Merawat Spiritual Untuk Tetap Menjaga Nilai-nilai Kemuliaan Manusia


Merawat Spiritual Untuk Tetap Menjaga Nilai-nilai Kemuliaan Manusia


Penulis : Jacob Ereste
Wartawan Lepas


Masalah yang terjadi akibat kekosongan batin, telah membuat banyak orang hilang kehangatan emosional, kasih sayang, dan koneksi spiritual dalam relasinya dengan orang lain — khususnya keluarga, kerabat, sahabat dan rekanan yang menimbulkan masalah psikologis, akibat krisis spiritual di mana empati dan cinta dan kasih sayang tidak lagi bertumbuh dan berkembang untuk membuahkan kebaikan sesama manusia. Sehingga kerakusan dan ketamakan menggumpal untuk lebih banyak memiliki, menguasai kekayaan dan kekuasaan yang tidak terbatas.

Karena itu untuk mengisi kekosongan spiritual yang berpusat dalam batin diperlukan olah spiritual yang serius untuk memulihkan kembali naluri bawaan yang bersifat ilahiah itu untuk dapat menjaga keseimbangan — agar manusia mampu memahami bahwa kebahagiaan itu tidak sekedar memiliki kekayaan dan kekuasaan, karena semuanya harus diperoleh dengan sikap jujur dan ikhlas — tidak hanya sekedar berpikir logis atas dasar hasrat dan keinginan untuk memenuhi nafsu yang tidak dapat dikendalikan.

Jadi olah spiritual itu pun harus dapat menjinakkan — tak hanya imajinasi liar — tetapi yang tidak kalah penting adalah nafsu serakah dan ketamakan untuk melahap semua yang dikehendaki dan menyenangkan hati. Itulah sebabnya dalam laku spiritual nyaris selalu dibarengi dengan puasa — tak hanya wajib seperti pada bulan ramadhan — tapi acap mengikuti jejak cara puasa para Nabi yang diyakini akan memberi banyak manfaat.

Suasana kekosongan batin — mengeringnya spiritual — memang akan meruntuhkan nilai etika, moral dan akhlak mulia manusia yang sesungguhnya telah dianugerahi oleh Tuhan sifat dan sikap ilahiah yang harus dipelihara serta dikembangkan, sehingga memberi daya guna bagi tubuh dan ruh yang melekat dalam diri manusia, sehingga nilai-nilai kemanusiaan sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna di bumi dapat memancarkan cahaya langit yang indah dan jernih untuk meniti jalan kehidupan yang tidak pernah bisa dikira sampai kapan akan berakhir. Oleh karena itu, perjalanan spiritual panjang sejati, tidak dapat dipahami, kecuali berujung di liang kubur yang akan lebih banyak lagi menemukan beragam misteri sebagai bagian dari rahasia Tuhan. Karenanya dalam kesadaran dan pemahaman spiritual serupa inilah getaran batin berkembang .dan bertumbuh memperkaya dimensi kebatinan mendekati keparipurnaan maksimal yang juga tidak terbatas.

Memang akan lebih mengerikan lagi bagi orang yang memiliki batin “setengah kosong”, karena dia bisa bertindak lebih destruktif tanpa pernah menyadari bahwa apa yang dilakukannya sangat berbahaya atau merugikan orang lain akibat dari perbuatan yang dilakukannya dalam keyakinan yang tetap dirasakan penuh berkesadaran tersebut.

Agaknya, atas dasar itulah pengelolaan negara menjadi kacau karena dilakukan dengan cara yang gila dan ugal-ugalan dengan perasaan paling benar sendiri, bukan atas penilaian orang banyak, utamanya bagi rakyat yang selalu menjadi korban pertama dari kesewenang-wenangan perbuatan dan perlakuan penguasa yang zalim dan korup. Inilah yang dimaksud hidup secara biologis, tapi mati dalam arti spiritual dalam arti hilangnya kemuliaan nilai-nilai kemanusiaan yang hakiki.***


Pecenongan, 28 Juli 2025

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!