disetarakan dengan sosok Nabi dalam konteks kemampuan dan kecakapan untuk memimpin manusia dalam takaran yang pantas dan layak untuk dijadikan panutan. Karena khalifah — sebagai wakil Tuhan di bumi — mampu menjalankan amanah tanpa ada hasrat untuk diselewengkan sedikitpun karena patuh pada ajaran dan tuntunan agama untuk kebaikan bagi umat manusia tanpa kecuali. Karena itu untuk masalah bencana — yang cukup kuat untuk diduga akibat ulah manusia seperti yang terjadi di Sumatra pada penghujung tahun 2025 — sungguh sulit bisa diterima oleh akal sehat; mengapa bantuan harus ditunda-tunda untuk memperoleh kejelasan dan status dari bantuan yang sudah siap masuk dan sepenuhnya bisa langsung diterima oleh warga masyarakat yang sedang terkena musibah ?

Itulah masalahnya, ketika masalah sosial dan kemanusiaan harus diintip dari bilik politik atau sekedar pencitraan belaka, sehingga masalah kemanusian menjadi semakin rumit karena ditarik ke wilayah politik, ekonomi dan pencitraan untuk melipatgandakan popularitas guna memperoleh simpati dan empati kosong atau yang palsu. Sebab di dalam gerakan dan aktivitas sosial kemanusiaan yang terkait dengan bencana akibat ulah manusia ini mengusung beragam kepentingan dan pamrih, tiada ikhlas untuk membantu mereka yang sedang didera oleh bencana akibat keserakahan dan ketamakan manusia hanya untuk dan demi kesenangan dirinya sendiri.

Karena itu, kekisruhan yang terjadi pada paska bencana — untuk memulihkan kondisi dan situasi yang kacau dan sulit, akan semakin rumit ketika berbagai kepentingan mencari kesempatan untuk memperoleh keuntungan — tidak hanya dalam bentuk materi dari bencana ini — tapi juga untuk keuntungan politik dan pencitraan seperti yang sudah diperagakan oleh sejumlah pejabat yang tidak memiliki rasa malu dan etika serta moral yang bobrok.

Akibatnya bagi banyak orang yang tidak jeli dan waspada bukan hanya akan terkecoh, tapi juga dapat menjadi korban kebiadaban mereka yang terus mencari kesempatan dalam berbagai kesulitan, seperti yang sudah dikenal dalam istilah : mengail di air keruh. Karenanya, segenap upaya dan usaha untuk membersihkan puing-puing bencana akibat ulah manusia ini, harus tuntas dan bersih terhadap mereka yang menjadi penyebab dari bencana yang sangat mengerikan ini. Yaitu mereka yang culas mengumbar konsesi lahan dan hutan hingga pengawas di lapangan yang melakukan pembiaran terhadap pengusaha penebang hutan, pengusaha tambang dan perkebunan — tidak hanya dari bilik swasta, tali juga dari badan usaha milik negara — yang juga culas, tamak dan rakus. Abai pada kewajiban untuk menjaga kelestarian lingkungan yang harmoni untuk kehidupan manusia di bumi.***


Banten, 31 Desember 2025
———-

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!