Menyiram Peradaban Yang Kering Dengan Puisi Dhikir Dan Seni Yang Sakral Penuh Nuansa Spiritual
Oleh : Jacob Ereste
Wartawan Lepas
Malam Dzikir Puisi “Meneteskan Air ke Samudra Peradaban”, digelar di Makara Art Center, Universitas Indonesia, Depok, Sabtu, 23 Agustus 2025. Hadir sejumlah tokoh, penyair dan aktivis pergerakan serta alumni Fakultas Sastra UI yang sangat mengesankan berkolaborasi dengan fakultas teknik selaku Sohibul hajat, seperti diungkap oleh Wakil Rektor dalam sambutannya yang mewakili segenap civitas akademika perguruan tinggi yang terbilang cukup bergengsi d Indonesia ini, setelah Universitas Gajah Mada di Yogyakarta diterpa badai politik yang terlibat dalam kegaduhan ijazah palsu.
Menteri Kebudayaan yang berkenan hadir dan memberikan sambutan juga memanfaatkan kesempatan berkisah tentang nostalgianya di Fakultas Sastra UI 40 tahun silam dengan membacakan puisi heroiknya diluar kepala — tanpa teks — tentang sosok Bung Tomo. Demikianlah ujar Fadli Zon, acara Malam Dzikir Puisi Meneteskan Air ke Samudra Peradaban” ini sangat penting terkait dengan perayaan hari kemerdekaan bangsa Indonesia yang ke-80. Sebagai alumni mahasiswa Fakultas Sastra Rusia Universitas Indonesia, Fadli Zon juga mengungkap nostalgianya sebagai mantan Ketua Umum Alumni UI.
Baginya, sastra merupakan bagian yang penting dalam kehidupan manusia. Dan peranan bangsa Indonesia pun sangat erat dengan kehidupan sastra dan sastrawan yang tidak sedikit berperan untuk memerdekakan bangsa Indonesia hingga kemudian membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dalam orasinya yang kental filosofis, Fadli Zon merujuk UUD 1945, Pasal 32 ayat (1) yang menyatakan bahwa negara memajukan kebudayaan nasional di tengah peradaban dunia. Jadi memang, sastra sebagai bagian dari budaya bangsa Indonesia merupakan amanah konstitusi yang harus diwujudkan. Dari 101 negera yang telah dia kunjungi, dia bersaksi tidak satu pun negara asing itu yang memiliki kekayaan budaya seperti yang dimiliki oleh bangsa Indonesia.
Pidato kebudayaan yang disampaikan Ir. H. Sayuti Asyathri sangat terkesan filosofis dan religius. Ia pun mengungkap. Nostalgianya setelah 40 tahun baru bisa kembali berpidato di Kampus UI, meski dalam tampilan yang baru, terdesak untuk ikut membicarakan masalah ijazah palsu yang kunjung mereda sampai hari ini. Sehingga menjadi prestasi tersendiri yang sangat mengagumkan hingga bertahun-tahun kekeh untuk tidak mau menunjukkan ijazah yang sudah membuat kehebohan yang berlarut-larut.
Begitulah gaya pidato Sayuti Asyathri sekarang, lebih santai dan rileks kendati penuh tekanan. Jadi sungguh berbeda pada 40 tahun silam ketika masih memimpin Dewan Mahasiswa UI, lebih heroik dan lantang sambil menyandang toa — pengeras suara — untuk memimpin mahasiswa turun ke jalan.
Karena itu selalu Menteri Kebudayaan Indonesia, dia mengajak seluruh rakyat untuk memajukan sastra Indonesia ke pentas dunia untuk mengukuhkan kepribadian bangsa Indonesia dalam pergaulan dan pertautan bangsa-bangsa yang ada di dunia.
Pagelaran pun seusai orasi Ishak Rafik tentang kondisi ekonomi Indonesia hari ini dilanjutkan dengan orkestra musik angklung dari kelompok “Mawar Merah Putih” yang melantunkan lagu-lagu perjuangan yang heroik dan religius dengan menarasikan nostalgia kepahlawanan yang nyaris hilang dari memori generasi muda hari ini.
Pembacaan puisi berjudul “Do’a Malam” menjadi semacam penuntun parade pembacaan puisi yang dilakukan oleh Linda Jalil, Neno Warisman.
Tampak hadir para tokoh aktivis dan pergerakan diantara Ihsyanudfin Noorsyi, Sri Eko Sriyanto Galgendu Joyo Yudhantoro, Roy Suryo dan sejumlah aktivis dan sastrawan Indonesia lainnya ikut menandai kebangkitan kembali sastra Indonesia yang sempat terkesan pernah mati suri. Dan kini, mulai muncul dalam tampilan yang lebih religius kental nuansa spiritual yang sakral.
Depok, 23 Agustus 2025
—-
![]()
