Refleksi Para Akademisi Pada Milad ke 79 Syaykh Panji Gumilang: Menggagas Indonesia Abadi Melalui Pendidikan
Oleh : Dr.Ali Aminulloh,S.Ag,M.Pd.I,M.E
( Ketua Majelis Pengendali Asrama & Dosen IAI Al Zaytun Indonesia )
Merayakan Keberagaman di Indonesia Mini Al-Zaytun
Rabu, 30 Juli 2025, menjadi penanda sebuah momen bersejarah yang penuh makna. Di usianya yang ke-79, Syaykh Al-Zaytun, Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang, tidak merayakan pertambahan usianya dengan hura-hura, melainkan dengan sebuah forum refleksi bertajuk “Bincang Bersama sebagai Manifestasi Doa Usia 79 Tahun Syaykh AS Panji Gumilang.”
Acara ini dihadiri oleh berbagai kalangan, mulai dari tokoh pendidikan, tokoh lintas agama, para jurnalis, hingga akademisi.
Dalam pertemuan yang penuh kehangatan ini, Prof. Dr. H. Sanusi Uwés, M.Pd., Guru Besar Pendidikan Islam di UIN Sunan Gunung Jati, Bandung, membuka pandangannya dengan sebuah sanjungan yang mendalam. Ia merasa Pesantren Al-Zaytun adalah cerminan “Indonesia Mini”, tempat bertemunya berbagai suku, agama, dan budaya. “Dari Aceh sampai Irian, saya lihat ini tampil di sini,” ungkapnya. Ia berharap keabadian Indonesia dapat berawal dari keabadian misi dan visi yang ada di Al-Zaytun. Dengan 4.500 santri, di mana 1.500 di antaranya berlevel SLTA, ia mendorong agar Al-Zaytun tidak hanya berhenti sebagai pesantren, melainkan berani melangkah lebih jauh.
Visi Pendidikan dan Ketahanan Bangsa:
Sebuah Analisis Militer
Brigjen (Purn) Dr. Harangan Sitorus, seorang Dosen dan Praktisi Pendidikan Strategis, turut hadir dan memberikan pandangannya. Sebagai purnawirawan tentara, kehadirannya terasa unik dan istimewa. Ia merefleksikan pemikiran Syaykh yang begitu besar, yang dimulai dari pendidikan dan berkembang menjadi strategi pendidikan revolusioner. Harangan Sitorus memaparkan bahwa pendidikan memiliki tiga tahapan: pendidikan keluarga, pendidikan lingkungan, dan pendidikan formal. Ia menggarisbawahi peran ibu sebagai pendidik utama di keluarga, yang sejalan dengan pernyataan Syaykh.
Sebagai seorang militer, Harangan Sitorus juga melihat usia 79 Syaykh sebagai momen untuk merefleksikan lingkungan strategis bangsa.
Ia menyoroti isu-isu global seperti Perang Kamboja, Rusia-Ukraina, dan Israel-Palestina, serta membandingkannya dengan Indonesia yang mampu menyatukan berbagai perbedaan.
Ia menyebutnya sebagai NKRI Harga Mati yang sesungguhnya. Menurutnya, Indonesia adalah negara yang diberkati Tuhan, sebuah “pelintasan segala persoalan dunia” namun tetap kokoh bersatu di bawah payung Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.
Harangan Sitorus juga menyoroti ironi sosial, di mana tempat-tempat yang merusak moral dibiarkan, sementara tempat ibadah digerebek, sebuah fenomena yang menunjukkan pendidikan lingkungan strategis yang belum mengakar.
Kritik, Inovasi, dan Visi Tanpa Batas
Kritik yang membangun juga datang dari Dr. Ir. Edison Nababan, M.Sc., seorang Akademisi Ahli Kimia yang memiliki pemikiran kritis. Ia mengaku awalnya sempat meragukan Syaykh karena label “sesat” yang beredar, namun sebagai peneliti, ia memilih untuk berpikir kritis dan melihat langsung. “Sejuta nasehat dan khutbah tidak mampu mengalahkan satu perbuatan baik,” tegasnya, memuji pembangunan Masjid Al-Zaytun sebagai bukti perbuatan nyata.
