Dari Kanada ke Al Zaytun: Sebuah Perjalanan Menemukan Rumah Sejati


Dari Kanada ke Al Zaytun: Sebuah Perjalanan Menemukan Rumah Sejati

Oleh Dr. Ali Aminulloh, S.Ag. M.Pd.I. ME (Ketua MPAP dan Dosen IAI Alazis)


Jejak Jauh dari Jakarta ke Kanada

Peter Budiono Setiawan tidak pernah menyangka bahwa langkah yang ia ayunkan puluhan tahun lalu dari Jakarta menuju Kanada, kelak akan membawanya kembali menelusuri akar terdalam kemanusiaan. Lahir dari ayah berdarah Minang dan ibu dari Bangka, Peter menghabiskan masa muda di ibu kota sebelum hijrah ke Kanada tahun 1974. Di sana, ia menuntut ilmu, membangun karier di industri garmen, lalu menikah dengan gadis Tionghoa asal Trinidad dan Tobago.

Namun ada harga yang harus dibayar. Demi cinta, Peter melepas kewarganegaraan Indonesia karena terbentur regulasi. Istri dan kelima anaknya kini warga negara Kanada, dan belum pernah sekalipun menjejakkan kaki di bumi Indonesia. Peter pun lebih sering berinteraksi dengan tanah kelahirannya lewat kenangan dan layar digital. Salah satu kenangan itu begitu membekas: 27 Agustus, tanggal kelahirannya, sekaligus tanggal peresmian Al Zaytun oleh Presiden B.J. Habibie.

Ia pernah mengenal Habibie secara pribadi, saat menjadi perantara bisnis antara industri penerbangan Kanada dan BPPT. Dari pertemuan itu, Peter membawa pulang sepotong kalimat dari Habibie yang tak pernah luntur: “Jangan lupakan Indonesia.” Kata-kata itu seperti jangkar yang terus menautkan jiwanya pada negeri asalnya, meski tubuhnya telah lama hidup di belahan dunia lain.

Tersentuh Al Zaytun, Tersapa Pulang

Saat tak sengaja melihat unggahan Al Zaytun di media sosial, hati Peter bergetar. Ia melihat prasasti peresmian bertanda tangan Habibie, dan benaknya langsung dipenuhi hasrat untuk datang dan melihat sendiri tempat yang disebut-sebut sebagai ladang toleransi dan pendidikan masa depan itu. Ia pun segera mengirimkan surel ke Sekretariat Pendidikan Al Zaytun dan memesan tiket menuju Indonesia.

Tanggal 4 Agustus 2025, langkahnya menjejak bumi Nusantara. Di Al Zaytun, ia disambut Ustaz Ali Aminulloh di Resto Al Islah. Tatapan pertama langsung menyulut rasa kagum. Ia melihat keramahan yang bukan dibuat-buat, kemandirian yang terpancar dari sistem, dan visi besar yang menjulang dari tata letak kampus yang terintegrasi. “Amazing,” ucap Peter dengan mata berbinar. “Hanya orang dengan visi besar yang bisa melakukan ini.”

Peter bukan hanya mengamati, ia juga terlibat. Ia menyerahkan cek senilai 1.000 USD dari Bank of Montreal, sebagai bentuk cinta dan penghargaan kepada perjuangan yang ia saksikan langsung. Yang membuatnya semakin terharu adalah sikap toleran dan hangat yang ia rasakan sebagai seorang Katolik di lingkungan mayoritas Muslim. Di Al Zaytun, perbedaan bukan tembok, tapi jembatan. Ia diterima bukan sebagai ‘orang lain’, tapi sebagai saudara.

Dari Masjid Rahmatan hingga Pelukan Seorang Syaykh

Puncak dari perjalanan spiritual Peter terjadi di Masjid Rahmatan Lil Alamin. Di sana, ia tak hanya menyaksikan arsitektur masjid, tetapi merasakan denyut hati dari sebuah nilai yang tak ternilai. Dengan izin penuh, ia masuk ke dalam, bersimpuh, dan menitikkan air mata. Ia merasa Tuhan telah menuntunnya ke tempat ini, di mana ia disapa bukan dengan syariat, tetapi dengan kasih.

Ia juga menyaksikan santri-santri muda memanen padi, mengolah air limbah dengan teknologi ramah lingkungan, dan memproduksi kebutuhan pangan secara mandiri. Visi pendidikan terpadu Al Zaytun sungguh membukakan matanya: pendidikan yang membumi, menyentuh kehidupan, dan menghargai semesta.

Pertemuannya dengan Syaykh Al Zaytun menjadi titik akhir dari pencarian panjangnya. Dengan penuh kelembutan, sang Syaykh berkata: “Mulai hari ini, Anda adalah saudara kami. Al Zaytun adalah rumah Anda. Jika Anda ke Indonesia, kami sudah siapkan kamar di Al Islah untuk Anda.” Ucapan itu menembus relung hatinya. Bukan basa-basi, tapi kasih yang nyata. Peter tahu, ia tak sedang berkunjung—ia telah pulang.

Epilog: Pulang Tak Selalu Tentang Tempat

Perjalanan Peter Budiono Setiawan mengajarkan satu hal penting: pulang tak selalu soal tanah, rumah, atau darah—tetapi tentang hati yang menemukan rumahnya kembali. Di Al Zaytun, Peter menemukan keluarga bukan karena garis keturunan, tetapi karena ketulusan dan nilai kemanusiaan yang hidup dalam setiap relung institusi ini.

Kisah Peter adalah kisah kita semua: bahwa di tengah dunia yang semakin terkotak-kotak oleh identitas, ada tempat yang merengkuh siapa pun dengan pelukan hangat kemanusiaan. Di tempat itulah, rumah sejati berada.**


Indramayu, 4 Agustus 2025

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!