Membangun Asa Pendidikan di Malam Milad: Sinergi Hangat Tutor PKBM Al Zaytun dan PGRI Gantar
INDRAMAYU-JAYANEWS.COM – Sabtu malam, 23 Mei 2026, langit di atas Blok Pilang, Balairaja, Kecamatan Gantar, Indramayu, tampak begitu tenang. Taburan bintang yang berkerlip seolah ikut mengiringi langkah Sri Wahyuni dan Winarsih. Malam itu, dua tutor Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Al Zaytun tersebut membelah kegelapan bukan sekadar untuk menghadiri undangan seremonial, melainkan membawa sebuah misi hati: menyemangati para Warga Belajar (WB) yang menyulap malam penat mereka menjadi panggung pembuktian diri.
Rindu yang Berlabuh di Halaman Masjid
Langkah kaki Sri dan Winarsih tertuju pada halaman Masjid Nurul Ikhsan. Di sana, ratusan pasang mata telah memadati area perayaan Milad ke-3 Paguyuban Gotong Royong Indonesia (PGRI). Namun, pandangan kedua tutor ini langsung tertambat pada sudut kiri panggung. Seulas senyum merekah saat melihat sekelompok ibu-ibu berseragam biru muda yang cerah berseri. Mereka adalah para Warga Belajar dan alumni PKBM Al Zaytun.
“Saya akan *support* dan menyaksikan mereka tampil,” bisik Sri Wahyuni penuh kebanggaan.
Kehadiran sang guru langsung memicu kehangatan. Dari kejauhan, lambaian tangan antusias menyambut mereka. Nurul Rohmah, sang Ketua Kelas B1, bahkan langsung bergegas menghampiri, memberikan salam takzim, dan mengantarkan kedua gurunya ke tempat duduk.
Malam itu, jajaran pendidik PKBM Al Zaytun memang hadir solid. Tampak di antara undangan Ust. Supriyadi, Ust. Turaikhan, Ust. Musta’in Sultoni, dan Ust. Sutar. Bahkan, sosok yang paling sibuk mengondisikan acara dengan jas biru rapinya adalah Ust. Tardi, S.Pd., tutor PKBM yang malam itu bertindak sebagai motor penggerak panitia penyelenggara.
Sinergi Tiga Tahun yang Progresif
Tepat pukul 19.30 WIB, acara dimulai dengan khidmat melalui lantunan basmallah dan lagu kebangsaan *Indonesia Raya* 3 Stanza. Semangat gotong royong kian terasa saat Ketua PGRI, Bapak Pujo Utomo, S.Sos., memaparkan program-program paguyuban. Salah satu program unggulannya adalah pemberantasan buta aksara Al-Qur’an dan istighazah untuk anak-anak serta jemaah masjid, yang asuhan pengajarannya dipercayakan kepada Ust. Musta’in Sultoni, S.Pd. Sebuah bukti nyata bagaimana tutor PKBM melebur dan mengabdi di tengah masyarakat.
Memasuki usia ke-3, PGRI merefleksikan diri sebagai organisasi yang dinamis, progresif, dan kontemporer mengikuti perkembangan zaman. Namun, semua kemajuan itu tetap diikat oleh satu poros utama: *Semangat Nahniyah* (kebersamaan) yang bernilai ibadah semata karena Allah SWT. Puncak kekhidmatan malam itu pun dikunci lewat tausiyah bertenaga dari Ust. Drs. Suherman Sururi, M.Pd.
Kejutan di Balik Tirai Pelaminan
Ketegangan penonton pecah saat kelompok paduan suara ibu-ibu naik ke panggung. Di antara mereka, terselip wajah familier: Ilawati, S.Pd., yang juga merupakan tutor PKBM. Dengan penuh penghayatan, mereka melantunkan lagu *”Tanah Airku”*. Harmonisasi vokal yang kompak sukses memanen tepuk tangan meriah dari seluruh hadirin.
Kemeriahan berlanjut saat MC meminta para tokoh, termasuk Sri Wahyuni, untuk naik ke panggung menyaksikan pemotongan pita. Diwakili oleh Kepala Dusun Pilangsari, Bapak Hendi (mewakili Kuwu Baleraja, Bapak Anton), pita pun dipotong.
*Sret!* Tirai di atas panggung terbuka.*Sebuah Kejutan Estetik:*
Riuh tepuk tangan langsung menggema saat layar terbuka dan memperlihatkan sebuah dekorasi panggung pelaminan pengantin yang sangat indah. Malam itu, PGRI secara resmi meluncurkan lini usaha baru berupa sewa dekorasi pengantin, melengkapi fasilitas sewa kursi, meja, dan *sound system* yang sudah ada sebelumnya untuk kemandirian organisasi.
Selesai acara di panggung, Sri Wahyuni langsung menghampiri barisan ibu-ibu berseragam biru muda. “Ibu-ibu penampilannya keren, dan menghias pelaminannya… *waw*, indah sekali!” puji Sri tulus.
“Siapa dulu dong tutornya, Usth. Sri Wahyuni!” seloroh Bu Poniyam, salah satu Warga Belajar, yang langsung disambut tawa renyah, “Halah, bisa saja,” timpal Sri tersipu.
“Bu, Background Fotonya Warna Apa?”
Ada cerita unik bin menggelitik saat Sri Wahyuni hendak kembali ke kursi undangan. Langkah kakinya mendadak dihentikan oleh seorang ibu yang mengulurkan tangan untuk bersalaman. tanpa basa-basi, ibu itu bertanya, “Bu, persyaratan foto *background*-nya warna apa?”
Sri sempat tertegun dan bingung. *Ibu ini siapa? Bertanya tentang apa?* pikirnya dalam hati.
Melihat kebingungan sang tutor, ibu tersebut tersenyum dan melanjutkan, “Maksudnya persyaratan daftar PKBM, Ustazah.”
Seketika tawa hangat batin Sri membuncah. Ternyata ibu bernama Cori, warga Blok Pilang tersebut, mengenali wajah Sri sebagai tutor PKBM dan memanfaatkan momen berpapasan itu untuk mendaftar sekolah. *Ya Allah, di saat seperti ini ternyata ada saja rezeki berupa calon Warga Belajar,* ungkap Sri dalam hati, bersyukur atas magnet pendidikan yang tak kenal tempat.
Panggung Gembira di Akhir Malam
Menjelang akhir acara, ibu-ibu kembali menggebrak panggung lewat lagu Sunda filosofis berjudul *”Jang”*. Gerakan mereka yang kompak dipimpin oleh seorang dirigen yang tampil luar biasa energik dan variatif.
Suasana semakin “pecah” saat MC kembali memanggil nama Sri Wahyuni untuk naik ke depan memberi semangat. Tak mau asyik sendiri, Sri mengajak rekan-rekan tutor lainnya untuk ikut maju. Halaman Masjid Nurul Ikhsan pun berubah menjadi panggung kebersamaan yang cair, penuh tawa, dan suka cita.
Pukul 21.30 WIB, gema hamdalah resmi menutup malam milad tersebut. Waktu mungkin telah malam, namun para tamu undangan pulang dengan dada yang penuh: membawa kesan mendalam tentang gotong royong, kehangatan pendidikan masyarakat, dan indahnya sinergi yang membumi.***
Pewarta : Sri Wahyuni, S.Pd. (Tutor PKBM Al Zaytun)
——-
![]()
