TERUSLAH BERJALAN MESKIPUN DI HADAPANMU TIDAK ADA JALAN

*Teruslah Berjalan Meskipun di Hadapanmu Tidak Ada Jalan*

Oleh : Jacob Ereste

Secara fisik, dia telah kalah telak, tapi dalam dimensi spiritual dia enggan menyerah. Sebab dalam tradisi warisan leluhur, menyerah itu sikap dan sifat pamali yang tidak boleh dilakukan. Meski pada akhirnya harus kalah. Ia pun sadar, sejarah tidak boleh mencatat kekalahan dirinya akibat menyerah. Karena perlawan sampai titik akhir garis dilakukan dan dihadapi penuh kesadaran dan tawakal. Karena sejarah tidak boleh menyebut dirinya menyerah. Meski pada akhirnya setiap manusia akan mengalami kekalahan. Setidaknya dihadapan Tuhan, tapi Tuhan pun tidak pernah menganjurkan kepada umatnya untuk menyerah. Sebab manusia harus tetap dan terus berikhtiar seperti gairah ibadah, seakan sesaat lagi akan mati yang mengusung kemenangan, termasuk kekalahan melawan usia renta yang tidak sungguh mungkin untuk diperpanjang.

Karena itu, banyak orang yang terheran-heran, dalam usianya seuzur dirinya sekarang, gairah hidupnya masih terus menyala, seperti batu bateri yang tak pernah low bad. Dia sendiri pun terkadang termangu takjub, ketika mengenang rekan sebayanya yang telah tiada sejak beberapa tahun silam. Sehingga sejak masa beberapa tahun silam itu hingga kini, dirinya telah menikmati babak bonus seperti dalam acara kuis di televisi yang mengumbar hadiah untuk keunggulan dan kejenakaan dalam talk show sebabak yang sangat mungkin tidak akan terjadi untuk kedua kalinya selama hidup, seperti kehidupan itu sendiri yang pasti akan berakhir.

Jadi jelas, diantara waktu kelahiran dan kematian inilah kisah terbaik mesti diukir seindah batu nisan sendiri untuk menandai mereka yang kelak ingin ziarah, sekedar untuk mengingat sekelumit kisah masa lalu yang pernah dijalin bersama, kendati singkat dan mungkin tidak terlalu meninggalkan kesan yang indah. Tapi, suasana ziarah tidak lagi perlu mengiris kesedihan yang terlalu romantis. Sebab keindahan pada hari esok masih harus terus mereka dibangun, agar penerawangan pada masa depan bisa lebih terang bercahaya, walau tak semegah pesta pengantin sekelas selebriti manapun. Sebab yang penting dari ziarah itu ialah kenangan indah masa lalu agar tidak sampai terlupakan dalam catatan usang.

Bagi dirinya hidup memang semacam pertaruhan hidup dan mati di atena oktagon dalam Unlimited Fighting Champions. Semua dipertaruhkan, mulai dari harga diri hingga reputasi dan karakter kesatria, meski kemenangan juga yang akan menentukan. Meski seluruh tubuh jadi terasa remuk lebam, babak belur dan babak bundas entah pada ronde keberapa semua itu terjadi, tak perlu dirinci, kecuali kelak saat evaluasi dilakukan untuk sekedar memahami dan menyadari kekeliruan dan kesalahan yang bisa menimbulkan kekalahan yang memalukan. Sebab, kalau pun harus mengalami kekalahan semua harus tetap menjadi contoh keteladanan yang elegan. Sebab pertarungan harus ada yang kalah dari mereka yang memenangkan pertarungan yang memang tidak bisa dihindari, seperti bagian dari hidup dan kehidupan yang lain.

Begitulah hidup, kata Datuknya ketika berpesan saat dia hendak merantau. Peganglah filsafat untuk terus terap terus berjalan, meski dihadapanmu tidak ada jalan. Sebab dengan terus berjalan, maka engkau akan menemukan jalan yang tidak pernah dilalui oleh seorang pun, kecuali dirimu sendiri yang telah menciptakan jalan itu. Kerena itu, setiap kali hendak meninggalkan siapa pun — termasuk keluarga dan sahabatnya — ia selalu pamit dengan mengatakan kalimat pendek: aku jalan dahulu ya. Sebab sangat mungkin dirinya tak lagi akan kembali. atau pada ketika yang lain, mereka yang mendengar pamitannya itu akan menyusul dirinya yang sudah berada di suatu tempat yang tidak pernah mereka duga akan dikunjungi sebelumnya. Maka itu dalam filsafat hidupnya tak ada istilah kembali, kecuali datang dan pergi entah untuk berapa lama dapat dilakukan.

Persis seperti apa yang akan terjadi esok, meski perencanaan dan jadual sudah terinci dan terencana dengan baik, sebab angin dan hujan serta cuaca milik Tuhan, ada dalam perencanaan yang lain, di luar kekuasaan dan otoritas manusia yang sangat terbatas. Kekalahan kecil serupa itu memang berada di luar kuasa manusia. Sebab Tuhan sebagai pemilik alam semesta dan seisinya — termasuk makhluk terkecil di dunia yang tidak pernah tampak secara kasat mata — semacam bagian dari misteri yang membuktikan bahwa dimensi spiritual itu sungguh dan sangat luas. Sebab misteri dalam diri kita sendiri pun amat sangat tidak terhingga bilangannya.

Karena itu. dalam bilangan usianya yang telah uzur, dia tetap meyakini bahwa masa hidupnya masih sangat panjang terentang. Soalnya tinggal bagaimana memaknai sisa usia agar lebih banyak memberikan manfaat, setidaknya bagi dirinya sendiri, meski tidak terlalu banyak bisa diharap untuk orang lain. **



–Banten, 2 September 2026


Catatan kaki :
*Judul Tulisan ini diangkat dari kesaksian Sri Eko Sriyanto Galgendu sebagai pesan filsafat spiritual Gus Dur semasa aktif dalam Forum Lintas Agama pada tahun 1990-an di Solo*.
——–

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!