INDRAMAYU DARUSSALAM : ANTARA MIMPI, WARISAN WIRALODRA, DAN UJIAN KEKUASAAN

*Indramayu Darussalam:*
Antara Mimpi, Warisan Wiralodra, dan Ujian Kekuasaan

Oleh:
*Dr. H. Masduki Duryat, M. Pd.I., CLA., CFLS*
(_Rektor Institut Studi Islam al-Amin Indramayu dan Dosen Pascasarja UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon_)

Pada acara yang diselenggarakan MUI Kab. Indramayu lalu dilanjutkan rapat kerja dan koordinasi komisi, lembaga dan MUI Kecamatan dengan tema besar _“Melangitkan Niat, Membumikan Maslahat”,_ Sabtu 22/08/2026 di Hotel Istana Bangun Jagat Balongan Indramayu, banyak hal yang disepakati terkait dengan program kerja MUI.

Selesai acara, penulis disodori buku oleh _owner_ hotel H. Gorry Sanuri _“Indramayu Darussalam”_, lalu penulis telaah dan baca secara seksama, menarik.

Membaca buku _Indramayu Darussalam: Menapaki Jalan Otonomi Daerah Otobiografi Haji Gorry Sanuri_ karya Soimin, S.H., M.Hum., kita seperti diajak melihat Indramayu dari dua cermin sekaligus: cermin sejarah dan cermin masa depan. Buku ini bukan sekadar otobiografi seorang tokoh, melainkan juga menawarkan sebuah gagasan tentang bagaimana bumi Wiralodra semestinya dikelola: daerah yang kaya sumber daya, tetapi kekayaannya harus bermuara pada kesejahteraan rakyat.

Gagasan _Indramayu Darussalam_ terasa memiliki akar historis yang panjang. Ia seakan menemukan resonansi dengan cita-cita Pangeran Arya Wiralodra sebagaimana termaktub dalam prasasti: _“Nanging benjing Allah nyukani kerahmatan kang linuwih, darma ayu mulih harja tan ana sawiji-wiji_…”Sebuah visi profetik tentang masa depan Dharma Ayu yang makmur, aman, tenteram, rakyat dan pemimpinnya bahu-membahu, serta kesejahteraan menjadi milik bersama.

Dalam perspektif itu, _Darussalam_ bukan sekadar nama indah. Ia adalah proyek peradaban.

Buku ini disusun dalam lima bab. _Bab pertama_; memberikan pengantar mengenai gagasan besar yang hendak dibangun. _Bab kedua_; membawa pembaca mengenal sosok Haji Gorry Sanuri dan kiprahnya di Bumi Wiralodra. _Bab ketiga_; menjadi jantung buku karena menguraikan risalah pemikiran dan tindakan Haji Gorry dalam mewujudkan Indramayu Darussalam. _Bab keempat_; menghubungkan gagasan tersebut dengan agenda yang jauh lebih konkret: pengentasan kemiskinan dan penciptaan kesejahteraan masyarakat. Sementara _bab kelima_; menjadi penutup yang merangkum gagasan dan harapan yang ditawarkan.

Yang menarik, konsep Indramayu Darussalam tidak berhenti pada romantisme sejarah. Haji Gorry menawarkan sejumlah prinsip yang relatif konkret: berorientasi kepada masyarakat, sesuai kebutuhan masyarakat, menghormati adat dan budaya, berwawasan lingkungan, tidak diskriminatif, membangun kemitraan, menjalankan pemerintahan yang bersih, serta menerapkan anggaran berbasis kinerja.

Di sinilah kekuatan sekaligus tantangan buku ini.

Indramayu sesungguhnya memiliki modal yang luar biasa. Laut yang luas dengan kekayaan perikanan dan garamnya, lahan pertanian, kawasan hutan, industri migas dan Pertamina, serta berbagai potensi ekonomi lainnya merupakan natural capital yang tidak semua daerah memilikinya. Secara teori, daerah dengan modal seperti ini seharusnya memiliki kemampuan fiskal dan ekonomi yang kuat. Tetapi kekayaan alam tidak otomatis melahirkan kesejahteraan.

