Dinamika Istilah Dan Inovasi Sistem Penerimaan Siswa Baru Di Mahad Al-Zaytun Indramyu ( Seri Mengenal Tradisi-Tradisi Al Zaytun )

Dinamika Istilah Dan Inovasi Sistem Penerimaan Siswa Baru Di Mahad Al-Zaytun Indramayu
(Seri Mengenal Tradisi-Tradisi Al Zaytun)


INDRAMAYU-JAYA NEWS.COM – Mulai tanggal 18-25 Juni 2025, Mahad Al-Zaytun menjalankan agenda rutin tahunan yakni penerimaan peserta didik baru dari tingkat PAUD, MI, dan MTs. Peristiwa ini seringkali menyiratkan berbagai cerita menarik yang telah menjadi salah satu “tradisi Al-Zaytun” yang adem ayem tentrem. Kontras dengan hiruk pikuk SPMB yang tengah berlangsung di luar Al-Zaytun.

Hal itu dikatakan Muhammad Iqbal Aulia,Ketua Panitia Pelaksana SPMB,kepada Journalist Jaya News.com,Senin 23 Juni 2025.

Lebih jauh Ketua Panitia menjelaskan sebagai berikut :

Pergeseran Nomenklatur dalam Sistem Penerimaan Peserta Didik

Dunia pendidikan di Indonesia kerap diwarnai oleh dinamika perubahan, termasuk dalam nomenklatur sistem penerimaan peserta didik. Perubahan ini sering kali beriringan dengan pergantian pucuk pimpinan di Kementerian Pendidikan. Sebagai contoh, tahun lalu kita mengenal istilah Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Namun, pada tahun 2025, dengan kepemimpinan menteri yang baru, istilah tersebut mengalami transformasi menjadi Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB). Ironisnya, akronim SPMB ini bukanlah hal yang sepenuhnya baru; ia pernah digunakan pada periode 2001 hingga 2008 untuk penerimaan mahasiswa baru, meskipun dengan kepanjangan yang berbeda, yakni Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru.
Pergantian istilah ini, terlepas dari niatnya, tak jarang menyisakan berbagai persoalan di lapangan. Keluhan mengenai ketidakadilan bahkan tudingan “didzalimi” oleh sistem acap kali muncul, memicu gelombang protes di berbagai daerah. Dinamika ini mengindikasikan bahwa perubahan nomenklatur tanpa diiringi perbaikan substansial dalam mekanisme dan transparansi dapat menimbulkan resistensi dari masyarakat.

Konsistensi dan Adaptasi Inovatif Mahad Al-Zaytun dalam PPDB

Berbeda dengan kecenderungan di tingkat nasional, Mahad Al-Zaytun menunjukkan konsistensi yang patut dicermati dalam menggunakan istilah Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) sejak awal. Konsistensi ini tidak berarti stagnansi; secara substansial, mekanisme dan alur PPDB di Mahad Al-Zaytun terus mengalami penyempurnaan teknis. Salah satu inovasi signifikan terjadi saat pandemi COVID-19 melanda. Ketika banyak institusi pendidikan ragu untuk membuka sekolah secara tatap muka, Al-Zaytun tetap teguh menerima peserta didik baru dan menyelenggarakan pembelajaran secara tatap muka, tentu saja dengan implementasi protokol kesehatan yang ketat.
Adaptasi di masa pandemi justru membawa hikmah besar bagi efisiensi sistem penerimaan. Sebelumnya, wali santri harus mengalokasikan waktu sekitar 4-5 hari hingga pengumuman kelulusan. Namun, sejak pandemi, hasil kelulusan langsung disampaikan oleh pewawancara pada hari yang sama. Ini memangkas waktu tunggu wali santri menjadi hanya satu hari untuk menyelesaikan seluruh rangkaian tes, memungkinkan mereka segera kembali ke daerah asal setelahnya. Efisiensi waktu dan biaya yang signifikan ini menjadi model adaptasi inovatif yang dipertahankan hingga kini karena dipandang lebih meringankan wali santri.
Rangkaian PPDB di Mahad Al-Zaytun dimulai dengan pendaftaran daring dan pembayaran biaya pendaftaran sebagai bentuk validasi. Setelah pendaftaran ditutup, panitia secara cermat mengatur jadwal kedatangan calon santri dan wali berdasarkan asal daerah atau koordinator, memastikan jumlah peserta yang datang sesuai ploting. Pengaturan kloter dan jam kedatangan yang presisi juga diterapkan untuk menghindari penumpukan dan menjaga kelancaran proses.
Setiap pagi, seluruh bagian yang terlibat dalam PPDB melakukan briefing di Pendopo. Ketua panitia memberikan arahan teknis, termasuk jumlah calon santri yang akan datang. Pada hari kedua, briefing juga berfungsi sebagai sarana evaluasi dan perbaikan. Selain itu, briefing khusus bagi para penguji lisan diadakan pada hari pertama untuk menyampaikan pesan-pesan dari Syaykh dan Ketua Yayasan Pendidikan Islam (YPI). Setelah briefing selesai, semua panitia bersiap di pos tugas masing-masing.

