PKBM Al Zaytun Hidupkan Kembali Semangat Seni Musik Angklung di Gantar


PKBM Al Zaytun Hidupkan Kembali Semangat Seni Musik Angklung di Gantar

Oleh Sri Wahyuni, S.Pd. ( Tutor PKBM Al Zaytun)

Sore yang panas di Gantar, Jumat 8 Mei 2026, tak mampu menghentikan langkah ibu-ibu yang berjalan penuh semangat menuju Blok Balir, kediaman Hasnawati, tutor PKBM Al Zaytun. Di tengah udara yang gerah menjelang petang, mereka datang membawa satu harapan sederhana namun besar maknanya: menghidupkan kembali denyut seni musik angklung yang sempat terhenti.

Satu per satu hadir memenuhi tempat latihan. Ada Winarsih, Umi Umutiah, Sri Wahyuni, para tutor lainnya, alumni seperti Indrawati dan Karni, hingga warga belajar Partinah dan rekan-rekannya. Mereka berkumpul bukan sekadar untuk memainkan alat musik bambu, tetapi untuk merawat kebersamaan, membangun kekompakan, dan menjaga warisan budaya bangsa.

Hari itu menjadi momentum dimulainya kembali pelatihan seni musik angklung setelah sempat diliburkan sejak bulan Ramadan. Program yang berada di bawah kegiatan PIP tersebut memang menghadapi berbagai tantangan. Minat peserta menurun, personel latihan sering berganti-ganti, dan tim angklung yang diharapkan terbentuk dengan matang belum juga terwujud.

Namun di tengah keterbatasan itu, semangat untuk bangkit kembali justru terasa semakin kuat.

Sri Wahyuni, tutor sekaligus Ketua PIP, memberikan arahan penuh motivasi sebelum latihan dimulai. Ia mengajak seluruh peserta untuk tetap istiqamah mengikuti setiap program pelatihan, termasuk seni musik angklung yang dinilai memiliki nilai pendidikan dan kebersamaan yang tinggi.

Diskusi pun berlangsung hangat. Berbagai usulan muncul demi menyelamatkan program agar berjalan lebih efektif. Selama ini informasi latihan hanya beredar di kalangan pengurus. Karena itu, peserta mengusulkan agar pelatihan disosialisasikan lebih luas ke blok-blok warga. Bahkan muncul gagasan agar setiap blok mengirim minimal satu perwakilan untuk hadir latihan secara rutin.

Awalnya, program ini memang dirancang khusus untuk membentuk tim inti dari kalangan pengurus terlebih dahulu. Setelah tim terbentuk kuat dan solid, barulah pelatihan diperluas ke masyarakat. Namun dalam perjalanannya, respon pengurus belum maksimal sehingga tim inti belum benar-benar terbentuk.

Meski demikian, harapan tidak pernah padam.

Perjalanan program seni musik angklung ini sendiri memiliki kisah yang menarik. Sekitar satu tahun lalu, ada donatur PIP yang memberikan dukungan dana untuk pengadaan alat musik. Saat itu, sebagian pengurus sebenarnya lebih menginginkan alat musik marhaban atau terbangan. Namun pembina program mengarahkan agar dana digunakan untuk membeli angklung, alat musik tradisional khas Indonesia.

Keputusan itu sempat menimbulkan keraguan. Angklung terasa asing dibandingkan musik marhaban yang lebih akrab di tengah masyarakat. Akan tetapi, Sri Wahyuni mencoba meyakinkan para pengurus dengan prinsip sami’na wa atha’na (mendengar dan taat terhadap arahan pimpinan), seraya percaya bahwa setiap keputusan pasti memiliki hikmah terbaik.

Untuk menguatkan keyakinannya, ia kemudian mempelajari lebih dalam tentang angklung. Dari berbagai sumber yang dipelajari, ia menemukan bahwa angklung bukan sekadar alat musik biasa. Angklung mengajarkan kolaborasi, disiplin, harmoni, dan kebersamaan karena setiap pemain hanya memegang satu nada sehingga lagu yang indah hanya dapat tercipta melalui kerja sama.

Angklung juga mudah dipelajari oleh siapa saja, dari anak-anak hingga orang tua. Suara bambunya menghadirkan nuansa damai dan menenangkan. Bahkan, permainan angklung memiliki manfaat terapi karena mampu melatih konsentrasi, ketelitian, motorik halus, dan rasa percaya diri.

Lebih dari itu, angklung merupakan warisan budaya Indonesia yang telah diakui dunia dan menjadi simbol persatuan bangsa.

Keyakinan itulah yang akhirnya menguatkan langkah mereka.

Pada masa awal latihan, para peserta sempat menghadirkan tutor musik angklung dari Rumah Angklung Anjatan. Setelah itu latihan dilakukan secara mandiri dengan bimbingan Winarsih, tutor PKBM Al Zaytun yang pernah mengikuti pelatihan dasar angklung sebelumnya. Untuk menambah wawasan, mereka juga belajar melalui video-video YouTube.

Semangat latihan sempat tumbuh begitu besar. Namun seiring kesibukan dan berbagai aktivitas lain, jumlah peserta mulai berkurang hingga akhirnya latihan dihentikan sementara menjelang Ramadan untuk mencari formula terbaik.

Kini, semangat itu kembali dinyalakan.

Walaupun kehadiran peserta belum sepenuhnya maksimal, para tutor, alumni, dan warga belajar tetap optimis membangun tim seni musik angklung yang kuat dan siap tampil. Mereka percaya, sesuatu yang besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dijaga dengan kesabaran dan ketekunan.

Kelak, ketika tim Paguyuban ini sudah matang, para tutor berharap dapat menjalin kerja sama lebih luas bersama PKBM Al Zaytun sehingga seni musik angklung bukan hanya menjadi kegiatan pelatihan, tetapi juga menjadi ruang pendidikan karakter, budaya, dan harmoni sosial.

Dari bambu-bambu sederhana yang digoyangkan bersama, lahirlah pelajaran penting tentang kehidupan: bahwa nada indah tidak pernah tercipta dari satu suara saja, melainkan dari kebersamaan yang saling melengkapi.
Alhamdulillah.**

Indramayu, 9 Mei 2026
——-

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!