MENJAGA DAN MERAWAT BUMI, BAGIAN DARI IBADAH DAN RASA SYUKUR KEPADA SANG PENCIPTA

Menjaga dan Merawat Bumi, Bagian dari Ibadah dan Rasa Syukur kepada Sang Pencipta.

Oleh : Wari Wicatman
Dewan Redaksi Jayanews.com

Alam semesta dengan segala isinya bukanlah milik kita secara mutlak. Laut yang membiru, hutan yang menghijau, udara yang kita hirup, dan tanah yang kita pijak adalah titipan. Dalam setiap ajaran agama, merawat titipan itu adalah bentuk cinta kepada Sang Pemberi.

1. Bumi adalah Amanah, Bukan Milik Pribadi.

Tuhan menciptakan bumi dengan keseimbangan yang sempurna. Gunung untuk menahan gempa, pohon untuk menghasilkan oksigen, air untuk menghidupi semua makhluk.
Ketika kita merusak keseimbangan itu, sejatinya kita sedang mengingkari amanah.

Dalam Tulisan Suci Agama, disebutkan:
“Alam adalah cerminan dari Nama dan Sifat Tuhan… Perlakukanlah ia dengan penuh perhatian.”

Artinya, setiap kali kita menanam pohon, membersihkan sungai, atau mengurangi sampah, kita sedang memuliakan “cermin” dari Sang Pencipta itu.

2. Ibadah Tidak Hanya di Tempat Ibadah.

Sering kita mengira ibadah hanya shalat, doa, atau puasa. Padahal ibadah artinya “pengabdian”.
Menyapu halaman masjid, memungut sampah di jalan, menanam sayur di pekarangan, menghemat listrik dan air semua itu ibadah jika diniatkan untuk menjaga ciptaan Tuhan.

“Janganlah menghambur-hamburkan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu.” Kitab-i-Aqdas.
Pemborosan adalah bentuk tidak bersyukur. Sedangkan menjaga adalah bentuk syukur yang nyata.

3. Rasa Syukur yang Diwujudkan dengan Tindakan.

Lisan mengucap “Alhamdulillah” itu baik. Tapi syukur yang paling jujur adalah dengan perbuatan.
Bagaimana kita bisa bersyukur atas air bersih jika kita mencemarinya?
Bagaimana kita bersyukur atas udara segar jika kita menebang hutan sembarangan?

‘Abdu’l-Baha pernah mengingatkan:
“Kita harus menjadi pelindung alam, bukan penakluknya.”

4. Langkah Sederhana Merawat Bumi Sebagai Ibadah.

Langkah Contoh Nyata Makna Ibadahnya.
1. Kurangi : Hemat air, listrik, plastik sekali pakai . Tidak boros , menghargai anugerah Tuhan .
2. Gunakan Kembali : Bawa tumbler, kantong belanja kain Tidak menghamburkan sumber daya
3. Tanam & Pulihkan: Tanam pohon, buat kompos, jaga kebersihan Menyuburkan “ladang” untuk anak cucu
“Perhatikanlah dunia ini seperti ladang yang subur, bersiaplah untuk menabur di dalamnya apa yang akan bermanfaat bagimu di masa depan.” Baha’u’llah

PENUTUP
Menjaga bumi bukan hanya soal isu lingkungan atau perubahan iklim. Ini soal iman.
Ini soal apakah kita benar-benar percaya bahwa semua yang ada adalah milik Tuhan, dan kita hanya dititipi untuk sementara.

Mari mulai dari hal kecil hari ini. Dari rumah kita, dari Indramayu kita.
Karena merawat bumi = merawat ibadah kita.
Dan merawat ibadah = bukti cinta kita kepada Sang Pencipta.

“Bumi ini baik-baik saja. Yang perlu diperbaiki adalah cara kita memperlakukannya.”

Indramayu, 24 Agustus 2026.
——

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!