Prosedur Komprehensif dan Verifikasi Calon Santri

Proses PPDB bagi calon santri dan wali santri diawali di meja administrasi. Berkas pendaftaran yang telah lengkap disimpan dalam map khusus dengan identitas calon santri. Rangkaian pertama adalah tes biodata, yang sebenarnya lebih merupakan pengecekan kecocokan data dan kelengkapan persyaratan administratif. Dokumen yang diverifikasi meliputi formulir pendaftaran, kuitansi pembayaran, akta kelahiran, Kartu Keluarga (KK), fotokopi KTP orang tua (ayah dan ibu), surat keterangan lulus bagi calon MTs, fotokopi rapor, Nomor Induk Siswa Nasional (NISN), dan surat pindah bagi calon MI kelas 2 hingga 6.
Selanjutnya, calon santri mengikuti tes kesehatan yang komprehensif. Mereka diwajibkan membawa hasil rontgen toraks (paru-paru) dan tes Mantoux (khusus santri MI) yang disertai penjelasan dokter, untuk memastikan tidak ada penyakit dalam, khususnya yang menular. Tes urine dilakukan untuk mendeteksi penggunaan obat-obatan terlarang. Anamnesa dilakukan untuk menelusuri riwayat kesehatan, diikuti pemeriksaan fisik umum oleh dokter, tes tensi, suhu, tes buta warna, hingga tes psikologi. Jika dinyatakan sehat secara keseluruhan, calon santri akan menerima surat keterangan sehat dari dokter pemeriksa dan penanggung jawab tes kesehatan.
Rangkaian berikutnya adalah tes lisan, meliputi wawancara, tes hafalan Juz Amma (khusus calon MTs), dan tes akademis. Wawancara dilakukan oleh dua pewawancara, yang terdiri dari eksponen atau guru senior dan guru. Wawancara ini melibatkan calon santri dan orang tuanya. Jika salah satu orang tua berhalangan, wajib menyertakan surat kuasa sebagai bentuk persetujuan. Apabila kedua orang tua berhalangan, kuasa dapat diberikan kepada saudara atau koordinator wali santri dengan surat kuasa yang menyertakan pernyataan kesediaan menerima keputusan panitia.
Wawancara dengan orang tua mencakup alasan memilih Mahad Al-Zaytun, riwayat hidup dan prestasi anak, kesiapan mengikuti disiplin Mahad, kesediaan bekerja sama dalam penyelesaian masalah santri di kemudian hari, serta kesanggupan pembiayaan. Sementara itu, wawancara dengan calon santri berfokus pada motivasi belajar, kesiapan mengikuti disiplin dan unshithah yaumiyah (aktivitas harian), penelusuran hobi, minat, dan bakat, serta pertanyaan mengenai kebiasaan merokok.
Setelah dinyatakan lulus wawancara, santri akan mengikuti tes qiraah dan tahfidz Juz Amma, serta tes akademik khusus bagi calon MTs. Langkah berikutnya adalah penulisan surat kesiapan tertulis dari orang tua untuk mengikuti disiplin dan aturan Mahad, diikuti dengan pembayaran biaya pendidikan dan penandatanganan akad kesepahaman antara wali santri dan yayasan. Setelah seluruh rangkaian selesai, orang tua mengantar santri ke bus jemputan. Mereka hanya diizinkan mengantar sampai bus, sedangkan perjalanan ke asrama akan dibantu oleh petugas yang telah ditetapkan. Seluruh rangkaian tes ini diselesaikan sebelum pukul 17.00 WIB. Pelaksanaan tes yang berulang dan terstruktur ini telah membentuk sebuah tradisi atau budaya khas dalam pendidikan di Al-Zaytun.

Dalam labirin sistem pendidikan yang terus berubah, Mahad Al-Zaytun berdiri sebagai model konsistensi adaptif. Lebih dari sekadar nomenklatur yang berganti, esensi dari sistem penerimaan yang efektif adalah kemampuan untuk menyeimbangkan proses seleksi yang komprehensif dengan efisiensi dan keadilan bagi semua pihak.

” Pengalaman Mahad Al-Zaytun menunjukkan,bahwa dengan komitmen terhadap nilai-nilai inti dan kesediaan untuk berinovasi, bahkan di tengah krisis seperti pandemi, sebuah institusi dapat menciptakan tradisi yang kuat dan sistem yang memberikan kepastian serta keringanan bagi calon peserta didik dan wali mereka. Ini adalah bukti bahwa keberhasilan tidak selalu tentang mengikuti tren, tetapi tentang bagaimana sebuah sistem dapat beradaptasi dan berkembang demi mencapai tujuannya yang mulia,” ujar Muhammad Iqbal Aulia,menutup keterangannya kepada Journalist Jaya News.com.*”*


Ali Aminulloh

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!