Refleksi Hendropriyono: Mengapresiasi Pemikiran dan Karakter
Bangsa
Tulisan berseri ke 3 dari 7, disarikan dari pandangan Jenderal (Purn) Prof.
Dr. AM. Hendropriyono, ST., SH., MH
Penulis : Ali Aminulloh
Malam yang penuh makna itu menyatukan berbagai tokoh pemikir dan praktisi, di sebuah forum yang kian langka di tengah hiruk pikuk opini publik.
Jenderal TNI (Purn.) A.M. Hendropriyono, dengan usianya yang telah melampaui
delapan puluh tahun, bergegas hadir. Kehadirannya bukan tanpa alasan, ia
ingin mengapresiasi sebuah buku karya Profesor Conny Rahakundini Bakrie,
seorang pemikir yang dianggapnya unik dan berbobot. Lebih dari sekadar
apresiasi terhadap karya tulis,
Hendropriyono juga menyoroti beberapa
individu yang menurutnya memiliki karakter dan kontribusi luar biasa bagi
bangsa.
Dalam paparannya, Hendropriyono menyampaikan kegembiraannya bisa
bertemu dengan Rocky Gerung, seorang filsuf yang diyakininya telah
mengangkat martabat ilmu filsafat. Ia mengenang bagaimana dulu banyak
fakultas filsafat di Indonesia dibubarkan atau diturunkan statusnya menjadi
peminatan. Namun, setelah kemunculan Rocky Gerung, minat mahasiswa
terhadap filsafat kembali meningkat.
“Satu guru, satu ilmu,” ujarnya, merujuk
pada pengaruh positif yang dibawa oleh Rocky Gerung, bahkan di universitas
sekelas UGM.
Selain itu, Hendropriyono juga memberikan penghargaan tinggi
kepada Soraya Haque, yang ia kenal sebagai satu-satunya perempuan yang
mampu mengintegrasikan peran ibu rumah tangga, aktivitas sosial, dan dunia
hiburan dalam satu sosok yang utuh.
Sosok lain yang tak luput dari perhatian Hendropriyono adalah Akbar Faizal.
Ia memuji Akbar Faizal sebagai pribadi yang berani meninggalkan “kubangan”
atau zona nyamannya, bahkan melepaskan jabatan anggota DPR yang seringkali dipertahankan banyak orang hingga beberapa periode.
Hendropriyono menekankan bahwa Akbar Faizal adalah contoh nyata orang
cerdas yang tidak hanya vokal, tetapi juga memiliki pemikiran dan
penyampaian yang berbobot, serta mampu melepaskan diri dari godaan
materi dan kehormatan demi menjaga harga diri dan martabatnya. Pertemuan
ini juga menjadi ajang reuni bagi Hendropriyono dengan sahabat masa
kecilnya, Guntur Soekarnoputra.
Ia terkesan dengan putri Guntur, yang
digambarkan sebagai “singa di panggung” layaknya ayah dan kakeknya,
namun memiliki pandangan yang mengejutkan: menggali kebangsaan dan
nasionalisme tidak perlu dengan kekerasan, melainkan dengan cinta kasih dan
pengetahuan. Keempat tokoh ini – Rocky Gerung, Soraya Haque, Akbar Faizal,
dan putri Guntur Soekarnoputra – disebut Hendropriyono sebagai pribadi-pribadi unik yang sangat ia hargai sepanjang hidupnya.
Urgensi Karakter Bangsa dan Visi Masa Depan Indonesia
Fokus utama Hendropriyono, dan yang membuatnya secara khusus hadir
setelah 28 tahun absen dari forum publik, adalah pemikiran Profesor Conny
Rahakundini Bakrie. Hendropriyono menyoroti peran Conny sebagai anggota
Valdai Group Discussion, sebuah think tank pemerintah Rusia untuk politik
luar negeri. Baginya, Conny bukan sekadar anggota biasa, melainkan
representasi Indonesia dan Asia Tenggara yang mampu menjembatani
wawasan Barat yang tajam dan materialistis dengan wawasan Timur,
khususnya Indonesia, yang spiritualistis. Keberadaan Conny di forum global
ini dianggap sangat bermanfaat, karena tidak banyak orang Indonesia yang
bisa duduk di think tank negara adidaya seperti Rusia, terutama di tengah
kondisi geopolitik global yang penuh ketegangan antara Rusia, China, dan
Amerika Serikat.Buku yang ditulis oleh Profesor Conny, dinilai Hendropriyono sebagai karya
yang sangat berbobot, lugas, dan tajam dalam analisisnya, sehingga mudah
dipahami bahkan oleh pelajar SMA.
Sasaran dari buku ini, menurut
Hendropriyono, adalah elit bangsa (pemimpin di struktur pemerintahan), para
akademisi, dan generasi muda. Ia berharap, melalui buku ini, akan terbentuk
sebuah pemikiran yang mengarah pada “cetak biru” untuk masa depan
bangsa Indonesia.
Lebih lanjut, Hendropriyono menggarisbawahi pesan penting dari Profesor Conny mengenai kekuatan sejati Indonesia. Di tengah peradaban dunia yang
berfokus pada materi dan ekonomi, Conny mengingatkan bahwa kekuatan
Indonesia bukan hanya pada pengejaran materi, melainkan pada karakter
bangsa itu sendiri. Karakter ini, yang harus tertanam pada generasi penerus,
berfondasikan filsafat bangsa, etika kolektif, kebudayaan asli, dan
intelektualitas. Pembentukan karakter yang mumpuni ini, menurut Conny,
harus melalui pendidikan soft power dan smart power yang humanis, bukan
dengan kekerasan. Pendidikan harus membangkitkan kesadaran diri untuk
membentuk karakter yang jelas arah dan tujuannya, yang tercermin dari cara
berpikir, berbicara, dan bertingkah laku.
Epilog
Naskah yang disampaikan Hendropriyono adalah sebuah refleksi mendalam
tentang pentingnya karakter, integritas, dan pemikiran berbobot dalam
membangun bangsa. Di tengah dinamika zaman yang terus berubah, ia
menegaskan bahwa fondasi sejati kemajuan terletak pada individu-individu
berintegritas yang mampu menjembatani perbedaan, membawa aspirasi
bangsa ke kancah global, dan menanamkan nilai-nilai luhur kepada generasi
penerus. Buku Profesor Conny Rahakundini Bakrie menjadi salah satu medium
penting untuk mewujudkan visi tersebut, sebuah seruan untuk kembali pada kekuatan internal dan spiritualitas bangsa Indonesia sebagai kunci menuju
masa depan yang lebih baik.**
Jakarta, 20 Juni 2025
—
![]()
