Membangun Karakter Bangsa Dari Bangku Kantin: Budaya Antre Di Mahad Al Zaytun Indramayu
Oleh Dr. Ali Aminulloh, S.Ag. M.Pdi. ME ( Dosen IAI Alazis dan Ketua MPAP Al Zaytun)
Kamis siang,7 Agustus 2025 di Mahad Al Zaytun, sebuah pemandangan sederhana namun penuh makna menyapa mata saya. Di depan sebuah stan jajanan kantin, puluhan anak-anak berbaris rapi, duduk sabar di kursi yang telah disediakan.
“Sedang antre jajan, Ustaz,” jawab mereka serempak dengan senyum polos ketika saya bertanya.
Pemandangan ini, bagi seorang pendidik, adalah sebuah cermin keberhasilan. Mahad Al Zaytun, yang dikenal sebagai pusat pendidikan dan pengembangan budaya toleransi, membuktikan bahwa pendidikan tidak hanya terjadi di ruang kelas. Dengan konsep sekolah berasrama, seluruh aktivitas di dalam kampus menjadi bagian integral dari proses pembelajaran. Termasuk, mengantre.
Anak-anak Madrasah Ibtidaiyah (MI) berbelanja di bawah bimbingan kakak kelas mereka, sebuah sistem yang memastikan setiap proses berjalan tertib. Mereka yang datang lebih awal duduk di depan, dan yang datang belakangan mengambil tempat di belakang. Tidak ada yang saling serobot, tidak ada yang berteriak.
Mereka sabar menunggu giliran, sebuah kebiasaan kecil yang menumbuhkan disiplin dan rasa hormat terhadap orang lain.
Antrean sebagai Fondasi Karakter
Budaya antre bukanlah hal sepele. Di negara-negara maju, kebiasaan ini ditanamkan sejak usia dini sebagai fondasi karakter (Cahyono, 2018). Anak yang mampu menunggu giliran adalah indikator keberhasilan pendidikan non-akademik yang krusial. Seorang guru atau orang tua di negara-negara dengan budaya tinggi justru akan merasa gagal jika anak-anaknya tidak bisa mengantre. Gagal dalam pelajaran? Itu wajar, karena setiap anak memiliki kelebihan dan kekurangan. Namun, tidak bisa mengantre? Itu masalah karakter yang serius (Wibowo, 2019).
Mengapa demikian? Karena antre mengajarkan banyak hal. Ia melatih anak untuk disiplin, sabar, dan menghargai orang lain.
Sikap ini juga menumbuhkan kemampuan berpikir ke depan: jika ingin dilayani lebih awal, datanglah lebih cepat. Pola pikir sederhana ini melatih mereka untuk merencanakan dan mengantisipasi.
Tiga Kebaikan dan Tiga Kata Kunci
Pendidikan karakter yang kuat di negara maju biasanya menitikberatkan pada tiga perbuatan dan tiga perkataan yang ditanamkan sejak dini. Tiga perbuatan itu adalah: mengantre, membuang sampah pada tempatnya, dan berjalan pada tempatnya. Sementara itu, tiga perkataan yang diajarkan adalah: izin, maaf, dan terima kasih.
Ketiga perbuatan dan perkataan ini adalah kunci untuk membangun kepribadian positif lainnya.
Dengan mengantre, anak belajar menghargai hak orang lain dan memahami bahwa setiap orang memiliki giliran. Dengan membuang sampah pada tempatnya, mereka belajar tanggung jawab terhadap lingkungan. Dan dengan berjalan pada tempatnya, mereka belajar tertib dan aman.
Pemandangan di kantin Mahad Al Zaytun ini adalah cerminan nyata dari pendidikan yang tampak sederhana namun memiliki dampak luar biasa bagi masa depan anak. Mereka tidak hanya belajar matematika atau sains, tetapi juga belajar menjadi manusia yang beradab. Mereka tumbuh menjadi pribadi yang berdisiplin, sabar, dan menghargai sesama.
Refleksi Penutup: Mengapa Kita Harus Berubah?
Melihat anak-anak ini, saya teringat akan potret masyarakat kita yang kadang masih berjuang dengan hal-hal sederhana seperti antrean.
Antrean yang seringkali diwarnai dengan teriakan, dorongan, dan sikap saling serobot. Bukankah ironis, kita yang mengklaim sebagai bangsa yang menjunjung tinggi sopan santun, justru sering gagal dalam urusan antre?
Pemandangan di Mahad Al Zaytun memberikan kita sebuah pelajaran berharga. Bahwa membangun karakter bangsa tidak harus dimulai dari hal-hal besar. Ia bisa dimulai dari hal kecil, dari bangku-bangku di depan kantin, dari kebiasaan sederhana yang dilakukan setiap hari. Mari kita tanamkan budaya antre, buang sampah pada tempatnya, dan ucapkan kata-kata ajaib seperti “maaf” dan “terima kasih” kepada anak-anak kita.
Sebab, di tangan mereka lah masa depan bangsa ini berada. Dan masa depan yang cerah hanya bisa dibangun di atas fondasi karakter yang kuat, yang dimulai dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang tulus.*
Indramayu,Kamis 7 Agustus 2025
—
Referensi:
Cahyono, A. (2018). Pendidikan Karakter Anak Usia Dini. Jakarta: Grasindo.
Wibowo, A. (2019). Membangun Generasi Emas: Peran Keluarga dan Sekolah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
—
![]()
