KISAH: SANG PEMBAWA CAHAYA DI LEMBAH, GUNUNG, DAN LAUTAN

KISAH: SANG PEMBAWA CAHAYA DI LEMBAH, GUNUNG, DAN LAUTAN.

Oleh : Wari Wicatman
( Dewan Redaksi Jayanews com )

Di sebuah negeri yang lama dilanda keluh dan bising, hiduplah seorang hamba Tuhan. Ia tidak punya gelar, tidak punya pasukan, dan tidak punya harta. Yang ia punya hanya tongkat kayu tua, bekal sepotong roti, dan satu kalimat yang terus berdenyut di dadanya: “Kembalilah pada cinta yang dari Tuhan.”

Orang-orang memanggilnya “Sang Penyejuk”.

1. Melewati Lembah Keluh Kesah.

Langkah pertamanya jatuh di Lembah Gelisah.
Di sana orang saling mencurigai. Tetangga menutup pintu untuk tetangganya. Anak muda kehilangan arah, orang tua kehilangan pegangan.

Ia tidak berteriak. Ia duduk di pinggir sumur, membantu menimba air untuk seorang ibu yang tangannya gemetar.
“Kenapa Tuan menolong saya? Bukankah kita berbeda?” tanya si ibu.
Sang hamba tersenyum lembut: “Karena kita sama-sama titipan Tuhan. Dan titipan harus dijaga dengan kasih.”

Hari demi hari, lembah yang tadinya dingin mulai hangat. Satu orang memaafkan, dua orang berpelukan. Lembah itu belajar lagi arti kata “tetangga”.

2. Mendaki Gunung Ego.

Dari lembah ia mendaki Gunung Sombong. Di puncaknya para pembesar dan orang kaya duduk di singgasana. Mereka membangun tembok tinggi agar tak terdengar suara rakyat.

Sang hamba tidak membawa senjata. Ia hanya membawa cerita.
Ia bercerita tentang seorang raja yang pernah lapar, tentang seorang miskin yang pernah memberi. Tentang bagaimana gunung setinggi apapun akan runtuh jika fondasinya adalah keserakahan.

“Turunlah,” bisiknya. “Gunung ini terlalu tinggi untuk melihat hati manusia.”
Kata-katanya lembut, tapi menembus batu. Satu per satu, para pembesar turun. Mereka mulai membangun jembatan, bukan tembok.

3. Menyeberangi Lautan Air Mata.

Ujian terakhir adalah Lautan Putus Asa. Di sana kapal-kapal saling bertabrakan karena nakhodanya saling menyalahkan. Perang, fitnah, dan kebencian membuat air laut terasa asin oleh air mata.

Sang hamba naik ke perahu kecil tanpa layar. Ia bernyanyi. Bukan nyanyian perang, tapi nyanyian doa dan harapan.
“Badai ini akan reda jika kita mendayung bersama,” katanya kepada semua kapal.
“Musuhmu bukan manusia di kapal sebelah. Musuh kita adalah gelap yang membuat kita lupa bahwa kita satu nahkoda di bawah langit yang sama.”

Perlahan, dayung-dayung yang tadinya saling memukul, mulai mendayung seirama. Lautan yang tadinya bergolak, menjadi tenang.

PENUTUP: PESAN TANPA PEDANG.

Bertahun-tahun kemudian orang bertanya: “Dengan apa engkau menaklukkan lembah, gunung, dan lautan?”
Ia menjawab: “Dengan cinta. Dengan kata-kata lemah lembut. Dengan mengingatkan manusia bahwa kita semua berasal dari Sumber yang sama.”

Ia tidak pernah memaksa. Ia hanya mengajak.
Dan dari ajakannya itu, tatanan kehidupan berubah. Pasar kembali jujur. Sekolah kembali mengajar adab. Masjid, gereja, pura, dan wihara kembali menjadi tempat orang saling mendoakan, bukan saling menjatuhkan.

Negeri itu tidak langsung menjadi sempurna. Tapi ia menjadi lebih baik. Lebih maju. Karena ada satu orang yang percaya:
Kebenaran tidak butuh pedang untuk menang. Kebenaran hanya butuh satu hati yang berani mencintai.

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar” dan itulah yang ia lakukan, dengan langkah, dengan sabar, dengan cinta.**

Indramayu 2 September 2026.
——-

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!