Revolusi Dari Dapur: Menyatukan Ilmu, Alam, Dan Aksi Nyata
Oleh : Dr. Ali Aminulloh, M.Pd. ME.
Transformasi Pendidikan Berbasis LSTEAMS
Ma’had Al-Zaytun terus meneguhkan komitmennya untuk melakukan transformasi revolusioner pendidikan berasrama menuju pendidikan modern abad XXI berbasis LSTEAMS — Law, Science, Technology, Engineering, Art, Mathematic, and Spiritual. Dalam kerangka besar membangun peradaban ilmu yang berintegrasi dengan nilai spiritualitas dan keberlanjutan, sejak 1 Juni 2025, Al-Zaytun secara konsisten menghadirkan para guru besar lintas disiplin ilmu untuk memperkaya wawasan civitas akademika.
Pada sesi ke-19, Ahad, 19 Oktober 2025, hadir Prof. Hertien Koosbandiah Surtikanti, M.Sc., ES., Ph.D, Guru Besar bidang Ecotoxicology (Toksikologi Lingkungan) dari FMIPA UPI Bandung. Dalam kuliahnya yang inspiratif, beliau mengangkat tema “Peranan Ekoenzim dalam Integrasi Tridharma Perguruan Tinggi dan Green Campus” — sebuah topik yang tak hanya ilmiah, tapi juga sangat membumi dan relevan dengan krisis lingkungan global hari ini.
Ekoenzim: Eliksir Ajaib dari Dapur untuk Menyelamatkan Bumi
Dari balik dapur rumah tangga, muncul sebuah revolusi kecil yang punya dampak besar: ekoenzim. Cairan hasil fermentasi limbah organik ini telah menjadi simbol gerakan global untuk hidup selaras dengan alam.
“Ekoenzim bukan sekadar cairan pembersih,” tutur Prof. Hertien, “ia adalah bagian dari kesadaran ekologis baru.”
Proses pembuatannya sederhana namun sarat makna. Campuran gula molase, sisa buah segar, dan air dalam perbandingan 1:3:10, kemudian difermentasi selama tiga bulan dalam wadah tertutup.
Hasilnya: cairan beraroma segar seperti cuka yang kaya akan mikroorganisme pengurai. Kulit buah seperti nanas, pepaya, dan jeruk menjadi bahan utama yang ideal, sementara bahan seperti durian atau kol sebaiknya dihindari.
Lebih dari sekadar eksperimen rumah tangga, ekoenzim mengajarkan prinsip ekonomi sirkular — tidak ada yang terbuang, semua bisa diolah kembali menjadi nilai.
Dari dapur yang sederhana, lahirlah solusi ekologis yang mampu menjawab krisis global.

Tridharma Perguruan Tinggi dalam Gerakan Hijau
Prof. Hertien menegaskan bahwa ekoenzim bukan hanya produk ekologis, tapi juga model integratif bagi Tridharma Perguruan Tinggi — pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Dalam aspek pendidikan, ekoenzim membuka ruang pembelajaran kontekstual. Mahasiswa dapat memahami konsep bioteknologi dan toksikologi lingkungan secara langsung melalui praktik fermentasi dan analisis mikroorganisme. Sementara dalam penelitian, potensi ekoenzim terbuka luas: dari uji efektivitasnya sebagai pupuk cair alami, pengurai polutan di air, hingga bahan pembersih ramah lingkungan.
Sedangkan dalam pengabdian masyarakat, ekoenzim menjadi sarana pemberdayaan.
Prof. Hertien berbagi pengalaman mengajak ibu-ibu PKK dan kelompok tani di Purwakarta membuat pupuk cair organik dan pestisida alami, bahkan menginisiasi aksi penuangan ekoenzim ke Situ Bagendit untuk memulihkan kualitas air. Gerakan ini meluas hingga komunitas diaspora Indonesia di Bangkok dan Vietnam, menjadikan ekoenzim sebagai simbol diplomasi ekologis bangsa.
Dari Green Campus ke Gerakan Global
Di kampus, ekoenzim menjadi penggerak budaya hijau (green culture). Ia menghubungkan laboratorium dengan lapangan, mengubah teori menjadi aksi nyata. Dalam konteks global, penggunaan ekoenzim sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs): air bersih (SDG 6), kota berkelanjutan (SDG 11), dan aksi iklim (SDG 13).
Keajaiban cairan fermentasi ini terbukti multifungsi: pupuk organik, pembersih alami, penjernih air, pestisida alami, hingga disinfektan. Selama pandemi COVID-19, bahkan Palang Merah Indonesia (PMI) Bandung menggunakan ekoenzim sebagai semprotan disinfektan alami.
Setiap tetes ekoenzim bukan sekadar hasil fermentasi, tapi simbol sinergi antara ilmu pengetahuan, kepedulian sosial, dan tanggung jawab spiritual terhadap bumi.
Epilog: Dari Sampah Menjadi Berkah
Dalam refleksi yang menggetarkan, Prof. Hertien menutup kuliahnya dengan kalimat yang menggugah: “Limbah bukan akhir, tapi awal dari kehidupan baru.”
Kalimat ini menjadi pesan mendalam bagi dunia pendidikan dan masyarakat luas. Bahwa perubahan besar sering dimulai dari hal kecil yang dilakukan dengan kesadaran tinggi.
Ekoenzim bukan hanya formula kimia, melainkan gerakan moral dan spiritual untuk menebus kesalahan manusia terhadap alam. Di tangan para pendidik, ilmuwan, dan santri, ia menjelma menjadi simbol kolaborasi antara ilmu, iman, dan tindakan nyata.
Jika setiap rumah, sekolah, dan kampus mau memulai langkah kecil ini, maka kita sedang menulis bab baru dalam sejarah: revolusi dari dapur yang menyelamatkan bumi.**
Indramayu, 21 Oktober 2025
—-
![]()
