KENDAL-JAYANEWS.COM – Melestarikan seni tradisional tak cukup hanya dengan mewariskan keterampilan. Pemahaman filosofi cerita dan kemampuan beradaptasi dengan zaman diperlukan agar kesenian Jawa tetap relevan, terutama bagi generasi Z.
Berangkat dari kebutuhan itu, Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Negeri Semarang (UNNES) mendampingi seniman muda Sanggar Ciptaning di Kawasan Siberi, Boja, Kabupaten Kendal melalui pelatihan berbasis Strategi SIMAK.
Tim diketuai Sungging Widagdo, S.Pd., M.Pd., dengan anggota Prof. Dr. RM Teguh Supriyanto, M.Hum., Rahma Ari Widihastuti, S.Pd., M.A., Rimasari Pramesti Putri, S.Pd., M.Pd., Dr. Nur Hanifah Insani, S.Pd., M.Pd., Joko Wiyoso, S.Kar., M.Hum., dan Arif Fiyanto, S.Sn.,M.Sn.
“Program ini melibatkan sekitar 20 seniman muda dengan dukungan seniman senior. Pelatihan digelar setiap Kamis, pukul 15.00–17.30 WIB, di Pendapa Sanggar Ciptaning. Materinya meliputi pengembangan sanggit atau penggubahan lakon wayang, cerita ketoprak, tembang macapat, seni tari, dan seni rupa” ujar Sungging Widagdo, Kamis 22 Oktober 2026.
Ia melanjutkan, sebelumnya, proses pembelajaran di sanggar lebih banyak mengandalkan metode lisan: mendengarkan, menirukan, dan menghafal materi dari seniman senior. Pola itu penting untuk menjaga tradisi, namun belum sepenuhnya membantu peserta memahami filosofi lakon, karakter tokoh, serta kosakata Jawa klasik. Akibatnya, sebagian seniman muda kesulitan mengembangkan cerita yang relevan dengan persoalan sosial kontemporer.
Melalui Strategi SIMAK ( Semangat, Inovatif, Mandiri, Aktif, dan Kreatif ) peserta didorong lebih aktif dalam penciptaan karya. Mereka menganalisis persoalan dalam lakon, diskusi kelompok, menelaah referensi, menyusun naskah, menyunting, menguji hasil, dan mengevaluasi. Sumber digital dan teknologi kecerdasan buatan (AI) juga dimanfaatkan sebagai pendukung gagasan.
Hasil observasi dan wawancara sebelum dan sesudah pelatihan menunjukkan peningkatan signifikan. Keterampilan peserta dalam mengembangkan sanggit lakon wayang dan ketoprak, menembangkan lagu Jawa, menari, serta melukis meningkat. Pemahaman teknik penulisan naskah, nilai filosofis, dan konteks sosial cerita juga membaik.
Prof. Teguh Supriyanto, ahli sastra dalam tim, menilai naskah sanggit lakon karya peserta telah memenuhi aspek kesusastraan yang baik dan relevan dengan realitas kehidupan masa kini.
Pengelola Sanggar Ciptaning, Alam Tonggak Amarta, mengapresiasi program tersebut. Menurutnya, pendampingan tidak hanya meningkatkan kompetensi seniman muda, tetapi juga memperkuat manajerial sanggar.
Ke depan, tim dan pengelola menyepakati kelanjutan program dengan materi lebih beragam, meliputi pementasan di Sanggar Ciptaning, pemantapan tata kelola sanggar, serta pengembangan kesempatan pentas di luar sanggar yang berpotensi meningkatkan produktivitas ekonomi seniman.
Namun keterbatasan waktu, tenaga, dan anggaran membuat pendampingan belum menjangkau seluruh seniman muda secara optimal. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pengelola sanggar, seniman senior, dan pemangku kepentingan kebudayaan dinilai perlu terus diperluas.
Dari Boja, upaya ini menegaskan bahwa pelestarian tradisi bukan berarti mempertahankan kesenian tanpa perubahan. Tradisi akan terus hidup ketika generasi penerus memahami akarnya sekaligus berani mengembangkan karya yang bermakna bagi masyarakat masa kini.
Penulis : Nur Fateah
Editor : Nuryaji
——
![]()
