Sepak Bola

Oleh: Wari Dewan Redaksi JayaNews.Com.

Sepak bola itu bukan cuma 22 orang mengejar bola.

Sepak bola itu tentang rasa. Tentang kita.

Sepak bola itu bikin suasana haru.

Ketika 70.000 orang di GBK menyanyikan Indonesia Raya dengan air mata. Tidak ada yang menyuruh. Semua berdiri. Anak kecil di Sliyeg yang nonton lewat HP retak pun ikut mengepalkan tangan. Di detik itu, kita ingat kita adalah Indonesia.

Sepak bola itu bikin sedih.

Ketika peluit akhir berbunyi dan kita kalah di menit 90+3. Stadion sepi. Kepala tertunduk. Di warung kopi, tidak ada yang bicara. Kita pulang dengan langkah berat, seolah yang kalah bukan tim, tapi kita sendiri.

Sepak bola itu bikin nyesel.

Nyesel kenapa tendangan itu melambung. Nyesel kenapa wasit tidak lihat VAR. Nyesel kenapa dulu bakat kita tidak dilatih serius. Nyesel yang datang terlambat, setelah semua selesai.

Sepak bola itu bikin bangga.

Bangga saat anak kampung dari Indramayu bisa pakai jersey Garuda. Bangga saat pemain keturunan yang lahir di Belanda itu mencium lambang Garuda di dadanya. Bangga karena untuk 90 menit, kita bisa sejajar dengan Jepang, dengan Arab, dengan dunia.

Sepak bola itu bikin senang, bikin menangis, bikin bahagia.

Tiga rasa yang datang bersamaan. Kita melompat, kita teriak, kita peluk orang yang bahkan tidak kita kenal di sebelah. Kita menangis bukan karena cengeng, tapi karena bahagia itu terlalu penuh untuk disimpan sendiri. Di situ, bapak-bapak, anak muda, anak anak, semua sama.

Sepak bola itu bikin bersatu.

Di luar stadion kita beda pilihan, beda suku, profesi, beda nasib. Tapi di dalam stadion, kita satu nama, Indonesia. Tidak ada orang Indramayu, orang Jawa, orang Papua. Yang ada hanya satu: Kita Indonesia.

Sepak bola itu bikin semangat.

Semangat untuk percaya lagi. Kalah hari ini, kita bilang “next match”. Jatuh hari ini, kita latihan lagi besok. Sepak bola mengajarkan kita untuk tidak pernah berhenti berharap.

Dan sepak bola itu adalah mimpi.

Mimpi anak kecil yang main bola pakai kaki ayam di pematang sawah kampung , yang bermimpi suatu hari main di GBK.
Mimpi seorang bapak yang bermimpi melihat Timnas masuk Piala Dunia sebelum ia tua.
Mimpi kita semua, bahwa dari desa kecil, dari lapangan becek, kita bisa terbang setinggi-tingginya.

Itulah sepak bola. Ia tidak pernah hanya soal skor 1-0 atau 2-1.
Ia soal air mata yang jatuh, tawa yang pecah, dan dada yang sesak karena bangga.

Karena sepak bola, kita belajar menjadi manusia, belajar sportifitas, menghormati orang lain dan menjaga rasa keadilan dan kejujuran.

Indramayu, 6 Oktober 2026.
—

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!