Penulis : Wari
Editor : Nuryaji
Jika melintas di desa-desa Kabupaten Indramayu, terutama di musim khitan, hampir mustahil tidak mendengar tabuhan kendang yang menghentak. Diikuti kerumunan anak-anak, muncullah tandu kayu besar berbentuk singa yang di atasnya duduk seorang bocah berpakaian Gatotkaca. Itulah Singa Depok.
Bagi orang luar, ia hanya hiburan. Bagi wong Dermayu, ia adalah tradisi, doa, dan pesta rakyat sekaligus.
Dari Sindiran untuk Penjajah
Meski kini identik dengan Indramayu, Singa Depok sejatinya berakar dari kesenian Sisingaan Subang. Kesenian ini lahir sebagai bentuk sindiran rakyat terhadap kolonial Inggris.
Warga membuat boneka singa dari kayu, lambang kekuatan Inggris, lalu mengaraknya sambil menari. Seolah berkata, kekuatan besar pun bisa digotong bersama.
Tradisi itu merantau ke Indramayu, berakulturasi dengan budaya pesisir dan tarling, lalu menjelma menjadi Singa Depok. Di Indramayu ia juga disebut Singa Ungkleuk atau Gotong Singa.
Bukan Sekadar Boneka, Tiga Seni Sekaligus
1. Seni Rupa: Tandu singa dibuat dari rangka kayu, dibentuk menyerupai singa, buroq, naga berkepala tiga, bahkan kuda. Anak yang akan dikhitan dipakaikan kostum Gatotkaca lengkap: mahkota wayang, rompi hitam manik-manik, selendang merah, sayap, dan keris.
2. Seni Musik: Iringannya khas. Kendang indung, kulanter, bonang, gong, kecrek, suling, dan kini ditambah drum elektrik dan gitar.
3. Seni Tari dan Atraksi: Para penggotong tidak sekadar memikul. Mereka menari dinamis, naik turun, berputar, membuat singa seolah hidup. Selesai arak-arakan, biasanya ada atraksi debus.
Hajatan, Rasulan, dan Doa Orang Tua
Di Indramayu, Singa Depok hampir selalu hadir dalam dua momen sakral:
– Khitanan Anak: Anak yang dikhitan diarak keliling kampung di atas singa. Maknanya, mengumumkan kepada masyarakat bahwa anak ini telah memasuki fase kedewasaan.
– Rasulan: Tradisi anak dituntun mengucap dua kalimat syahadat sebagai penanda baligh secara agama.
Singa Depok bukan hanya tontonan. Ia adalah cerminan gotong royong wong Dermayu. Sebuah singa besar yang berat, hanya bisa diangkat jika puluhan orang memikul bersama dengan irama yang sama.**
Indramayu, 3 Oktober 2026
——
![]()
