Al-Zaytun Menyemai Generasi STEM Menuju Indonesia Emas 2045

Al-Zaytun Menyemai Generasi STEM Menuju Indonesia Emas 2045


INDRAMAYU-JAYA NEWS.COM – Ahad Pagi yang Menghidupkan Semangat Belajar

Sejak 1 Juni 2025, Al-Zaytun secara konsisten menggelar pelatihan bagi pelaku didik setiap Ahad pagi. Kuliah umum Ahad, 28 September 2025, sudah memasuki sesi ke-17. Pagi itu, Masjid Rahmatan Lil Alamin Al-Zaytun dipenuhi lebih dari 2.700 peserta: eksponen yayasan, dosen, guru, mahasiswa, pelajar Madrasah Aliyah, unit pendukung pendidikan, hingga para wali santri.
Suasana akademik terasa hidup. Tidak sekadar mendengar ceramah, peserta diajak mengamati, bertanya, dan mendiskusikan gagasan besar tentang pendidikan masa depan.

STEM sebagai Pilar Kemajuan Bangsa

Narasumber kali ini, Prof. Dr. Jarnuzi Gunlazuardi, S.Si., Guru Besar Kimia Universitas Indonesia, membuka wawasan peserta tentang STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) yang kini berkembang menjadi STEAM dengan tambahan Law dan Art.

Menurut Prof. Jarnuzi, bangsa yang menguasai STEM akan berada di garis depan inovasi. Dari revolusi industri 1.0 hingga era Society 5.0, sains dan teknologi selalu menjadi motor kemajuan.

Ia menekankan, bahwa pendidikan tidak boleh terfragmentasi; siswa perlu diajak mengintegrasikan pengetahuan sains, teknologi, rekayasa, dan matematika ke dalam pengalaman nyata.

Best Practice Al-Zaytun: Dari Teori ke Aksi

Prof. Jarnuzi menyebut Al-Zaytun sebagai contoh best practice. Lingkungan hijau, fasilitas memadai, dan pola asrama yang mendukung pembelajaran berbasis riset memberi peluang besar bagi peserta didik.

Ia mencontohkan proyek sederhana: sistem irigasi otomatis berbasis sensor kelembapan tanah. Dari situ, siswa belajar siklus air (sains), sensor dan pengendali (teknologi), merancang tata letak (rekayasa), dan menghitung volume air (matematika). Model ini dapat diterapkan di mana saja, termasuk daerah 3T, dengan memanfaatkan potensi lokal.

Menyemai Keterampilan Abad 21

Kuliah umum ini menekankan pembelajaran aktif—bukan hanya menyerap fakta. Peserta didik diajak berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan memiliki literasi digital.
Prof. Jarnuzi mengingatkan:
“Anak-anak yang cerewet bertanya itu tanda calon ilmuwan. Jangan dimatikan pertanyaannya. Wadahilah rasa ingin tahu mereka.”

Ia juga menekankan, pentingnya keberanian pemerintah dan lembaga pendidikan untuk mengimplementasikan kurikulum integratif sejak SD hingga perguruan tinggi agar lahir SDM unggul yang siap mengisi bonus demografi Indonesia.

Epilog Inspiratif: “Dari Al-Zaytun untuk Indonesia Emas”

Kuliah umum Ahad di Al-Zaytun bukan sekadar rutinitas, melainkan investasi masa depan bangsa. Dengan pendekatan STEM yang kontekstual, inklusif, dan berorientasi masa depan, Al-Zaytun menyiapkan generasi muda yang bukan hanya pembelajar, tetapi juga inovator.
Jika pola ini menyebar ke seluruh Indonesia, impian Indonesia Emas 2045 bukan lagi slogan, tetapi kenyataan.

Seperti disampaikan Prof. Jarnuzi, bangsa yang menguasai STEM akan menguasai masa depan. Dan Al-Zaytun telah menapakkan langkah nyata ke arah sana.**


Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I. ME
—-

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!