Etos Kerja dan Spirit Kebangsaan: Pesan Kopertais Jawa Barat pada Wisudawan IAI Al-Azis

Etos Kerja dan Spirit Kebangsaan: Pesan Kopertais Jawa Barat pada Wisudawan IAI Al-Azis

Oleh Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I. ME

Aula Mini Zeteso pada acara wisuda Institut Agama Islam Al-Zaytun Indonesia (IAI Al-AZIS) ke-6, di Desa Gantar Indramayu, Senin 15 Desember 2025, terasa lebih dari sekadar ruang perayaan akademik. Di sana, bukan hanya gelar sarjana yang dikukuhkan, tetapi juga harapan tentang masa depan bangsa yang sedang dipertaruhkan. Harapan itu mengemuka dalam sambutan Dr. H. Syamsuddin R.S., M.Ag., perwakilan Koordinator Kopertais Wilayah II Jawa Barat.

Dengan nada tenang dan penuh kebapakan, beliau membuka sambutannya sebagai ungkapan syukur sekaligus doa. Baginya, kebahagiaan wisuda tidak boleh berhenti di dalam kampus, melainkan harus ikut mengalir dalam kehidupan para lulusan ketika mereka terjun ke tengah masyarakat.

“Wisuda adalah pintu awal,” kira-kira begitu pesan yang ingin ditegaskan. Bukan garis akhir, tetapi permulaan dari perjalanan yang lebih panjang dan menantang.

Perguruan Tinggi dan Tanggung Jawab Zaman

Di hadapan 271 wisudawan dan orang tua yang berbahagia, Dr. Syamsuddin menempatkan IAI Al-AZIS dalam peta pendidikan tinggi Islam Jawa Barat yang luas. Dari ratusan perguruan tinggi Islam swasta yang berada di bawah koordinasi Kopertais Wilayah II, ia menilai Al-Zaytun sebagai institusi yang tertib, taat regulasi, dan visioner, bukan hanya unggul secara fisik, tetapi juga kuat dalam tata kelola dan nilai.

Popularitas Al-Zaytun yang telah “terdengar ke seantero jagat”, menurutnya, bukanlah beban, melainkan tantangan. Tantangan untuk terus membuktikan bahwa ketenaran harus sejalan dengan kualitas, dan reputasi harus ditopang oleh integritas akademik.

Sarjana Berkualitas Tidak Lahir Secara Instan

Dalam refleksinya, Dr. Syamsuddin menegaskan bahwa sarjana unggul tidak lahir secara kebetulan. Ada proses panjang yang membentuknya, mulai dari kualitas dosen, kurikulum yang relevan dengan zaman, hingga sarana prasarana yang memadai.

Dr. Syamsuddin menyebut tiga indikator utama lahirnya lulusan berkualitas:
pertama, penguasaan akademik yang kuat;
kedua, soft skills seperti komunikasi, kepemimpinan, dan kemampuan kolaborasi;
ketiga, daya pikir kritis dan adaptif terhadap perubahan.

Di dunia yang bergerak cepat, fleksibilitas dan kemampuan beradaptasi bukan lagi keunggulan tambahan, melainkan kebutuhan utama.

Etos Kerja dan Disiplin: PR Bangsa

Pesan tersebut berlanjut lebih tajam saat Dr. Syamsuddin berbicara dalam sesi wawancara. Dari sudut pandangnya sebagai bagian dari aparatur negara, tantangan terbesar sumber daya manusia Indonesia saat ini bukan hanya soal lapangan kerja, tetapi kesiapan mental dan karakter lulusan.

Beliau mengakui, pemerintah terus berupaya membuka berbagai skema penyerapan tenaga kerja. Namun, menurutnya, tidak mungkin semua lulusan bergantung pada negara. Di sinilah perguruan tinggi berperan membentuk mental mandiri dan berdaya cipta.

“Orang pintar itu banyak,” ujarnya lugas, “tetapi yang sulit dicari adalah orang pintar yang kuat spiritualitas dan integritasnya.”

Etos kerja dan disiplin, katanya, telah lama menjadi pekerjaan rumah bangsa. Bukan sekadar rajin, tetapi konsisten. Bukan hanya cerdas, tetapi amanah. Nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, dan keadilan harus menjadi fondasi, bukan pelengkap.

Dari Pencari Kerja Menjadi Solusi Sosial

Pesan terpentingnya tertuju langsung kepada para wisudawan. Ia mengingatkan agar para lulusan tidak berhenti pada identitas sebagai pencari kerja, tetapi tumbuh menjadi pencipta nilai dan solusi sosial.

Bekal akademik dari kampus, bila dipadukan dengan nilai kebangsaan, harmoni, dan kepedulian sosial yang ditanamkan selama studi, akan menjadi modal kuat untuk bertahan dan berkontribusi di mana pun berada.

“Jangan menjadi masalah sosial, tetapi jadilah solusi sosial,” pesannya.

Menutup dengan Harapan

Di akhir sambutan dan perbincangan, Dr. Syamsuddin menyampaikan harapan sederhana namun bermakna: agar para lulusan terus membawa nilai-nilai kampus ke ruang kehidupan nyata. Ia meyakini, ilmu yang diamalkan dengan niat baik akan menjadi jalan keberkahan dan kesuksesan.

Wisuda ke-6 IAI Al-AZIS pun menjadi lebih dari sekadar perayaan akademik. Ia menjelma sebagai pengingat bahwa ilmu, etos kerja, disiplin, dan integritas adalah bekal utama membangun masa depan bagi diri sendiri, bagi bangsa, dan bagi peradaban.***

Indramayu, 18 Desember 2025
——–

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!