Ziarah Spiritual Sahabat dan Kerabat Spiritual GMRI Dari Jakarta, Yogyakarta, Solo & Gunung Kidul
Oleh : Jacob Ereste
Wartawan Lepas
Komunitas Sahabat Kerabat Spiritual dari Jakarta disambut Komunitas Sahabat dan kerabat spiritual Jogyakarta yang dibesut Guntur Tjahya bersama Budi, Momok dan Roni dari Yogyakarta dengan jamuan makan Bakmi Godok Jowo khas Yigyajarta, setelah berkumpul di Guest House Arkuna Lemongsari, Yogyakarta, terus berlanjut diskusi beebagai masalah bertema besar yang tengah menghangat di negeri ini.
Kedatangan sahabat dan kerabat komunitas spiritual Jakarta yang dibesut oleh Sri Eko Sriyanto Galgendu bersama Wowok Pranowo dan Wawan Subenu serta Joyo Yudhantoro untuk nemantapkan orogram besar GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia) bertausiah terlebih sahulu pada keluarga besar Mbak Ning unruk mengirim do’a pada 25 November 2025 pada acara peringatan 40 hari wafatnya Ibunda Siti Suwidjah pada 18 Oktober 2025, do Semarang.
Acara sahatat dan kerabat Spiritual dari Jakarta, pada malam itu juga langsung menuju Yogyakarta, guna memulai acara diskusi serius hingga menjelang pagi untuk berbagai topik terkait rencana Perjalanan Muhibbah ke berbagai yang diharap dapat segera berlangsung dalam waktu dekat.
Usai shalar Suhur, 26 November 2025, kerabat dan sahabat spiritual dari Jakarta bergabung kembali dengan sahabat dan kerabat Spiritial dari Solo , Yogyakarta dan dari Gunung Kidul untuk bertemu di Makam Panembahan Senopati di Kota Gede yang menjadi cikal bakal Kerajaan Mararam di Jawa. Panembahan Senopati atau yang juga dikenal debagai Danang Sutawijaya adalah pendiri serta raja pertama dari Kesuktanan Mataram. Keberhasilannya dalam memperluas wilayah Mataram dan berhasil menaklukkan Pajang, Demak dan Madiun. Lalu tahun 1586, Panembahan Senopati, sebagai Adipati Kerajaan Pajang, ia mampun memerdekakan Matatam dari Pajang dan menjadi Sultan pertama dari Kerajaan Mataram.
Panembahan Senopati yang wafat pada tahun 1601, di makamkan di Pasarean Mataram, Kota Gede yang menjadi satu obtek ziarah spiritual yang dikunjungi pertama okeh sahabat dan kerabat Spiritual dari GMRI.
Dari pasarean Kota Gede, sahabat dan kerabat spiritual yang telah bergabung kembali dengan sahabat dan jerabat spiritual dari Yogyakarta yang dipandu Guntur Thahyo, Roni dan Prof. Budi, serta Momok dari Solo dan Mbag Digdo dari Gunung Kidul ziara ke Makam Sultan Agung di Imogiri seisai sholat zuhur namun baru bisa memasuki komplek pemakaman seusai sholat isha hingga tengah malam ke maiam Suktan Agung, Paku Buwono X dan Paku Buwo XII dan makam Suktan Hamengku Buwono IX hingga kemudian dapat melanjutkan perjalanan menuju Gunung Kidul, do kedoaman Mbah Digdo.
Diskusi tentang gerakan kebangkitan kesadaran dan pemahaman spiritual menjadi titik sentral beragam gerakan dan kegiatan, mulai dari oendidiksn dan pelatihan hingga melindungi budaya dan tradisi dan karya seni masyarakat lokal sebagai kekayaan sekaligus menjadi garda pertahanan dan ketahanan yang lebih bersifat kuktural dengan memposisikan masyarakat adat dan kraton berperan serta dalam membangun bangsa dan negara dengan berbasis spiritual — etika, moral dan akhlak mulia manusia — sebagai tiang penyangga utama membangun bangsa negara Indonesia yang kuat dan tangguh menghadapi tantangan jaman.
Sebagai penutup diskusi bersama sahabat dan kerabat spiritual GMRI di Gunung Kidul bersama Mbah Digdo, paparan Sri Eko Sriyanto Galgendu mengubgjapkan fenomena akhir jaman akan selalu ditandai oleh kelahiran zaman baru yang ditandai oleh kebangkitan spiritual dengan tampilnya pemimpin spiritual, seperti pada abad pertama yang ditansai munculnya Nabi Isa AS. Pada siklus 7 abad babak kedua, tampilnya Nabi Muhammad SAW. Dan pada sikkus 7 abad babak ketiga — abad ke 21 yang dintanda oleh Amirgo Amiseso — juga akan muncul sosok pem8mpin spiritual dari Timur. Katena itu Munculnya “Kitab MA HA IS MA YA” akan segera mewujudkan Amirgo Amiseso.
Pokok dari paparan ini menanggapi komentar Mbah Digdo yang meyakini kehadiran sahabat dan kerabat GMRI telah membawa “telur yang siap diangremi” untuk segera menetas memberi cahaya langit dalam menerangi kegelaban jagat raya ini.
Acara diskusi yang menandai silaturahmi sahabat dan kerabat GMRI di Gining Kidul, 27 November 2025 ini berlang setejah sholat zhuhur hingga menjelang sholit maqrib. Acara diskusi yang verlangsung secara berlapis ini untuk membangun percepatan gerakan seperti diungkap Joyo Yudhantoro dan kawan-kawan. Sedangkan menurut Mbah Digdo sendiri, kehadiran *Kitab MA HA IS MA YA” telah dia tunggu sejak tahun 2016 lalu, dan baru datang setelah 9 tahun kemuduan. Karena itu dia berharap kehadiran “Kitab MA GA IS MA YA” dapat pembebas dari kesulitan tidur siang mapun tidur di waktu malam selama setahun terakhir ini, tandanta Mbag Digdo berharap, sehingga dapat berperan serta dalam membumikan gerakan kebangkitan kesadaran spiritual dalam semua bidang dan sektir kehidupan.**
Gunung Kidul, 27 November 2025
—–
![]()
