Peran PT. Agrinas Palma Nusantara Harus Transparan Agar Swasembada Pangan & Energi Bisa Tercapai Untuk Dapat Dinikmati Rakyat
Oleh : Jacob Ereste
Wartawan Lepas
Tiga entitas PT. Agrinas Palma Nusantara adalah perkembangan kelapa sawit utamanya dalam pengelolaan lahan sitaan seluas 221.000 hektar sejak Maret 2025 dan pada Juli 2025 menerima lahan perkebunan sawit sitaan seluas 400.000 hektar hingga total semua berjumlah 833.000 hektar.
Masih dalam bidang pertanian yang terkait dengan pangan dan fasilitas penggilingan padi dan jagung akan dibangun di 6 lokasi untuk mendukung upaya meningkatkan produksi pangan nasional. Sedangkan perikanan telah direncanakan pengembangan tambak budidaya ikan seluas 20.000 hektar di pulau Jawa.
Asal usul PT. Agrinas PO Alma Nusantara memang berasal dari PT. Indra Karya (Persero) sebagai salah satu dari tiga BUMN Karya yang dialihkan fokusnya ke sektor pangan dan energi hijau. Hingga pada Januari 2025 menjadi PT. Agrinas Palma Nusantara (Persero) sebagai bagian dari holding Agrinas, seperti tersebut di atas.
Adapun pendanaan dan struktur kepemilikan dengan modal yang bersumber dari penyertaan modal negara (PNM) sebesar Rp 8 triliun yang diproyeksikan dari deviden Danantara, bukan dari Kementerian Keuangan. Adapun para pengelola manajemen PT. Agrinas Palma Nusantara sebagai Direktur Utama Letnan Jendral (Purn) Agus Sutomo, mantan Irjen Kementerian Pertahanan. Direktur Perkebunan, Cucu Sumantri, Direktur SDM & Umum Bachtiar Utomo, Direktur Keuangan dan Manajemen Resiko M.Wais Fanshuri, Direktur Bisnis dan Pengembangan Industri Edin Slamet Irianto, Direktur Konsultan Konstruksi, Gagah Guntur Aribowo dan Direktur Operasi, Ospin Sembiring. Adapun Komisaris Utama PT. Agrinas Palma Nusantara adalah Wisnoe Prasetja Boedi.
Dalam kemitraan strategis, PT. Agrinas Palma Nusantara melakukan kerjasama dengan IPB (Institut Pertanian Bogor) dalam ruang lingkup pendidikan, penelitian serta pengembangan biorefinery, biomas, pupuk, sistem tumpang sari dan lain-lain. Sementara info yang dihimpun Atlantika Institut Nusantara mencatat proyek strategis PT. Agrinas Jaladri Nusantara di Pulau Jawa seluas 20.000 hektar. Untuk perkebunan sawit PT. Agrinas Palma Nusantara telah menerima lahan sitaan 221.000 hektar dengan rincian 145.000 hektar yang perlu diperbaiki. Hingga target masa panjang akan mencapai 1 juta hektar perkebunan sawit di Indonesia. Tentu saja luasan perkebunan sawit sebesar itu diperlukan menajemen pengelolaan yang transparan, agar tidak menjadi lahan bancaan baru dari “pesta korupsi” yang semakin marak dilakukan di Indonesia.
Transparansi itu mulai dari tata pengelolaan administrasi, pekerja, penempatan personil baru, hingga efektivitas pengumpulan hasil panen hingga pemasukan keuangan yang terang pelaporan serta peruntukannya, agar tidak sampai menimbulkan masalah baru untuk menertibkan tata kelola aset negara yang tidak begitu terasa dapat dinikmati oleh masyarakat. Bocoran informasi dari Menteri Koordinator Pangan, Zulkifli Hasan yang diperoleh hanya sebatas PT. Agrinas Palma Nusantara yang sudah mulai berjalan mengelola tambak ikan, perkebunan sawit sitaan dan pengolahan pangan. Namun Ikhwal kegaduhan tentang beras oplosan yang beredar beredar luas dalam masyarakat tidak dapat diperoleh keterangan bagaimana langkah-langkah preventif untuk mengatasinya agar tidak menambah dera dan derita warga masyarakat yang tengah dirundung himpitan ekonomi yang berat.
Artinya, rakyat perlu tahu cara yang dilakukan pemerintah — utamanya PT. Agrinas Palma Nusantara yang memiliki wewenang dan otoritas untuk masalah pangan — agar rakyat dapat ikut melakukan antisipasi atau berperan lebih banyak untuk ikut serta mengatasi keculasan mafia pangan, setelah mengobrak-abrik bahan bakar minyak, perbankan serta CPO dan gula yang tak kunjung rampung itu.**
Banten, 14 Juli 2025
—
![]()