Inilah paradoks pembangunan Indramayu: daerah kaya belum tentu masyarakatnya sejahtera.

Karena itu, pertanyaan terpenting setelah membaca buku ini bukanlah apakah konsep _Indramayu Darussalam_ itu indah. Jelas indah. Pertanyaannya jauh lebih serius: bisakah ia diwujudkan menjadi kenyataan, atau hanya berhenti sebagai konsep politik dan moral—bahkan utopis—belaka?

Jawabannya bergantung pada satu hal: tata kelola.

Sumber daya alam yang melimpah dapat menjadi berkah apabila dikelola dengan amanah, transparan dan berpihak kepada kepentingan publik. Sebaliknya, kekayaan alam dapat berubah menjadi kutukan apabila dikuasai segelintir kelompok, dieksploitasi tanpa memperhatikan lingkungan, atau tidak menghasilkan _trickle down effect_ bagi masyarakat.

Karena itu, prinsip pemerintahan bersih yang ditawarkan buku ini sesungguhnya bukan pelengkap, melainkan fondasi utama. Tanpa pemerintahan yang bersih, anggaran berbasis kinerja dapat berubah menjadi sekadar angka dalam dokumen. Tanpa keberpihakan kepada masyarakat, pembangunan dapat megah di atas kertas tetapi miskin dampak. Tanpa prinsip nondiskriminasi, otonomi daerah justru berpotensi melahirkan ketimpangan baru.

Lebih jauh, _Indramayu Darussalam_ harus diuji melalui indikator yang dapat diukur: apakah kemiskinan turun secara nyata? Apakah pendidikan meningkat? Apakah kesehatan membaik? Apakah petani dan nelayan semakin sejahtera? Apakah lapangan kerja bertambah? Apakah anak-anak Indramayu memiliki masa depan yang lebih baik daripada generasi sebelumnya? Dan yang paling penting, apakah kekayaan alam Indramayu kembali kepada rakyat Indramayu dalam bentuk kesejahteraan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena otonomi daerah pada hakikatnya bukan sekadar memindahkan kewenangan dari pusat ke daerah. Otonomi adalah kesempatan untuk membangun pemerintahan yang lebih dekat dengan rakyat, lebih memahami kebutuhan lokal, sekaligus lebih bertanggung jawab atas nasib masyarakatnya.

Di titik ini, buku karya Soimin tentang Haji Gorry Sanuri layak dibaca bukan hanya sebagai otobiografi seorang tokoh, tetapi sebagai _gagasan yang harus diuji oleh zaman_. Ia menawarkan peta jalan. Namun peta tidak pernah sama dengan perjalanan. Konsep tidak pernah otomatis menjadi realitas.

_Indramayu Darussalam_ baru akan menemukan makna sejatinya ketika lautnya tetap memberikan kehidupan kepada nelayan, sawahnya menyejahterakan petani, industrinya membuka pekerjaan, anggarannya melayani rakyat, pemerintahannya bersih, dan tidak ada lagi warga yang merasa menjadi penonton di tengah kekayaan daerahnya sendiri.

Warisan Arya Wiralodra adalah cita-cita. Gagasan Haji Gorry adalah ikhtiar intelektual dan politik untuk meneruskannya. Tetapi pelaksanaannya merupakan pekerjaan seluruh generasi.

Sebab pada akhirnya, _Darussalam_ bukanlah slogan tentang daerah yang ingin terlihat makmur. Darussalam adalah keadaan ketika rakyat benar-benar merasa aman, dihargai, hidup layak, dan memiliki masa depan.

Dan di sanalah Indramayu akan menghadapi ujian terbesarnya: apakah kekayaan yang dianugerahkan Tuhan akan menjadi berkah bagi rakyat, atau justru hanya menjadi angka-angka dalam laporan pembangunan?


Indramayu, 23 Agustus 2026
——-

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!