Memasuki Wilayah Spiritual Dengan Kesadaran Yang Paling Sederhana Dari Pengalaman Diri Sendiri
Penulis : Jacob Ereste
Wartawan Lepas
Tasyakur sebagai ekspresi dari ungkapan rasa syukur yang mendalam kepada Tuhan atas segala bentuk nikmat yang telah kita terima — baik yang tampak maupun yang tersamar — meliputi kesadaran batin dari penerimaan hati yang memuji dan memuliakan Allah.
Karena itu, potensi dari kemampuan dan kecerdasan spiritual setiap orang — yang pasti berbasis agama — sikap tasyakur itu dapat menjadi kunci pembuka hati melihat pemandangan luas nan indah dari jagat spiritual yang maha luas. Uniknya untuk memasuki wilayah spiritual dapat dilakukan dengan hal-hal yang paling sederhana — diawali oleh sikap tasyakur — sebagai pengakuan total atas segenap karunia dan nikmat
yang telah diterima dari Allah — mulai dari kenikmatan makan dengan lauk pauk seadanya dengan lahap, merupakan bagian dari kesadaran untuk memasuki pahaman spiritual yang lebih jauh dan mendalam.
Dari nikmat buang hajat pun, ketika mampu dihayati sebagai bagian dari kenikmatan yang diberikan Tuhan, bisa membangkitkan rasa syukur yang tiada terhingga untuk semakin jauh lagi memasuki wilayah spiritual yang indah.
Pengalaman spiritual yang kecil-kecil itu ketika mampu dieksplorasi lebih luas, akan menemukan sumber spiritual yang lebih berlimpah. Bayangkan ketika untuk kentut saja terasa mengganjal dan terhambat, kita bis dihantar menuju kesadaran bahwa sesungguhnya manusia itu sangat terbatas, sekedar untuk berdaulat atas dirinya sendiri saja, toh tetap akan lebih banyak berkeluh kepada Tuhan juga.
Pengalaman spiritual yang dapat dipetik dari peristiwa makan bersama keluarga besar — yang cukup terbilang kaya raya, setidaknya semua jenis lauk pauk yang paling enak tersaji sangat melimpah — toh, saat makan besar itu sedang berlangsung, sang tuan rumah lebih sibuk dengan istrinya mendiskusikan sudah seberapa banyak makanan itu yang telah dilahap — sebab sang tuan rumah yang kaya raya itu untuk makan saja nasi yang dia konsumsi harus dibatasi, akibat penyakit ini dan penyakit itu yang sudah menghajar dirinya.
Karena itu, ketika seorang kawan penyair sufi mengajak makan di rumahnya yang sangat amat sederhana dalam takaran apapun, kami bisa makan begitu lahap hanya dengan sambal terong dan ikan asin seperti kiriman dari surga. Artinya, ketika sikap syukur dan tasyakur bisa dinyalakan dalam batin yang jernih dan bersih, maka dari hal-hal yang paling sederhana saja dapat menghantar kegembiraan untuk semakin jauh berjalan mendaki rute spiritual semakin asyik dan menyenangkan.
Begitu juga dengan kejelian sudut pandang dari mata hati yang jernih dan ikhlas. Dari sekilas pandangan suasana Car Free Day yang lebih menonjol sifat dan sikap hura-hura untuk menghibur diri itu di saat hari libur, tak sedikit diantara mereka yang mengenakan kursi roda dengan wajah yang penuh sesal, seakan terlambat mengucap syukur kepada Tuhan, saat mengenang masa mudanya yang penuh vitalitas — energik — hingga baru sekarang menyadari kekuasaan Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang itu dahulu pernah memberinya keperkasaan, ketangkasan dan ketangguhan di bidang oleh raga. Tapi kini tinggal olah rasa yang acap melankolis dan romantis mengenang masa mudanya yang sudah berlalu.
Artinya, kesempatan untuk melakukan olah batin dalam usia dipengjujung senja, masih diberi kesempatan banyak oleh Tuhan untuk tidak lagi perlu bersedih dengan semua apa yang telah meninggalkan diri kita. Sebab pada saat berikutnya, diri kita pun akan meninggalkan semua itu, tanpa bisa ditawar-tawar. Sebab sunnatullah — hukum Tuhan — yang acap kita sebut sebagai hukum alam memang begitu adanya. **
Banten, 8 Agustus 2025
—
![]()
