*SPIRITUALITAS PENGASAH HATI UNTUK MEMAHAMI MIMPI RAKYAT YANG GELISAH DENGAN PERUTNYA YANG LAPAR*
Oleh: Jacob Ereste_
Banten, 13 Juni 2026
*Spiritualitas Adalah Bingkai Etika*
Spiritualitas adalah pembingkai etika, moral, dan akhlak mulia. Ia menjadi pagar agar manusia tidak membelok menjadi pribadi yang ingkar, pembohong, penipu, berperilaku culas, dan melanggar tatanan adat maupun hukum modern yang disebut etika.
Tanpa spiritualitas, manusia mudah tergelincir. Tanpa etika yang teguh, tidak mungkin seseorang bisa memasuki tatanan moral yang telah diatur oleh rambu-rambu agama yang baik. Agama dengan tegas melarang perbuatan buruk, perilaku tercela, termasuk perlakuan buruk terhadap diri sendiri.
*Dari Etika Menuju Akhlak yang Kukuh*
Pada tahapan berikutnya, moralitas dibangun di atas fondasi etika yang bersih. Dari moral yang bersih inilah lahir akhlak yang kukuh. Akhlak inilah yang membentuk kepribadian mulia dalam satu kesatuan kesadaran yang otentik.
Kesadaran itu membuat seseorang tidak lagi silau oleh pujian, juga tidak runtuh oleh cemoohan. Semua yang dilakukan semata-mata sebagai bentuk kepatuhan pada petunjuk “langit”. Inilah kesempurnaan hidup yang dicari manusia: hidup yang selaras antara pikiran, ucapan, dan perbuatan.
Itulah sebabnya nilai-nilai spiritualitas sangat diperlukan. Agar ketika menjadi makmum, seseorang mampu patuh pada petunjuk dan bimbingan imam yang menuntun ke jalan yang benar dan lurus. Kepatuhan itu bukan kepatuhan buta, melainkan kepatuhan yang lahir dari kepercayaan karena keteladanan.
*Pemimpin: Jangan Hanya Omon-Omon, Harus Jadi Contoh*
Ketika seseorang berada pada posisi sebagai imam atau pemimpin, spiritualitas berfungsi lebih jauh. Ia menjadi kompas agar sang pemimpin bisa menjadi contoh dan teladan yang patut diikuti dan ditaati.
Di sinilah pentingnya memahami makna _sami’na wa atho’na_ – kami mendengar dan kami taat. Kalimat itu bukan hanya untuk rakyat kepada pemimpin. Ia juga pengingat bagi pemimpin: bahwa untuk ditaati, ia terlebih dahulu harus memberi contoh.
Seorang pemimpin tidak cukup hanya “omon-omon” atau pandai berpidato. Ia harus menghadirkan bukti nyata dalam perilaku dan kebijakan. Sebab jika tidak, yang lahir adalah penyangkalan. Rakyat yang terdesak akan melakukan perlawanan. Sejarah mencatat, pemberontakan terjadi bukan karena rakyat suka membuat onar, tetapi karena ada raja yang zalim dan tidak layak disembah.
*”Raja Alim Disembah, Raja Zalim Disanggah”*
Pepatah lama itu tidak pernah usang: _”Raja alim disembah, raja zalim disanggah”_. Ini bukan hanya petuah untuk rakyat sebagai _kawulo alit_ yang memiliki prinsip _sendiko dawuh_. Petuah ini juga tamparan keras bagi sang raja agar tidak lengah.
Seorang raja yang bijak akan terus bertengger terhormat di singgasananya karena ia merakyat. Sebaliknya, raja yang zalim akan ditinggalkan, bahkan dilengserkan. Sejarah Raja Louis XVI di Prancis adalah bukti. Ketika penguasa tuli terhadap rintihan rakyat, kepala di atas singgasana bisa jatuh juga.
*Mendengar Rintihan Perut yang Lapar*
Esensi laku spiritual dibutuhkan oleh semua manusia. Baik oleh _kawulo alit_ maupun oleh “baginda” yang duduk di singgasana kekuasaan. Tanpa kecuali.
Mengapa? Karena nilai-nilai spiritualitas bersifat universal. Ia berfungsi menundukkan egosentrisitas diri yang sering merasa tidak bisa dikontrol siapa pun. Padahal, raja dan ratu yang bijak wajib hukumnya mendengar derita, keluh kesah, dan rintihan rakyatnya.
Rakyat yang tidur sambil mendekap kecemasan, dan pulas bersama perut yang lapar, adalah pengingat paling nyata. Mimpi rakyat bukan mimpi yang muluk-muluk. Mimpi mereka sederhana: perut kenyang, anak sekolah, dan hidup aman.
Jika pemimpin memiliki spiritualitas sebagai pengasah hati, maka ia akan peka. Ia tidak akan menutup mata. Ia akan bekerja, bukan sekadar berjanji.
Karena pada akhirnya, kekuasaan adalah amanah. Dan amanah hanya bisa dijaga oleh hati yang bersih, yang diasah oleh spiritualitas.
,—
![]()
