*MUSCAB PKB INDRAMAYU 2026, AMRONI, S.IP. DAN TARGET ELEKTORAL PKB PEMILU 2029*
Oleh : H. Adlan Daie
Analis politik, Sekretaris Umum MUI kab Indramayu
Yang “sexi” dan menarik dari gelaran Muscab PKB, yakni forum Musyawarah tertinggi tingkat Cabang PKB indramayu 18 April 2026 di Ballroom hotel Swess Belinn Indramayu tentu bukan lagi tentang dinamika kandidasi dan suksesi calon ketua DPC PKB Indramayu.
Pasalnya, sistem pemilihan ketua PKB di semua tingkatan telah bertransformasi ke skenario pemilihan bersifat “demokrasi terpimpin” dari “pusat”, jauh dari riak riak dinamika politik – boleh jadi ada aktivis PKB yang “sakit gigi” karena menyempit ruang “speak up” politiknya.
Dalam perspektif penulis setidaknya ada dua “highlight” atau titik sorot menarik untuk dibedah dari sambutan Amroni, S.IP, ketua DPC PKB Indramayu – yang juga wakil ketua DPRD indrmayu di forum Muscab tersebut tentang “political effort”, daya dorong menginjeksi power PKB dalam proyeksi target pemilu 2029.
Yaitu tentang urgensi kekuatan struktural sistemik PKB Indramayu sebagai partai kontestan pemilu dan korelasi dampaknya terkait “elektoral targetting”, target elektoral PKB dalam konversi sebesar 15 kursi DPRD Indramayu – yang berarti PKB Indramayu memproyeksikan target potensial menjadi pemenang pemilu 2029.
Pertanyaannya bukan tentang “mungkinkah” target itu bisa dicapai karena dalam dictum Otto Van Bismoch “Politics is the art off possible”, politik memang ruang “kemungkinan” elastis tapi tentang bagaimana kerja kerja orkestrasi politik dikonstruksi untuk membuka jalan terukur mencapai target politik 15.kursi.DPRD tersebut.
Dengan kata lain, dalam teori “Political Imagined Communities” Bend Anderson, bahwa kerja politik memang tentang imajinasi target politik masa depan partai sebagai strategi bukan saja untuk “survival rating”, kemampuan bertahan tapi kekuatan imajinasi untuk daya lompat elektoral yang hendak dicapainya dalam proyeksi pemilu.
Inilah kerja strategi politik tidak sederhana memproyeksikan secara teknokrasi politik untuk mencapai target 15 kursi DPRD indramayu tersebut – bahkan jika PKB keliru mendiagnosis romantisme capaian elektoral dalam pemilu 2024 yang lalu, bisa menjadi elektoral “floating”, suara mengapung yang membuka ruang kemungkinan bermigrasi “ke lain hati”.
Variabel keunggulan PKB sebagai “party id”, sebuah kekuatan basis subkultur politik yang tidak dimiliki partai lain, yakni basis subkultur politik akar rumput warga Nahdiyin yang dirancang bangun dalam konsolidasi infra struktur politik terstruktur, sistemik, massif dan rapi secara birokrasi politik tentu variabel sangat penting.
Tapi konsolidasi struktural ansich tidak memadai untuk menaikkan trend elektoral PKB secara eksponensial kecuali sesekali melakukan manuver “taktis” dan effect kejut politik dengan melakukan “speak up” politik di ruang ruang publik untuk mendekatkan gestur politik PKB terhadap konteks isu isu publik lokal
Rejim politik elektoral saat ini berdasarkan sejumlah riset politik elektoral meniscayakan PKB harus hadir tidak “usual”, rutin dan datar melainkan sesekali dengan hentakan hentakan politik di ruang publik, mampu mentransformasikan komunikasi politiknya dalam keakraban percakapan politik di luar basis “party id” PKB.
Dalam temuan survey Nasional lembaga survey “Poltracking” (edisi awal April 2026) PKB di posisi empat besar (8,06%), di bawah Partai Golkar (9,09%), PDIP (15,1%) dan partai Gerindra melesat sebesar 26% – dari 13% pada pemilu 2024.
Dalam konteks PKB potret survey 8% di atas, artinya pemilih PKB sebesar 2% belum menentukan pilihan ke PKB lagi seperti capaian PKB pemilu 2024 sebesar 9,8% . Angka 2 % pemilih secara nasional hampir sama dengan 4 juta pemilih.
Dalam konteks Indramayu, PKB sebagai “party id” daya tumpu terbesar basis elektoralnya adalah “warga NU” secara amaliyah kultural keagamaan seperti tahlil, ziarah kubur, qunut di sholat shubuh, dll sebesar 82% tapi dalam kategori “simpatisan NU aktif” sebesar 26% (data survey “Indekstart”, 2020).
Angka 26 % tersebut tersebar dalam simpul simpul aktif komunitas sosial pesantren jaringan NU, sekolah sekolah NU, madrasah, majelis taklim, masjid, jaringan penyuluh agama dan biro jasa bimbingan haji dan umroh.
Artinya, simpatisan aktif NU di atas adalah “lapak elektoral” PKB sebagai “party id” yang dilahirkan oleh NU penting dieksplore menjadi basis maksimal kekuatan inti elektoral PKB. Capaian PKB Indramayu pada pemilu 2024 sebesar 18% secara elektoral masih terbuka ruang mendekati kekuatan basis sosialnya sebesar 26% di atas.
Strategi kekuatan caleg betapa pun dengan sistem proporsional “terbuka” harus diletakkan dalam relasi branding elektoral PKB. Makin kuat branding elektoral PKB makin mudah caleg yang diusungnya mengambil manfaat elektoral PKB sekaligus caleg menjadi variabel komponen penting daya dongkrak di luar “party id” PKB.
Itulah prasyarat untuk membuka jalan mencapai target elektoral di atas merujuk pada variabel index Jeffry Wonters, yaitu menyatunya “political of mind” (politik gagasan dan pilihan isu), “political behavior” (kekuatan ekosistem politik dan logistik turunannya) dan “skill politics” (ketrampilan politik) dalam satu frame orkestrasj politik.
Selamat untuk Muscab PKB Indramayu 2026 meskipun pemilu 2029 masih menyisakan waktu sangat memadai, semoga momentum Muscab menjadi titik kick off membuka jalan spirit memenangkan proyeksi pemilu 2029 untuk level DPRD Indramayu.**
Indramayu, 26 April 2026
Wassalam
—–
![]()
