*Progresif Revolusioner Perlu Dilakukan Dengan Bijak dan Kecerdasan Spiritual*
Oleh : Jacob Ereste
Teriakan revolusi sudah sering diteriakkan oleh para pelaku aksi dan unjuk rasa, karena sudah merasa terlalu sumpek, sehingga menginginkan perubahan besar secara radikal untuk semua sendi kehidupan. Mulai dari politik DPR RI yang tidak lagi menyuarakan derita rakyat hingga masalah ekonomi yang tidak kunjung pulih, sementara korupsi seperti sedang diperlombakan secara besar-besaran. Sementara upaya pencegahan serta pemberantasannya tidak sepadan dengan laju perkembangan budaya korupsi yang semakin mencemari semua sektor kehidupan. Bahkan merangsek jauh memasuki wilayah agama dan pelaksanaan ibadah, karena semua cara telah dihalalkan.
Manipulasi diranah akademik dan kaum intelektual pun seakan menjadi bagian dari persaingan bebas dengan cara membeli ijazah atau pun gelar yang sudah dikemas dalam bentuk instan, sehingga seketika itu juga gelar bisa menghiasi nama untuk semakin memperkuat pencitraan. Lantaran etikabilitas, kapabilitas tak lagi penting menjadi bagian dari kepribadian yang sejati dan otentik.
Gelar akademik, gelar keagamaan, gelar adat bahkan gelar entah berantah arti dan maknanya tidak lagi dianggap kemunafikan, ria dan kejumawahan yang diternak dan dibiakkan untuk mengukuhkan penampilan palsu guna mengelabui pandangan publik yang juga mudah tersihir oleh perilakunya yang seba palsu dan imitasi. Begitulah realitas budaya bangsa Indonesia hari ini, hidup dalam kepalsuan, utamanya bagi pejabat publik berani disumpah dan lebih berani lagi untuk melanggarnya. Karena apa yang diucapkan sekedar formalitas belaka, tidak merupakan sikap dan sifat yang akan menuntun cara cara hidup, cara bersikap dan cara bertindak hingga cara memperkaya diri tak hanya dengan harta kejayaan semata, tapi juga dengan kekuasaan yang dipaksakan dari amanah yang diubah ambisi pribadi dan kelompok — bahkan gang yang dibangun — untuk tetap terus melanggengkan kekuasaan dan kekayaan agar dapat semakin leluasa bisa terus berkuasa.
Pelaksanaan program pembangunan — katanya untuk rakyat — Tek hendak diawasi, justru semakin menyisihkan peran serta masyarakat untuk ambil bagian dalam pelaksanaan pengawasan serta upaya untuk menjaga pelaksanaan proyek apapun yang selalu ditutup dan tidak terbuka untuk diketahui dan diikuti oleh masyarakat agar dapat ikut menyempurnakan hasilnya yang maksimal untuk kepentingan bersama. Karena itu, anggapan nyinyir pada kritik yang disampaikan warga masyarakat berubah dalam bentuk aksi dan unjuk rasa — ketika sudah sampai titik nadir kesabaran terakhir — sehingga revolusi total secara menyeluruh harus dilakukan. Sebab etika, moral dan akhlak dalam pelaksanaan amanah rakyat sudah tidak lagi dapat dipercaya untuk memperjuangkan aspirasi rakyat. Padahal, suara jerit pilu serta dera derita rakyat harus dan wajib disuarakan oleh parlemen yang tidak mandul — tidak ingkar terhadap janji dan sumpahnya ketika menerima amanah dari rakyat.
Perubahan dalam tata kelola pemerintah yang progresif dan revolusioner memang semakin mendesak untuk segera dilakukan agar kerusakan tidak terlanjur menelan banyak korban dan kerugian yang jauh lebih besar harus kita tanggung bersama. Artinya, gerak maju yang pasti dan jelas dengan arah melakukan perbaikan — bila perlu perombakan secara besar-besar — untuk menata masa depan yang lebih baik, lebih bagus dan lebih bersih selaras dengan nilai etika, moral dan akhlak para pelakunya. Okeh karena itu memperbaiki politik, tidak bisa dilakukan lagi oleh politisi, perbaikan pelaksana hukum, tidak lagi bisa dilakukan oleh penegak hukum, demikian juga kebobrokan ekonomi tidak cukup dapat dipercayakan kepada para ekonom semata, sebab kerusakan etika, moral dan akhlak pelakunya hanya mungkin dibimbing oleh kecerdasan dan kearifan spiritual yang meletakkan dasar pemikiran, perencanaan hingga pelaksanaan proyek apapun harus dan patut diorientasikan untuk kebijakan — tak hanya bagi manusia — tapi sebagai bagian dari ibadah dan keyakinan dari keberadaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Maha Mengetahui dan Maha Pembinasa. Karena mulai dari niat, perencanaan serta pelaksanaan dari segenap pembuatan semasa hidup akan menjadi bagian dari kematian yang kelak tidak bisa mungkin bisa dihindari.*#
Anyer, 29 Juni 2026
——–
![]()