Edison juga memaparkan filosofi hidupnya tentang pentingnya “keluar dari sungai” ketika berenang melawan arus. Ia menawarkan kolaborasi untuk menjadikan Al-Zaytun sebagai pusat riset (center of science), mulai dari teknologi listrik tanpa bahan bakar hingga metode pertanian. Ia juga mengenalkan konsep filosofi yang ia dapatkan dari Syaykh, yaitu “kenal diri, percaya diri, dan menjual diri” serta “empati, telepati, simpati” yang menjadi kunci kesuksesan.
Sementara itu, Dr. Ahmad Sudirman Abbas, Dosen UIN Syarif Hidayatullah, memberikan pandangan spiritual yang mendalam. Ia melihat angka 79 yang merupakan usia Syaykh saat ini sebagai sebuah berkah yang istimewa. Angka tersebut ia kaitkan dengan nomor pintu 79 di Masjidil Haram, yaitu Babul Fahd, yang menjadi penghubung antara dunia luar dan dalam.
Ia juga mengutip ayat Al-Quran (Al-Isra ayat 79) yang bermakna “Maqomman Mahmuddah”, sebuah derajat yang tinggi yang patut disyukuri.
Tak ketinggalan, Prof. Dr. Jimmy Milton Robert Lumintang, M.Th., Rektor dari Sekolah Tinggi Teologi Institut Perguruan Tinggi Al Kitab dan Teologi Jakarta, yang pernah diundang untuk berbagi berkat di kampusnya, menyampaikan ucapan selamat ulang tahun kepada Syaykh Panji Gumilang.
Ia memohon untuk berdiri dan memberikan ucapan selamat ulang tahun secara langsung, sebuah gestur persahabatan yang melintasi batas-batas keyakinan.
Di sisi lain, Prof. Dr. Ciek Juliati Hasyam, Guru Besar Tetap Universitas Negeri Jakarta dan Pakar Sosiologi Pendidikan, melihat Syaykh Panji Gumilang sebagai tokoh yang tak lelah menegakkan karakter bangsa.
Ia merasa bangga karena di usia yang ke-79, Syaykh masih menjadi inspirasi. Ia menyayangkan karena Al-Zaytun masih mendapat label negatif, padahal di dalamnya sudah tertanam pendidikan karakter yang luar biasa, berawal dari didikan ibu Syaykh sendiri yang sederhana namun mendalam.
Prof Ciek juga membawa kabar gembira terkait usulan politeknik yang diajukan Syaykh, di mana Dikti memberikan lampu hijau untuk proses pendiriannya, sebuah kabar yang sejalan dengan cita-cita Syaykh untuk terus mengembangkan pendidikan.
Epilog: Jalan Keabadian yang Ditenun Bersama
Di tengah perbincangan para tokoh kampus, terjalin sebuah benang merah yang menghubungkan pemikiran Syaykh Panji Gumilang dengan pandangan para akademisi. Melalui kacamata seorang Guru Besar Pendidikan Islam, seorang Guru Besar Sosiologi, seorang peneliti inovatif, seorang dosen UIN yang spiritual, dan seorang purnawirawan tentara, visi pendidikan yang digagas Syaykh bukanlah sekadar teori, melainkan sebuah strategi yang kokoh, berakar pada filosofi hidup yang mendalam.
Dari pelajaran sederhana tentang “warung” hingga konsep “Empati, Telepati, Simpati,” setiap pemikiran Syaykh adalah bukti bahwa perubahan besar dimulai dari hal-hal kecil, dari kesadaran akan jati diri, dan dari keberanian untuk melangkah.
Kisah beliau, yang terus mengalir dan menginspirasi di usia senja, adalah pengingat bagi kita semua. Bahwa gelar dan jabatan hanyalah sebatas atribut, sementara keabadian sesungguhnya terletak pada gagasan yang bermanfaat dan perjuangan yang tak kenal lelah. Gagasan 500 asrama, politeknik, dan pusat riset adalah janji untuk masa depan, sebuah investasi jiwa yang akan membentuk pemimpin-pemimpin yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kaya akan empati dan simpati.
Pada akhirnya, refleksi dari para akademisi ini menyentuh inti terdalam kemanusiaan: setiap kita memiliki potensi untuk menjadi pionir perubahan. Tinggal menunggu, apakah kita berani menyalakan api di dalam diri, menyamakan frekuensi dengan orang-orang di sekitar kita, dan berjuang bersama untuk mewujudkan mimpi kolektif: Indonesia yang tidak hanya jaya, tetapi juga abadi dalam kemuliaan? (*)
Indramayu, 4 Agustus 2025
—
![]()
