Prawacana Tentang Buku DR. Masduki Duriyat, Guru Dan Ironi Negeri Tanpa Nurani : Perspektif Miniatur Indramayu?

*PRAWACANA TENTANG BUKU DR. MASDUKI DURIYAT, GURU DAN IRONI NEGERI TANPA NURANI : PERSPEKTIF MINIATUR INDRAMAYU*


Oleh : H. Adlan Daie
Analis politik, Sekretaris Umum MUI Kab Indramayu.


Buku Dr. Masduki Duriyat, seorang akademisi Indramayu Jawa Barat (akan segera terbit) berjudul “Anggaran Menggelegar Guru Menghilang, Ironi Negeri Tanpa Nurani”, mengadopsi teori filsafat pendidikan Ki Hajar Dewantoro, memberi perspektif tentang ironi guru sebagai “sukma” kekuatan pendidikan

Dulu Ki Hajar Dewantoro, bapak pendidikan kita, menyebut guru adalah kekuatan “sukma” pendidikan – kini hanya tampak kamuflase poltik, menggelegar dan nyaring di musim kampanye, lalu tertimbun dalam patguligat kepentingan pilihan pragmatisme politik.

Bahkan, Mulan Jamilah, seorang artis “pesohor” – kini Anggota DPR RI, notabene tidak memiliki portofolio pendidikan memadai, malah begitu pongah dan jumawa meminta “para guru jangan hanya menuntut kenaikan gaji tapi perbaiki kualitasnya”, ketusnya.

Buku ini setidaknya dalam “insight” penulis satu sisi menunjukkan konsistensi tentang “passion” dan minat Dr. Masduki Duriyat sebagai praktisi pendidikan begitu tekun mengamati detil tali temali dan “rantai pasok” problem pendidikan

Di sisi lain sebentuk “perlawanan sunyi” dan kegelisahan intelektual atas praktek pendidikan, hanya menggelegar dalam anggaran tapi peran guru sebagai kekuatan “sukma” pendidikan menghilang dalam maintream kebijakan pendidikan

Inilah pesan yang hendak dikirim buku ini tentang sukma guru yang menghilang, ironi sebuah negeri yang disebutnya dalam power diksi “tanpa nurani”. Guru bukan pilihan prioritas, tidak penting dalam proritas pilihan pragmatisme politik.

Puluhan ribu kepala dapur MBG diangkat menjadi PPPK saat ribuan guru honorer menjerit bertahun tahun dalam pengabdiannya di dunia pendidikan. Ironi sebuah negeri tanpa nurani.

Dalam konteks miniatur indramayu sebagai bagian dari lanskap Indonesia, Dr. Masduki Duriyat yang lahir dan bertumbuh di Indramayu dalam tulisan tulisan “lepas” di berbagai media “online” dan rutin diupload di media sosial “Facebook” banyak mengangkat problem kultural dan sosial pendidikan di Indramayu.

Sebagai illustrasi, tulisannya tentang “Kutukan Sumber Daya Di Indramayu : Kaya Alam, Miskin Pendidikan (koran “intijaya”, 9/3/2026) dan tulisannya tentang “Kepala Sekolah Tanpa Peminat, Alarm Kegagalan Tata Kelola Pendidikan Daerah” (“jayanews”, 18/3/2026) adalah hentakan kegelisahannya tentang masa depan Indramayu.

Dalam update data Badan Pusat Statistik (BPS) akhir tahun 2025 kegelisahan Dr. Masduki Duriyat di atas secara kuantitatif diaffirmasi dalam sejumlah variabel rendahnya kualitas sosial masyarakat Indramayu menjadi hambatan mobilitas sosial masa depan Indramayu

Indramayu di posisi paling “buncit” dari 27 kab/kota di Jawa Barat dalam dua variabel penting, yaitu “rata rata lama sekolah” penduduknya paling rendah di Jawa barat, hanya 7,06 berkorelasi dengan “indeks daya saing” Indramayu paling lemah di Jawa barat dari 27 kab/kota, hanya 3,8.

Dampaknya dalam teori sosial makro Prof Soedjatmoko, mantan Rektor Universitas PBB Tokyo, Jepang (1982) adalah :

“Sebuah bangsa dengan rata rata pendidikan penduduknya rendah akan sulit kompetitif untuk sejahtera, sulit memberi dampak pada kualitas kemajuan masyarakat, termasuk indeks kematangan demokrasi”, tulis Prof. Soedjatmoko..

Dampak turunannya secara demografis dua variabel data BPS di atas berkorelasi langsung dengan tingginya angka kemiskinan di Indramayu, sebesar 11,02 (data BPS 2025), tertinggi prosentasenya di Jawa Barat, sebuah paradoks bagi indramayu yang dikaruniai kekayaan alam berlimpah ruah

Itulah sedikit insight penulis terhadap buku Dr. Masduki Duriyat dengan judul di atas yang akan segera terbit tentang ironi guru sebagai sukma kekuatan pendidikan menghilang dalam maintream kebijakan pendidikan di Indonesia, tak terkecuali dalam miniatur sosial Indramayu sebagaimana tergambar dalam data BPS di atas.

Rejim politik selalu berganti setiap musim pemilu dan pilkada. Orang yang diberi kuasa politik datang dan pergi silih berganti. Otoritas kewenangan bukan jalan tunggal menumbuhkan kesadaran pentingnya basis pendidikan sebagai modal daya saing mobilitas sosial Indramayu

Karena itu, adalah tanggung jawab partisipatisi kolektif seluruh “kelas menengah” (praktisi pendidikan, ulama, gerakan ‘civil society” Indramayu) untuk diwariskan bagi generasi masa depan Indramayu.**

Wassalam

Indramayu, 22 Maret 2026
——

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!