Menyegarkan Semangat Kebersamaan PKBM Al Zaytun


Menyegarkan Semangat Kebersamaan PKBM Al Zaytun

Penulis : Sri Wahyuni, S.Pd. (Tutor PKBM Al Zaytun)

Terik matahari siang pada Jumat, 24 April 2026, seakan tak mampu menghalangi langkah-langkah penuh antusias menuju Kedai Empang Bu Mul di Cipancuh Hourgelius, Indramayu. Jalanan Gantar yang memancarkan panas justru menjadi saksi perjalanan 49 perempuan tangguh: para pengurus Paguyuban Ibu-Ibu Peduli (PIP) yang terdiri dari tutor, warga belajar, dan alumni PKBM Al Zaytun—yang datang membawa satu misi sederhana namun bermakna: merawat semangat kebersamaan melalui evaluasi tahunan yang dikemas dengan nuansa berbeda.

Biasanya, evaluasi tahunan identik dengan lembaran program, catatan target, kritik, dan rencana kerja yang serius. Namun tahun ini, PIP memilih jalan lain. Tidak ada tumpukan agenda yang menyesakkan. Tidak ada pembahasan formal yang menguras pikiran. Yang dihadirkan justru ruang santai, tasyakuran, sekaligus apresiasi atas satu tahun kerja sukarela yang telah dijalani dengan penuh keikhlasan.

Hadir dalam kesempatan itu Ketua PIP Sri Wahyuni bersama para tutor lainnya, serta pembina PIP Dewi Nusantari yang mewakili pembina lain yang tengah bertugas. Pertemuan ini bukan sekadar kumpul-kumpul selepas Idulfitri, melainkan sebuah jeda yang sengaja dihadirkan untuk mengembalikan tenaga batin para pengurus yang selama setahun penuh telah bekerja di balik layar, mengurus program, mendampingi warga belajar, dan memastikan denyut kegiatan PIP terus hidup.

Tepat pukul 14.00 WIB, acara dibuka oleh Nur Rohmah, tutor PKBM Al Zaytun, dengan gaya hangat dan penuh semangat. Susunan acara dibuat sederhana, sebagaimana tujuan pertemuan itu sendiri: tidak membebani, tetapi membahagiakan.

Dalam sambutannya, Sri Wahyuni menyampaikan rasa syukur dan terima kasih yang mendalam kepada seluruh pengurus. Satu tahun perjalanan bukan waktu yang singkat. Banyak program telah dilalui, banyak tenaga telah dicurahkan, dan semuanya berlangsung atas dasar sukarela serta rasa memiliki.

“Alhamdulillah, semua program selama satu tahun ini terlaksana dengan sangat baik. Hari ini kita tidak membahas program baru. Kita ingin menikmati kebersamaan dulu, memberi ruang untuk hati agar kembali segar,” demikian kira-kira pesan yang tersirat dari sambutan sang ketua.

Dan benar saja, setelah sambutan usai, suasana berubah menjadi lautan keceriaan.

Ada yang sibuk memilih menu dan menikmati hidangan bersama. Ada yang larut dalam sesi foto, mengabadikan momen langka bersama sahabat seperjuangan. Ada yang bercengkerama sambil tertawa lepas. Sebagian duduk santai di ayunan menikmati semilir angin empang. Sementara di sudut lain, antrean karaoke menjadi magnet tersendiri. Suara demi suara bergantian memecah suasana: Usth. Siti Rohmah, Nur Rohmah, Sriatun, hingga Karni alumni PKBM Al Zaytun tampil mendendangkan lagu dengan wajah sumringah.

“Wuih… asyik ada yang karokean!” celetuk salah satu hadirin disambut gelak tawa yang menular ke seluruh ruangan.

Tak ada sekat antara ketua dan anggota. Tak ada jarak antara tutor, warga belajar, maupun alumni. Semua melebur menjadi satu keluarga besar. Barangkali inilah yang selama ini sulit ditemukan dalam rapat-rapat formal: kebahagiaan yang tumbuh alami tanpa tekanan.

Menjelang pukul 15.30 WIB, acara resmi ditutup dengan hamdalah. Namun beberapa pengurus inti masih bertahan, duduk bersama, mengevaluasi jalannya acara sambil menyaksikan wajah-wajah puas para peserta yang belum ingin segera pulang. Di situlah terselip sebuah kesimpulan sederhana: melihat ibu-ibu bahagia ternyata menghadirkan kebahagiaan tersendiri bagi panitia.

Menariknya, konsep pertemuan santai tanpa muatan program ini sempat membuat Sri Wahyuni dilanda keraguan. Ia mempertanyakan efektivitasnya, apakah ini tidak sia-sia? Apakah tidak membuang waktu, tenaga, bahkan anggaran? Namun setelah mencari berbagai referensi tentang pentingnya refreshing organisasi, ia menemukan satu pemahaman baru: bahwa organisasi tidak hanya membutuhkan target, tetapi juga membutuhkan jeda.

Karena di balik tumpukan tugas, ada manusia-manusia yang bisa jenuh. Di balik tanggung jawab, ada hati yang bisa lelah. Dan di balik rutinitas, ada semangat yang perlu diisi ulang.

Refreshing tahunan bukan sekadar acara jalan-jalan. Ia adalah strategi menjaga kesehatan mental kolektif, mempererat silaturahmi, dan membangun bonding yang tulus tanpa tekanan formalitas. Dalam suasana santai, sekat pimpinan dan anggota luluh. Komunikasi menjadi lebih terbuka. Kekompakan tumbuh bukan karena instruksi, tetapi karena rasa nyaman.

Keputusan itu pun terbukti tepat.

Respons hadirin menjadi penegas bahwa kebersamaan yang sederhana kadang lebih membekas daripada rapat panjang berjam-jam.

“Terimakasih pada Bu Ketua dan tim, atas acara hari ini, semua bahagia… semoga PIP ke depan lebih maju, sukses dan barokah.”

“Terimakasih kepada semua panitia, berkah berlimpah rezekinya untuk semuanya. Aamiin.”

Ungkapan-ungkapan itu bukan sekadar basa-basi. Ia adalah cermin bahwa kebahagiaan kolektif sedang tumbuh di tubuh organisasi ini.

Kini, setelah energi kembali terisi, PIP bersama PKBM Al Zaytun telah menatap langkah berikutnya. Sejumlah program telah disiapkan: bazar produk ibu-ibu hasil kolaborasi PIP dengan PKBM, hingga sosialisasi PKBM kepada civitas Ma’had Al-Zaytun dan masyarakat sekitar sesuai arahan pembina.

Artinya, pertemuan santai ini bukan berhenti pada tawa dan karaoke semata. Ia adalah titik isi ulang sebelum mesin pengabdian kembali bergerak lebih kuat.

Sebab organisasi yang sehat bukan hanya yang sibuk bekerja, tetapi yang tahu kapan harus berhenti sejenak untuk saling menguatkan.

Dan di Empang Bu Mul siang itu, keluarga besar PIP telah membuktikan bahwa menjaga kekompakan bisa dimulai dari hal paling sederhana: duduk bersama, tertawa bersama, lalu pulang dengan semangat yang sama untuk terus membersamai perjalanan PKBM Al Zaytun menuju karya yang lebih bermakna.**


Indramayu, 27 April 2026
——-

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!