Praktek Esoterik Membuktikan Spiritual Universal Ketika Menyambut Kehadiran Kematian

Praktik Esoterik Membuktikan Spiritual Universal Ketika Menyambut Kehadiran Kematian


Penulis : Jacob Eteste
Wartawan Lepas


Ars moriendi artinya bisa dipahami bukan hanya masalah kematian, tetapi yang lebih penting untuk memahami cara hidup yang bijak dan mempersiapkan diri untuk memiliki nyali menjemput kematian diri kita yang tidak mungkin terelakkan. Seperti halnya pemikiran filsafat Zeno dari Citium yang menjadi bagian dari referensi gagasan diskusi “Latihan Mati Sebagai Praktik Spiritual” yang akan diselenggarakan Esoterika ke-62 pada hari Selasa, 22 Juli 2025 pukul 19.00-21.00 melalui zoom meeting juga mengacu pada hikmah kitab Koholet dalam perspektif filsafat khotbah dan antaragama. Bahwa segala sesuatu adalah fana dan sia-sia, maka hiduplah dengan sadar, sederhana dan penuh rasa syukur di tengah ketidakpastian hidup sebagai manusia. Jadi, sejenak untuk merenungkan tentang kematian, bukanlah sikap pesimis, seperti yang bisa tersingkap dari Kitab Kohelet yang menyiratkan bahwa menghadirkan kematian dalam kesadaran merupakan bagian dari praktik spiritual, setidaknya untuk tidak ditakuti, karena sesungguhnya dapat meneguhkan sikap bijak maupun pemahaman tentang kebenaran adanya Yang Maha Kuasa atas jagat dan seisinya. Begitulah dalam tradisi yang sempat tumbuh, memento mori dapat menyadarkan diri untuk memahami kematian sebagai upaya untuk membersihkan diri agar dapat segera menghentikan segala perbuatan yang buruk, bukan hanya kepada orang lain, karena yang paling utama adalah untuk diri sendiri.

Dalam perspektif yang lebih unik, diskusi yang digagas Isoterika ini hendak mengungkap latihan mati bukankah dorongan untuk menyerah, tetapi untuk menata cara hidup yang lebih berkesadaran, bersyukur untuk memantapkan arah jalan hidup. Sehingga esensi tentang kematian dapat menjadi cermin mengaca diri dalam upaya dan usaha menemukan hikmat yang sejati.

Praktik spiritual serupa ini, kata panitia pelaksana diskusi seperti yang tercantum dalam release yang acara tersebut, praktik spiritual semacam ini bisa membantu siapa saja yang merasa sebagai manusia dapat menata hidup dengan rendah hati dan menapaki jalan hidup secara lebih bijak dan jernih.

Dr. Rita Wahyu Wulandari akan tampil sebagai Nara sumber bersama Dr. Budhy Munawar Rachman, Koordinator Esoteris Forum Spiritual dengan Moderator Anick HT. Bagi yang berminat ikut menjadi peserta diskusi pada hari Selasa, 22 Juli 2025, pukul 19.00-21.30 dapat melalui link zoom : https://s.id/Esoterika62, atau http//us06web.zoom. Dan meeting ID: 864 8007 2112. Adapun passcode : diskusi62.

Jadi dapatlah untuk disimpulkan bahwa spiritual yang mendalam tentang Ars moriendi — yaitu Seno menghadapi kematian — mungkin untuk diri sendiri atau kematian orang lain, bisa dipahami sebagai bagian dari hidup yang bijak. Tidak hanya sebatas mempersiapkan kehadiran kematian yang disikapi dengan pasif, tetapi dapat dijadikan cermin bengggala untuk mengaca diri, sadar, rendah hati dan penuh rasa syukur. Setidaknya — sebagai manusia — dapat hidup lebih utuh, damai dan penuh keinsafan terhadap eksistensi Tuhan dan kita bersama jagat raya dan seisinya lainnya adalah ciptaan Yang Maha Kuasa. Sehingga praktik esoterik bisa menjadi ruangan pelantar dari refleksi antar-iman sekaligus membuktikan spiritual itu bersifat universal, karena dimiliki oleh masing-masing umat beragama.**


Cilengsi, 21 Juli 2025

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!