Blengep,Kuliner Warisan Rasa Dari Tanah Indramayu

Blengep,Kuliner Warisan Rasa Dari Tanah Indramayu

Penulis : Sujaya, S. Pd. Gr.

Di tengah hiruk-pikuk dunia kuliner modern, masih ada secercah kehangatan dari jajanan tradisional yang pelan namun pasti mulai terlupakan. Salah satunya adalah Blengep Kueh, jajanan khas Indramayu yang menyimpan kekayaan rasa, sejarah, dan budaya. Nama “blengep” mungkin terdengar asing di telinga generasi muda, namun bagi masyarakat pesisir utara Jawa, kue ini adalah bagian dari kenangan masa kecil dan simbol kebersamaan dalam keluarga.

Blengep Kueh dikenal dengan teksturnya yang lembut dan sedikit lembek—sesuai dengan arti kata “blengep” dalam bahasa daerah setempat. Terbuat dari bahan sederhana seperti tepung ketan, kelapa parut, dan gula merah, kue ini menyuguhkan kombinasi rasa manis dan gurih yang pas. Proses pembuatannya pun tidak rumit, cukup dengan membentuk adonan tepung yang diisi campuran kelapa dan gula merah, lalu dikukus hingga matang. Meski sederhana, rasanya mampu meninggalkan kesan mendalam.

Keunikan Blengep Kueh tak hanya terletak pada cita rasanya, tapi juga pada nilai budayanya. Kue ini sering disajikan dalam acara adat, hajatan, dan syukuran. Di masa lalu, pembuatannya dilakukan secara gotong royong oleh para ibu rumah tangga di kampung, menjadi momen kebersamaan yang mempererat hubungan sosial. Sayangnya, tradisi itu kini mulai memudar, tergeser oleh dominasi makanan instan dan jajanan kekinian yang lebih menarik perhatian anak muda.

Kehilangan Blengep Kueh berarti kehilangan satu potong mozaik budaya Indramayu. Oleh karena itu, perlu ada upaya serius untuk mengenalkan kembali jajanan ini, baik melalui pendidikan kuliner di sekolah, promosi melalui media sosial, maupun pelatihan UMKM lokal. Anak-anak muda perlu disadarkan bahwa menjaga warisan budaya bukan hanya dengan mengenang, tetapi dengan mencicipi, membuat, dan membagikan kembali kue-kue tradisional seperti ini.

Di setiap gigitan Blengep Kueh, tersimpan cerita tentang masa lalu, tentang kesederhanaan yang penuh makna. Kuliner tradisional seperti ini bukan sekadar makanan, tetapi warisan rasa yang perlu terus dihidupkan agar tidak hilang ditelan zaman.


Indramayu,8/5/2025
—-

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!